0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
tampak-depan-bangunan-tangga-ronggeng

Rooang.com | Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar frasa ‘tangga ronggeng’? Apakah sebuah tangga dengan model tertentu? Jenis kesenian dari Jawa Tengah yang populer lewat novel karya Ahmad Tohari? Lantas, bagaimana dengan ‘rumah tangga ronggeng’? Apakah berarti balai atau rumah kesenian?

Jika Anda menduga demikian, itu tidak sepenuhnya salah. Ya, rumah yang terletak tepat di seberang Sungai Cisadane itu memang sebuah rumah kesenian. Tapi, bukan rumah kesenian untuk tari ronggeng.

Nama ‘tangga ronggeng’ ini terinspirasi dari sejarah Sungai Cisadane. Sungai ini dulunya dilalui oleh kapal-kapal dagang berukuran besar. Bantaran sungainya berbentuk seperti tangga yang dinamai ‘tangga ronggeng’. Lantas, nama itu pun diabadikan pada sebuah rumah kuno di situ. Rencananya, rumah tangga ronggeng ini akan difungsikan sebagai museum kuliner Cina Benteng.

Pintu masuk utama

Hudaya Halim, seorang budayawan Cina Benteng, menyatakan bahwa proses restorasi bangunan kuno yang terletak di Jalan Kisamaun, Tangerang, ini  membutuhkan waktu 2 tahun. Pemilik Museum Benteng Heritage ini juga mengatakan kalau rumah ini telah ada sejak ia masih kecil dan termasuk yang termegah di area ini.

Rumah ini memiliki tiga lantai dan dua sisi tampak. Satu sisi menghadap ke gang kecil perumahan. Sementara, sisi lainnya menghadap langsung ke Sungai Cisadane. Keramik-keramik porselen khas Cina nan cantik menghiasi beberapa bagian dari tampak rumah ini.

Memasuki rumah ini, kita seakan-akan berada di setting film-film kuno. Pagarnya terbuat dari besi dan dinding dengan hiasan yang khas. Lantai pertama tampak seperti rumah kuno Cina dengan teras yang cukup besar untuk meletakkan sebuah bangku panjang.

Beranjak agak ke dalam, kita akan menjumpai ruang foyer yang merupakan ruang perantara antara ruang publik dengan ruang privat. Langit-langit yang tinggi membuat bangunan ini memiliki sirkulasi yang baik sehingga tak perlu alat pendingin udara. Lantai teraso kuno berwarna merah bata berpadu apik dengan kusen pintu dan jendela kuno yang masih dipertahankan bentuknya.

Lantai satu dan dua dihubungkan oleh tangga kayu yang hanya cukup dilalui oleh satu orang. Ada dua tangga yang tersedia, yakni di sisi kanan dan kiri rumah. Masing-masing tangga bisa difungsikan untuk naik atau turun saja.

Ruangan di lantai dua ini terbagi jadi dua bagian. Antarbagian dibedakan oleh level (tingkat ketinggian). Di lantai dua ini, khususnya pada sisi yang menghadap ke perumahan, terdapat sebuah balkon.

Area balkon Bangunan Tangga Ronggeng

Antara lantai dua dan tiga juga dihubungkan oleh dua tangga kayu yang masing-masing berada di sisi kiri dan kanan. Lantai tiga ini ini tepat berada di bawah langit-langit tanpa plafon sehingga kuda-kuda kayu bercorak oriental yang terbuka menjadi ornamen tersendiri. Di lantai inilah terdapat balkon besar yang menghubungkan kedua sisi rumah ini.

Penulis berkesempatan mengunjungi rumah ini pada perayaan Festival Peh Cun pada Juni 2015. Peh Cun sendiri adalah sebutan dalam dialek Hokkian untuk kata ‘pachuan’ yang artinya mendayung perahu. Festival ini dirayakan tiap tanggal 5 bulan ke 5 kalender Cina.

 

Kontributor:

Caroline Imelda – alumnus S-1 Arsitektur Universitas Tarumanegara, Jakarta