Dilarang Bersedih di Museum Tsunami

139

Rooang.com | 26 Desember 2004 benar-benar meninggalkan jejak duka bagi Aceh. Ketenangan pagi dirobek oleh tsunami mahadahsyat. Lebih dari 500.000 nyawa terenggut. Anak terpisah dari orangtuanya. Suami terpisah dari istrinya. Rumah-rumah hancur dilibas terjangan air. Gedung-gedung pun rusak parah. Pilu menyeruak di mana-mana.

Peristiwa itu membekas kuat di ingatan para korban dan para saksi kedahsyatan tsunami. Bantuan mengalir dari segala penjuru. Namun, kesedihan itu tak jua terhapuskan. Ia terukir jauh di kedalaman hati.

Jangan sampai tsunami jadi peristiwa yang berlalu begitu saja. Ia perlu diabadikan. Bukan untuk mengabadikan kesedihan dan membuat orang berlarut-larut dalam keputusasaan. Bukan. Tapi, untuk menjadikannya sebagai pembelajaran untuk generasi sekarang dan mendatang. Maka, untuk mengenangnya, Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Pemerintah Kota Banda Aceh, serta berbagai pihak terkait pun sepakat untuk membangun museum.

Sayembara pun diadakan untuk menentukan desain terbaik museum tsunami ini. Ujungnya, jasa konsultan yang dipimpin Ridwan Kamil (kini Walikota Bandung), Urbane Design, terpilih sebagai jawara. Tidak hanya visual interior dan eksterior yang diajukan. Secara fungsional pun, museum ini diproyeksikan bisa menjadi tempat mengungsi warga jika tsunami kembali terjadi.

Desain Museum Tsunami Aceh ini mengambil inspirasi dari Rumoh Aceh, rumah tradisional orang Aceh yang berbentuk panggung. Dibangun di atas lahan seluas 10.000 meter persegi, museum yang berbentuk kapal – jika dilihat dari luar – ini memiliki struktur empat lantai. Luasnya mencapai 2.500 meter persegi dengan dinding melengkung yang ditutupi relief geometris, mirip episentrum gelombang laut jika dilihat dari atas. Di atasnya sebuah mercusuar tegak berdiri.

Lantai pertama museum ini berupa ruang terbuka yang disebut escape hill. Dari penamaannya, bagian ini memang dirancang sebagai tempat menyelamatkan diri andai sewaktu-waktu terjadi banjir atau tsunami. Bagian yang berbentuk bukit ini juga disebut the hill of light karena menjadi lokasi bagi para pengunjung untuk meletakkan karangan bunga, demi mengenang para korban.

Eksterior bangunan museum pun merupakan upaya penerjemahan dari unsur tradisional Aceh, yakni Tarian Saman. Tarian yang telah mendunia ini merupakan cerminan hablumminannas, yakni konsep dalam Islam mengenai hubungan antaramanusia. Konsep ini didistilasi ke dalam pola fasade bangunan.

Jika masuk ke dalam museum, pengunjung melalui lorong sempit nan gelap di antara dua dinding air yang tinggi. Dinding air ini mengeluarkan suara gemuruh yang memelan dan tetiba mengencang. Suara azan juga menyelinginya. Suasana kepanikan saat tsunami akan serta-merta hadir di benak pengunjung. Bagian ini disebut juga space of fear alias lorong tsunami.

Lanjut berjalan, pengunjung akan memasuki ruang kenangan alias space of memory. Di sini, pengunjung bisa mengakses segala informasi terkait tsunami dengan 26 monitor yang tersedia. Ada 40 foto, gambar, dan lokasi bencana yang ditampilkan dalam bentuk slide.

Ruang berikutnya dinamakan The Light of God. Ruangan ini berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya remang kekuningan. Pada puncak ruangan terdapat kaligrafi dengan tulisan ALLAH dalam sebuah lingkaran. Ini adalah simbol dari habluminnallah, yakni konsep dalam Islam mengenai hubungan manusia dengan Allah. Ruangan yang dindingnya dipenuhi nama para korban tsunami ini juga menjadi akses menuju lantai dua.

Di lantai dua terdapat ruang-ruang multimedia, seperti ruang audio dan ruang empat dimensi, ruang pamer tsunami, yang meliputi: ruang pra-tsunami, ruang tsunami, serta ruang pasca-tsunami.

Adapun lantai tiga museum ini diisi dengan fasilitas, seperti: ruang geologi, perpustakaan, musala, dan suvenir. Sementara itu, lantai teratas difungsikan sebagai escape building alias ruang penyelamatan diri seandainya tsunami terjadi di masa mendatang. Dari tingkat ini, lansekap kota Banda Aceh bisa terlihat.

Museum ini terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda dekat Simpang Jam dan berseberangan dengan Lapangan Blang Padang kota Banda Aceh. Pembangunan museum ini telah menghabiskan anggaran mencapai 140 miliyar rupiah.

Jika Anda berkunjung ke Aceh, sempatkanlah mampir di museum ini. Tapi, jangan sampai larut dalam keharubiruan. Aceh membutuhkan energi dan semangat membangun yang lebih tinggi. Bukan kesedihan. Bukan ratapan. Juga bukan kepataharangan.

 

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Tsunami_Aceh

http://museumtsunami.blogspot.com

http://www.esdm.go.id

http://visitaceh2014.wordpress.com

#DESIGNYOURSPACE

START A PROJECT

GET OUR BEST IN YOUR INBOX