0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
BBDO-Office

Rooang.com | Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata ‘delusi’? Apa hubungannya dengan ilusi? Adakah sangkut-pautnya dengan halusinasi?

Ah, kita tidak sedang membahas istilah-istilah yang populer di dunia psikologi itu. Namun, kata ‘delusi’ rupanya menginspirasi tiga arsitek muda mendirikan Delution alias Design Revolution. Tiga arsitek muda itu adalah Muhammad Egha, Sunjaya Askaria, dan Hezby Ryandi. Mereka mendirikan perusahaan perencanaan arsitektur dan desain interior tersebut di Jakarta pada 2013. Setahun berikutnya, Fahmy Desrizal, rekan mereka, ikut bergabung.

Kendati masih muda dan awal, namun Delution telah menorehkan prestasi yang tidak main-main. Proyek kantor BBDO Indonesia yang mereka garap berhasil memenangkan Asia Pacific Design Award 2015 untuk kategori Corporate Space Small . Proyek tersebut juga mendapat sorotan luas dari beberapa media cetak dan daring internasional asal Korea, China, Perancis, Arab, hingga Rusia.

Delution pernah menjadi finalis Asia Architecture Award. Mereka pun diundang ke Istanbul untuk mengikuti konferensi sekaligus peserta pameran karya para arsitek se-Asia Pasifik + Amerika di sana.

Bahkan, untuk German Design Award 2016, Delution menjadi Special Mention untuk kategori Interior Arsitektur. Karya mereka akan ikut dipamerkan di Frankfurt bersama karya-karya desain dari berbagai industri kreatif seluruh dunia.

Wow! Sangat membanggakan, bukan?

Atas prestasi Delution tersebut, Rooang pun mendapat kesempatan emas untuk mewawancarai Muhammad Egha selaku President Director Delution.

Berikut petikannya. Selamat menyimak!

Delution memiliki banyak prestasi sekaligus publikasi. Apa arti semuanya buat Delution?

Prestasi yang berhasil kami raih adalah suatu bukti bahwa kerja keras kami memiliki hasil dan diakui oleh pihak lain. Tentunya hal itu menjadi suatu kesenangan dan kebanggaan bagi kami sekaligus jadi suatu tanggung jawab besar yang tentunya tidak main-main.

Contohnya, desain kami menjadi desain terbaik se-Asia Pacific untuk kategori Corporate Space Small. Itu berarti kami harus memastikan karya kami ke depan di kategori tersebut paling tidak harus memiliki kualitas yang serupa. Karena klien akan berdatangan dengan memandang title tersebut. Tentu saja mereka memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kami. Di balik pencapaian besar ada tanggung jawab besar juga. Kami sangat mengerti dan siap akan hal itu.

Bagaimana Delution bisa mempertemukan antara bisnis dan idealisme dalam berkarya? Bisa disebutkan salah satu contoh proyek yang paling berhasil memadukan itu?

Sebenarnya yang dimaksud perpaduan antara bisnis dan idealisme itu tidak bisa dipandang hanya sebatas dalam berkarya, walaupun berkarya merupakan salah satu faktornya. Tapi, kalau kita pandang lebih general, maksudnya bisnis lebih ke pertumbuhan perusahaan secara internal. Bagaimana pertumbuhan jumlah karyawan, pertumbuhan sistem, manajemen kontrol departemen antara produksi, marketing, keuangan-pajak, dan HRD, pertumbuhan aset, perkembangan laba, rugi dan omset, dan masih banyak hal-hal lainnya yang pada umumnya seniman/industri kreatif kurang memperhatikan hal tersebut.

Sebagai contoh, mungkin banyak desainer/arsitek/seniman memiliki nama besar, yang bahkan menginternasional. Namun, mereka mungkin kurang concern dengan pertumbuhan kantor mereka, aset perusahaan. Bahkan, ada yang jumlah karyawannya tidak lebih dari 5 padahal sudah lebih dari 10 tahun beroperasi.

Itu karena jiwa seni mereka mungkin membuat mereka kurang tertarik mengembangkan dari sisi bisnis itu sendiri. Ya itu memang pilihan masing-masing. Namun, Delution sendiri bertekad ingin maju dan besar dari kedua sisinya. Kalau dari kacamata proyek, proyek yang seksi dari sisi idealis dan bisnis tentu saja proyek yang hasilnya menurut kami bagus secara desain dan keuntungannya juga sangat besar. Salah satunya mungkin proyek terbaru kami, Prikarsa Office.

Bagaimana Delution memandang bisnis desain interior di Indonesia saat ini dan menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN? Seberapa menantang? Seberapa optimis?

Bagi kami saat ini, bisnis interior dan arsitektur tentunya semakin berkembang dan akan terus berkembang, bahkan dalam skala yang cukup tinggi dalam 10 tahun ke depan. Terutama untuk para desainer/arsitek yang idealis. Karena saat ini mulai banyak bermunculan user, developer, dan pelaku bisnis yang mulai mengganggap estetika desain itu penting dan akan memberikan benefit tinggi dalam penjualan mereka.

