0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
10592712_10204278233817848_3881005233918468798_n

Rooang.com | Lansekap yang apik sekaligus arsitektur yang unik bergabung menjadi satu di sebuah bangunan peribadatan umat Katolik di Kediri, Jawa Timur ini. Ialah Gereja Puh Sarang atau Pohsarang, sebuah Gereja Katolik Roma di desa Puh Sarang, kecamatan Semen, Kediri, di kaki Gunung Wilis.

Bangunan ini berdiri sebagai inisiatif dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek ternama Henri Maclaine Pont pada tahun 1936. Sebelumnya, Pont sendiri menangani pembangunan museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. Sehingga tak heran jika bangunan Gereja Puh Sarang ini mirip dengan bangunan Museum Trowulan.

Keindahan arsitektur gereja ini tak bisa dilepaskan dari kedua tokoh tersebut. Pont sangat pandai dalam membentuk keindahan bangunan gereja sebagai manifestasi kebudayaan Jawa; sementara Romo Wolters memberikan makna mendalam yang diwujudkan sebagai simbol-simbol untuk katekese iman Katolik.

Memasuki kompleks Puh Sarang serasa memasuki sebuah candi dengan banyak batu. Kali Kedak, sebuah sungai yang membelah Puh Sarang, memang penghasil batu kali yang berbentuk bulat lonjong. Penggunaan material yang mudah didapat dari daerah sekeliling tapak memperlihatkan bahwa Sang Arsitek mengedepankan prinsip lokalitas dalam perancangan Gereja Puh Sarang.

10513392_10204278228457714_1142623706868718972_n

10592981_10204278240218008_4388578682637322913_n

Gereja Puh Sarang dipenuhi dengan simbolisme keagamaan yang kental, sama seperti tempat ibadah apa pun di dunia. Hanya saja, simbol-simbol tersebut diolah dengan pendekatan budaya setempat dan filsafat agama dipadukan dalam bentuk arsitektur dengan serasi. Dapat dilihat dari Gedung Serba Guna Emaus Puh Sarang yang sangat unik, menyerupai sebuah perahu dan gunungan, dengan struktur dan arsitektur mirip Gereja Puh Sarang. Atapnya memakai bentangan baja tanpa rangka kayu di bagian atap seperti lazimnya bangunan Jawa yang lain, dipadu dengan bentuk genting yang khas pula.

10559965_10204278228337711_8785612721878384639_n

Skylight Salib di Gereja Pohsarang Kediri

10347399_10204278237497940_943148674315813994_n

10313701_10204278239817998_2754003100999001678_n

10527631_10204278239177982_3291207966312966179_n

10569009_10204278241898050_4103208463189919619_n

1970585_10204278242858074_9138043831364729500_n

10502075_10204278244378112_2694425321022583880_n

Bangunan induknya memiliki atap berbentuk seperti cupola atau kubah. Di atas atap dipasang salib, pada ujung atap dipasang gambar simbolis keempat pengarang injil yang juga menunjukkan keempat arah mata angin. Atap bangunan yang berbentuk gunungan itu dibentuk dari empat lengkungan kayu yang ujung simpangnya merupakan bagian pengunci. Lengkungan itu menyangga suatu jaringan kawat galvanis, yang di atasnya dipasang genting-genting, yang akan bereaksi dengan tenang dan memantul pada setiap tekanan angin. Bentukan atap pada bangunan utamalah yang mendominasi tampilan massa bangunan secara keseluruhan.

10568881_10204278252618318_7220517976283687172_n

Romo Jan Wolters CM berhasil mewujudkan sebuah gereja megah nan indah, sebuah gereja dengan nuansa Jawa, sebuah gereja yang menuntun manusia-manusia di sekelilingnya beribadah kepada Tuhannya. Tak dapat dipungkiri, Gereja Puh Sarang merupakan klimaks dari sebuah desa. Gereja ini menjadi landmark dan point of interest desa Puh Sarang.