Diskusi Buku “Ketukangan: Kesadaran Material” di Bandung

20150223_115332

Rooang.com | Buku berjudul “Ketukangan: Kesadaran Material” lahir dari tema yang diusung kurator arsitektur Indonesia pada Architecture International Exhibition Venice Biennale 2014 di Arsenale, Venesia, Italia. Ini adalah kali pertama arsitektur Indonesia unjuk kebolehan sebagai salah satu dari 66 negara peserta eksibisi, sejak ajang tersebut digelar pada tahun 1980. Pameran bergengsi dunia yang digelar dua tahunan tersebut dikuratori oleh Rem Koolhas, arsitek terkemuka asal Belanda. Ia mengusung tema besar untuk dibahas oleh masing-masing negara yaitu “Fundamentals: Absorbing Modernity: 1914 – 2014”.

Senin, 23 Februari 2015 lalu, Bandung menjadi kota ketiga diselenggarakannya diskusi buku yang juga bakal dipamerkan di Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman ini. Bedah buku terbitan IMAJI ini berlangsung di Galeri Arsitektur ITB, dimoderatori oleh Imelda Akmal dan disajikan oleh Avianti Armand sebagai ketua tim kurator. Hadir pula arsitek kenamaan Tan Tjiang Ay dan Dosen Arsitektur ITB, Indah Widiastuti.

Selama acara bedah buku berlangsung, ditampilkan gambar-gambar bangunan hasil dari tim kurator selama menelusuri jejak kekayaan arsitektur Indonesia. Di antaranya: Gereja Maria Pohsarang (Kediri), Sedangsono (Yogyakarta), Masjid Istiqlal (Jakarta), Wisma Kuwera (Yogyakarta), Dusun Bambu (Bandung), Rumah Rempah (Solo), dan Vila di Peti Tengat (Bali).

Enam Material Utama

Borobudur menjadi salah satu bangunan yang mengisahkan bahwa material utama di masa itu didominasi oleh batu. Sedangkan arsitektur kota tua beberapa kerajaan dulu, termasuk Majapahit, diketahui telah menggunakan bata sebagai penyusun utamanya. Ada pula bangunan rumah-rumah adat yang berbahan kayu dan bambu. Lalu, teknologi yang semakin maju akhirnya mengenalkan Indonesia pada penggunaan beton dan metal.

Secara keseluruhan, terdapat enam material utama dalam sejarah arsitektur Indonesia yang masih digunakan dalam perjalanan arsitektur seratus tahun terakhir.

  1. Batu
  2. Bata
  3. Kayu
  4. Bambu
  5. Beton
  6. Metal

Pada Architecture International Exhibition Venice Biennale 2014, paviliun Indonesia menghadirkan kaca sebagai bidang proyeksi dengan media video yang menampilkan bagaimana perkakas, keterampilan tukang, teknologi, dan langgam yang dibuat dapat mengolah enam material tersebut. Kaca, menurut penuturan Avianti, tergolong immaterial di Indonesia, meskipun dalam arsitektur dunia kaca dan baja termasuk material penting.

Aspek sejarah muncul melalui jenis material yang digunakan. Avianti mencontohkan struktur Gedung Aula Barat ITB yang dibangun pada 1918. Secara logika, apakah mungkin kayu utuh dapat melengkung sempurna dan tahan lama? Sementara itu, arsitek Belanda Maclaine Pont merancang atap khas bergaya nusantara dengan teknik kontruksi Barat. Ia menggunakan kayu lapis dengan struktur lengkung untuk penopang atapnya. Agar kuat, kayu lapis tersebut direkat dan dijepit dengan cincin besi. Jika kita amati, kayu lapis tersebut hanya tampak sebagai kayu biasa yang dilengkungkan. Sampai sekarang gedung yang diresmikan pada tahun 1920 ini masih kokoh dan mengundang decak kagum siapa saja yang menyaksikan.

image credit

Material merupakan keutuhan karya sebuah arsitektur. Hal ini melingkupi bagaimana material tertentu dipersiapkan dan diperlakukan dalam proses produksi. Kesadaran pada sifat dan karakter material menentukan dengan cara apa material tersebut diolah hingga hasilnya menjadi seperti yang diinginkan.

Bagaimana lanjutan diskusinya? Silakan klik halaman berikutnya.

 

#DESIGNYOURSPACE

START A PROJECT

GET OUR BEST IN YOUR INBOX