0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Andreas-Froese

 

Rooang.com | Botol bekas untuk konstruksi rumah? Ya, sulit membayangkan botol bekas sebagai pengganti bata. Tapi, bagaimana jika botol tersebut diisi dengan lumpur atau pasir? Bisa jadi bata kalah kuat. Bahkan, penggunaan material botol ini punya manfaat lebih banyak.

Proyek ini pertama kali dicetuskan pada 2001 oleh lelaki berkebangsaan Jerman, Andreas Froese. Ia mendirikan ECOTEC sebagai wadah untuk berkreasi dengan memanfaatkan botol PET, sisa reruntuhan dan tanah sebagai bahan bangunan.

Saat melakukan perjalanan ke Amerika Selatan, Andreas yang seorang environmentalis ini mendapat gagasan. Matanya dibukakan saat menjumpai banyak orang miskin di sana. Ia berkesimpulan bahwa orang-orang miskin itu tidak hanya butuh makanan sehat dan pendidikan yang baik, tapi juga rumah untuk berlindung. Ia pun tergugah untuk membangun rumah murah.

sandfilledbottler

Sebagai proyek eksperimentasi, ia mencoba menggunakan botol PET bekas sebagai material bangunan rumah. Ia bekerja sama dengan berbagai LSM juga lembaga pemerintahan di berbagai negara Amerika Latin, seperti Honduras, Bolivia, Kolombia, juga Meksiko. Gaung aktivitasnya terdengar kuat hingga mancanegara dan menginspirasi orang-orang di Afrika, semisal Uganda dan Nigeria, untuk membangun rumah dari botol PET bekas.

Proses pembuatannya sendiri cukup mudah. Mulanya, botol-botol PET bekas diisi dengan pasir. Botol-botol tersebut kemudian disusun dan diikat dengan kawat atau tali nilon pada bagian lehernya. Lantas, direkatlah dengan adonan tanah liat atau semen.

Andreas Froese menjelaskan langkah-langkahnya melalui video di bawah ini.

Lantas, sekuat apa bangunan rumah dari botol plastik ini? Andreas mengklaim botol plastik berisi pasir ini lebih kuat dari bata biasa. Selain itu, ia tahan peluru, tahan api, tahan banjir, juga tahan gempa. Bahkan, pada wilayah yang terkena gempa hingga berkekuatan 7,3 skala richter, rumah-rumah daur ulang ini tetap kokoh berdiri. Di daerah yang terkena banjir pun, rumah model ini tidak roboh. Maka, di daerah yang rawan bencana, rumah model ini bisa jadi alternatif yang cukup ideal.

Selain itu, untuk wilayah tropis, rumah model ini bisa diandalkan karena suhu di dalam ruang yang bisa dipertahankan hingga 18 derajat celcius. Sejuk, bukan?

Bagaimana dari segi biaya? Rumah daur ulang dari botol plastik ini ditengarai hanya menghabiskan sepertiga biaya dari pembangunan rumah biasanya. Jika untuk membangun rumah seluas 6m x 10 m membutuhkan biaya Rp120.000.000,-, maka rumah botol plastik ini hanya membutuhkan sekitar Rp40 juta saja!