Tektonika dan Arsitektur Indonesia

10384522_10203789081078119_1083582058563728105_n

Rooang.com | Mendengar istilah tektonika, banyak yang menyandingkannya dengan gempa tektonik. Namun ternyata istilah tektonika dalam arsitektur memiliki makna yang berbeda. Terlebih Arsitektur Indonesia dengan segala kebhinekaannya, tak akan terlepas dari unsur tektonika. Apa, atau siapakah tektonika ini?

Dalam perkembangan kegiatan bangun membangun, biasanya akan diarahkan pada Yunani sebagai pusat bermulanya kegiatan ini dipandang sebagai ilmu. Dan pada kiblat ini pula, muncul berbagai pandangan awal mengenai arsitektur, terlebih tektonika. Awalnya arsitektur dipandang sebagai proses memikul dan dipikul, atau hanya berpusat pada elemen struktural. Namun di kemudian waktu disadari hadirnya unsur lain. Ketika arsitek sibuk menerapkan kata “harmonis” “selaras” pada susunan strukturnya, disinilah hadir kata keindahan.

10450585_10203789149999842_4799014338781825133_n

10415713_10203789075997992_727389310974960228_n

Secara etimologi, tektonika berasal dari bahasa yunani, tekton, berarti tukang kayu atau builder. Pada kata kerja adalah tektainomai¸ yang berarti kriya, atau ketukangan, dan pada seni penggunaan kapak. Namun istilah ini muncul pertama pada bahasa Sappho, dimana tekton adalah tukang kayu yang berperan pada unsur seninya. Secara umum, tektonika, adalah yang pada proses pembuatannya menyertakan ide-ide puitis yang diasosiasikan dengan mesin, alat, teknologi, dan pembuatan-pembuatan hal, dan pembentukan material.

Dari berbagai perdebatan panjang filsuf Yunani mengenai tolak ukur keindahan, Thomas Aquinas merangkumnya dengan indah: Pulchrum Splendor est Veritatis. Yang bermakna, keindahan adalah pancaran kebenaran. Maka tak elak tektonika menjadi ilmu yang mencoba mengaitkan kebenaran sebagai sumber pancaran keindahan. Secara sederhana tektonika adalah, the art of construction.

10382776_10203789302843663_1421669332993536346_n

10441070_10203789305283724_4879580599843012060_n

Menengok sejarah perkembangan arsitektur nusantara, tentunya akan dihiasi dengan ragam tektonika. Unsur-unsur hias yang menghiasi elemen struktural dengan falsafah kebenaran menjadi pancaran keindahan arsitektur nusantara. Hal ini tak lepas dari kemahiran sang tukang bangunan yang dengan lihainya mengukir, memahat, dan membangun sebuah arsitektur. Namun ternyata, selain unsur utama tektonika, yakni Seni dan Struktur. Tektonika Nusantara dihiasi dengan cerita sejarah pada setiap ragamnya. Hal inilah yang menjadikan keduanya terikat satu sama lain.

Unsur pertama adalah material. Olah tektonika tidak lepas dari jenis material yang digunakan. Umumnya, arsitektur nusanatara adalah berbahan dasar kayu, hingga kemudian berkembang dengan bambu, batu dan batu-bata. Hal ini tercermin jelas pada wajah rumah adat nusantara. Pada perkembangannya ketika era industri merebak, material beton mulai hadir. Sehingga kemudian bangunan-bangunan dengan gaya kolonial, gaya jengki, hadir di Indonesia.

10464058_10203789277083019_7859950118991708379_n

10442516_10203789313363926_278632901226401601_n

Unsur kedua adalah ragam hias. Kebhinekaan budaya Nusantara tergambar melalui pembangunan rumah adat pada masing-masing daerah. Kemahiran masyarakat pada jaman dahulu untuk menyesuaikan bentuk bangunan, pola struktur, dan ragam hias, sesuai dengan kondisi iklim setempat, dan kebudayaan sukunya. Menginjak masa modern, rumah adat telah tersebar di berbagai daerah yang bukan tempat asalnya. Misalnya kita menemui bangunan dengan arsitektur khas Bali yang berada di pulau Jawa. Hal tersebut tentu tak terlepas dari tafsiran kita mengenai bentuk bangunan, pola struktur, dan ragam hiasnya. Selain itu, pada umumnya ragam hias yang diaplikasikan memiliki falsafah tersendiri, sehingga unsur ini pun juga mampu menyibak sejarah budaya bangsa Indonesia.

Ragam Hias Toraja pa'tedong

Motif Bunga Gundur Batak Karo

Unsur ketiga adalah ketukangan. Semenjak era industrialis, pembuatan bata secara manual ditinggalkan. Moda ukiran kayu ditinggalkan. Pemahatan batu pun telah samar-samar terbelakang. Karena unsur efisiensi yang diutamakan, pembuatan material secara mesin pun tak terelakkan. Arsitektur Indonesia pun mulai diwarnai bangunan-bangunan masif yang tak tersentuh keahlian tukang-tukang Bangsa. Namun kini, critical regionalism mulai marak dibicarakan. Keahlian setiap daerah untuk membuat identitas arsitekturnya mulai bangkit kembali, dengan trigger Venice Biennale lalu yang mengusung Absorbing Modernity.

10345781_10203789168400302_6863699423388936457_n

Pada akhirnya, tiba pada manifesto Renzo Piano yang luar biasa, “An architect must be a craftsman. Of course any tools will do. These days the tools might include a computer, an experimental model, and math. However, it is still craftmanship – the work of someone who doesn’t separate the work of the mind from the work of the hand. It involves a circular process that draws you from an idea to a drawing, from a drawing to an experiment, from an experiment to a construction, and from construction back to an idea again.”

Untuk kembali ke era permainan tektonika yang mampu melahirkan identitas arsitektur yang kaya akan budaya.

pemukiman-waerebo-tradisional

10299510_10203789346884764_6459571246624048813_n

 

Sumber:

Frampton, Kenneth. 1995. Studies in Tectonic Culture. London: MIT Press

Mangunwijaya, Y.B. 1988. Wastu Citra: Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektural. Jakarta: Gramedia.

Serta Kuliah-kuliah oleh Prof. Josef Prijotomo

 

Sumber Gambar:

Dokumentasi Pribadi

http://gayonusantara.blogspot.com/

http://karonusantara.blogspot.com

htpp://sightsworld.com/

#DESIGNYOURSPACE

START A PROJECT

GET OUR BEST IN YOUR INBOX