Mumpung di Bali, Main Yuk ke Museum Kain!

11

Rooang.com | Bali masih menjadi destinasi liburan favorit kaum urban. Bagaimanapun, pilihan destinasi yang beragam, dari wisata alam, kuliner, budaya, reliji, bahari, olahraga, hingga belanja ada komplet di sana. Itulah daya tarik Pulau Seribu Pura tersebut.
Namun, jika Anda ingin menikmati liburan yang sedikit berbeda, Anda bisa berkunjung ke Museum Kain. Museum berteknologi canggih ini terletak di Paviliun Alang-alang Lantai 3, Beachwalk, Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Adalah Josephine W. Komara atau biasa dipanggil Obin. Ia telah lama dikenal sebagai perancang dan pembuat batik. Dia pulalah pemilik museum yang memamerkan koleksi kain tua ini. Namun, perancang arsitektur dan interiornya adalah Yusman Siswandi, iparnya Obin.

Museum ini memang berada di mal yang notabene citranya kuat melekat dengan kaum urban. Mungkin bagi beberapa orang menyisakan pertanyaan, “Kok, di mal?” Tapi, Obin memang punya idealisme bahwa kain tidak mengenal sekat tradisional dan modern. Ia bisa terus eksis sepanjang zaman.

Museum yang menyajikan berbagai elemen interaktif ini menjadi rujukan tempat bagi anak-anak muda juga dewasa untuk mempelajari warisan tekstil Indonesia. Suasana nyaman, sejuk, seni, visual, sarat informasi, dan canggih langsung terasa begitu memasuki museum yang berdesain seperti kepompong ini.

3

5

 

7

Begitu menginjak anak tangga, pengunjung sudah disambut dengan lukisan kain batik. Selendang batik pun diikatkan di pegangan tangga. Suasana temaran menguar begitu melewati pintu masuk berbahan kayu.

Pengunjung akan disambut dengan kain sutra putih dengan motif berbeda, seperti: kawung dan parang kusuma. Teknologi laser juga memberi aksen warna-warni bergambar pada selembar kain yang seakan melambai-lambai. Ada beberapa tabung besi perak dengan titik-titik lubang. Kalau pengunjung menempelkan telinga, akan terdengar suara orang yang membacakan proses pembuatan kain dalam bahasa Inggris.

Museum ini menampilkan 61 dari 600 lembar kain batik tua berdesain langka buatan Obin dan koleksi suaminya. Masing-masing kain dipamerkan dengan panel kayu yang didesain khusus, dilengkapi dengan display layar sentuh yang memberi info detail mengenai motif dan bahan yang dipakai. Amat praktis.

9

8

Pencahayaan di museum ini juga menggunakan lampu LED dan tabung neon agar tak mengubah warna asli kain. Memang jadi temaram. Tapi, itu upaya agar mata penunjung juga betah dan nyaman berlama-lama memandang kain batik yang dipamerkan.

Museum Kain ini juga menyediakan monitor berlayar lebar yang dipasang di antara partisi ruangan. Layar ini menampilkan video instruksional mengenai cara memakai kain tradisional Indonesia.

4

6

Blok tembaga untuk mencetak batik, canting, lilin, juga daun kering sebagai bahan pewarna kain juga dipamerkan. Tiap enam bulan sekali, kain-kain batik dan benda-benda ini dirotasi untuk mengakomodasi koleksi Obin dan suaminya, Ronny Suwandi.

Selain itu, foto-foto berpigura terpajang rapi di salah satu dinding museum yang mulai dibuka 21 November 2013 ini. Foto-foto ini merekam jejak perjalanan kain dari masa ke masa.

10

2

Menurut Obin, inspirasi kepompong pada desain museum ini memiliki makna filosofis. Kepompong tidak mengubah apa-apa dari dirinya sejak berupa ulat hingga menjadi kupu-kupu. Ketika menjadi kupu-kupu, ada tambahan berupa sayap yang indah. Bagi Obin, analogi ini bisa disematkan pula pada kain. Ia berharap, para pengunjung bisa memahami makna kain dan manfaatnya bagi kehidupan.

*Diolah dari berbagai sumber

#DESIGNYOURSPACE

START A PROJECT

GET OUR BEST IN YOUR INBOX