Telusuri Mimpi Besar Museum 3D Terbesar di Surabaya

IMG_1255

Rooang.com | Masyarakat Indonesia pada umumnya masih memiliki minat yang kurang untuk berkunjung ke museum. Museum dirasa membosankan oleh masyarakat, sehingga belum jadi destinasi wisata pertama. Minat yang kurang bagus ini tentu memiliki sebab. Mungkin karena kurangnya informasi, kurang terawatnya bangunan museum, dan kurang menariknya objek pada museum ataupun yang ada di dalam museum.

Namun, tantangan tersebut ternyata tidak menyurutkan semangat para pecinta museum untuk mengusung lebih tinggi derajat museum di tengah-tengah masyarakat. Terbukti, walaupun masih belum populer seperti di luar negeri, museum di Indonesia saat ini semakin meningkat. Tidak hanya jumlahnya saja, jenis dan variannya pun makin banyak. Ini dilakukan dalam rangka mengajak masyarakat untuk lebih banyak menghabiskan waktu di museum.

Adalah De Mata Trick Eye 3D Museum, juga ikut ambil bagian dalam mengajak masyarakat berwisata ke museum. Museum yang oleh rekor MURI diberi penghargaan sebagai museum 3 dimensi terbesar di Indonesia ini pada awalnya lahir di Yogyakarta. Nah, bagi Anda warga Surabaya patut berbangga karena museum unik ini kini hadir di Kota Pahlawan. Mau tau bagaimana konsep keseluruhan yang ditawarkan museum ini? Langsung saja kita cari tau lewat penuturan sang manajer, Rudi Irawan, berikut ini.

IMG_1274

R (Rooang) : Selamat siang. Boleh tau berapa luasan museum ini ?

M (Manajer) : Museum De Mata di Surabaya ini luasnya sekitar 830 m².

R : Kalau yang di Jogja ?

M : Kalau yang di Jogja itu luasnya 2500 m² karena gabung dengan De Arca (museum patung terbesar di Jogjakarta). Kalau museum di Surabaya hanya De Mata saja, jadi minimal 800-an m² lah luasnya.

R : Apakah ada standar penentuan luas museum ini ?

M : Standarnya ya mungkin dari owner-nya ya. Memang museum ini berkonsep labirin, sehingga membutuhkan area yang cukup luas. Seperti itu.

R : Siapa owner-nya dan apa yang melatar-belakangi untuk membuat museum ini ?

M : Owner-nya adalah Bapak Fx Petrus Kusuma, ya. Beliau terinspirasi dengan museum-museum 3 dimensi yang ada di luar negeri, bagus-bagus. Kenapa kok di Indonesia tidak ada? Nah, ide itulah yang muncul untuk membangun De Mata di Jogja pertama kali.

R : Lalu, untuk pemilihan rancangan bangunan dan interior-nya apakah disesuaikan dengan museum yang di luar negeri juga?

M : Untuk konsep bangunan tidak, ya. Kita tidak menyamakan dengan konsep di luar negeri. Intinya, kita membutuhkan bangunan yang luas, antara 800 – 1500 m² dan dengan ketinggian minimal 3,5 – 5 meter.

R : Kalau yang disini (De Mata Surabaya.red) ?

M : Kalau yang disini tingginya 3,5 meter ya. Lebih rendah daripada yang di Jogja, 4 meter di sana ya.

R : Berarti tinggi ruangan di museum ini tergolong rendah. Bagaimana cara mengatur interior agar tampilannya sama dengan museum yang di Jogja?

M : Nah, itu kami memiliki seorang desainer grafis, yaitu Mas Teguh. Beliau itu yang mendesain gambar-gambar yang ada di sini, dan kemudian mencocokkan dengan ketinggian dan lebar yang dibutuhkan pada masing-masing gambar. Jadi, desainer itulah yang mengolah.

Dan, kami juga turut mengundang beberapa fotografer studio yang telah bekerja sama dengan De Mata di Jogjakarta untuk mengatur pencahayaan di museum ini agar karya seni yang dihasilkan tampak nyata. Para fotografer tersebut turut memberi masukan pada pencahayaan interior di museum. Selain itu, kami juga memiliki pematung lokal di Jogjakarta yang khusus memahat patung untuk dipamerkan di Museum De Arca.

R : Nah, untuk museum yang di Surabaya ini, harapannya akan bisa sebesar apa?

M : Sebetulnya keinginan kami ini cukup sederhana, ya. De Mata Surabaya itu bisa mengenal lebih jauh kepada masyarakat. Kemudian, masyarakat mengenal De Mata sebagai suatu wahana dan tempat wisata yang berfoto. Ini juga sekaligus konsep sederhana De Mata. Yang pada intinya, mereka berfoto dan bisa merasakan sensasi itu bisa menjadi nyata. Karena sebetulnya dari gambar-gambar yang dipilih disini bisa menjadi penuh sensasi apabila dikombinasi dengan teknik pengambilan foto yang tepat dan maksimal, maka sensasi karya seni tersebut bisa menjadi nyata, terlihat 3 dimensi. Jadi kita seakan-akan benar-benar berada di dalam suasana fotonya.

R : Mengapa memilih Kota Surabaya setelah Jogjakarta?

M : Pertama memang Museum De Mata ini dibangun di Jogjakarta, karena domisili sang owner berada di sana. Melihat perkembangan jumlah pengunjung yang makin meningkat, kami berencana untuk membuka museum 3D di kota-kota besar di Indonesia. Nah, karena Surabaya yang boleh dikatakan sebagai kota yang masyarakatnya memiliki antusiasme yang tinggi untuk berfoto, maka itulah yang dipilih.

Nah, selain itu, konsep awal kami merancang museum ini berangkat dari keinginan kami mengangkat budaya-budaya lokal yang ada di tiap kota. Kami juga ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk cinta budaya lokalnya. Bagaimana kita menampilkan seorang seniman-seniman Indonesia, maka museum De Mata dan De Arca inilah wadah yang tepat bagi mereka untuk berkarya. Manifestasinya berupa gambar-gambar bernuansa etnik dan lokal yang – jika di Surabaya – ‘Surabaya Banget’. Ya, memang kami ingin mengangkat budaya lokal Indonesia sendiri dengan konsep modern dan mengikuti zaman.

IMG_1289

IMG_1275

IMG_1279

Baca juga : Di Museum Ini, Gambar 2 Dimensi Tampak 3 Dimensi

#DESIGNYOURSPACE

START A PROJECT

GET OUR BEST IN YOUR INBOX