Kalau dulu mereka hanya berpikir dari sisi fungsi saja, namun sekarang berbeda. Mereka mulai percaya seni dalam suatu interior/arsitektur dapat meningkatkan value penjualan, bahkan lebih dari yang mereka bayangkan.

Sebagai contoh, di Bintaro baru-baru ini ada suatu pengembang yang meng-hire arsitek idealis asal Jepang untuk menjual perumahan yang luasannya kecil namun dengan harga tinggi. Kenyataannya rumah tersebut ludes terjual dengan cepat karena si pengembang menonjolkan nama arsitek asal jepang tersebut beserta kualitas desainnya.

Kenyataannya banyak orang awam (pasar) sangat tertarik dengan hal itu. Selain itu, melihat dukungan pemerintah melalui BEKRAF juga tentunya pelan-pelan akan berpengaruh bagi industri ini ke depannya.

Perihal menghadapi MEA, kami pribadi sangat optimis dan antusias untuk menemukan market baru di tingkat ASEAN, mengingat selama ini pun tidak jarang kami bertemu klien yang backgroundnya asing, seperti BBDO, OMG, EComerce Asia, dll.Bahkan kami sudah punya strategi sendiri untuk mengahadapinya MEA tersebut.

Namun, kalau secara general kami masih khawatir pelaku industri yang lain cukup terpukul dengan masuknya MEA. Kenapa? Kebanyakan pelaku industri kita kalah di mental, etos kerja/profesionalitas, dan legalitas. Padahal kalau dari sisi kualitas desain kita sangat bisa disandingkan, bahkan melebihi mereka. Terlebih lagi banyak pelaku industri kita masih inferior terhadap asing. Padahal mereka itu juga punya pandangan sama terhadap kita, mereka inferior juga.

Sebagai pengalaman pribadi saat saya diundang ke Istanbul, saya banyak obrol dengan mereka. Mereka sangat appreciate dengan Indonesia, bahkan melebihi perkiraan saya. Mereka juga takut sama kita. Kalau kita juga takut kan jadinya lucu. Apalagi mengingat negara kita paling paling besar pasarnya, pasti diserbu habis-habisan peluang proyek di negara kita oleh mereka.

Dari sisi legalitas bisa dicek ke IAI atau HDII, berapa persen anggotanya yang ber-SKA, pasti jauh dari yang diharapkan.

Dari kacamata Delution sendiri, seberapa tinggi tingkat persaingan di bisnis desain interior?

Menurut kami cukup tinggi dan ketat, mengingat pelaku interior design itu beragam, bisa dari lulusan arsitek, desain interior, ataupun desain produk. Namun, selama sebagai desainer kita memiliki suatu ciri khas yang berbeda, baik dari desain, etos kerja, sistem, profesionalisme, servis, maka saya yakin kita bisa jadi yang terdepan. Saya kira semua bidang sama, kalau ingin jadi yang terdepan, harus ada yang berbeda dari yang lain.

Saya baca, Muhammad Egha sebagai pendiri Delution harus melalui sepak terjang yang berliku sebelum akhirnya membangun Delution pada 2013. Apa refleksi paling kuat yang Anda dapatkan dari perjalanan itu?

Refleksi paling kuatnya tentunya saya sangat percaya tidak ada kesuksesan yang instan. Semua pasti dilalui oleh kerja keras, kegagalan, penghinaan, derita, dan lainnya. Saya sangat percaya kata-kata Mito Honda (pendiri Honda), “Success is 99% Failure“, yang berarti sukses itu pasti didapat dari beratus-ratus bahkan beribu-ribu kegagalan.

Perjalanan berliku saya sebelum memulai Delution hanyalah suatu permulaan dari kegagalan-kegagalan tersebut. Sampai sekarang pun dalam memimpin Delution dan Conclution (Perusahaan Konstruksi), saya masih banyak gagalnya. Dan, makin ke sini kegagalannya bisa lebih parah dampaknya. Satu kali gagal efeknya bisa rugi puluhan juta hampir seratus juta.

Tapi, bedanya dengan masa dulu, saat ini saya mulai bisa akrab dengan kegagalan-kegagalan saya. Jadi menghadapinya sudah lebih santai. Beda waktu dulu. Rugi 10 juta saja sudah paniknya bukan main. Karena kegagalan memang harus diajak berteman kalau kita ingin mencapai kesuksesan tersebut.

Bagaimana Anda sebagai CEO Delution menemukan dan memilih tiga partner Anda yang memang rata-rata sebaya itu?

Bagi saya yang paling penting dalam memilih partner bisnis adalah bisa diajak bermimpi bersama, susah bersama, mau mendengarkan dan saling bertoleransi. Bahkan, menurut saya kualitas desain menjadi nomor kesekian dalam penilaian karena kenyataannya banyak orang pintar dan orang jago desain, namun tidak enak diajak berbisnis bersama karena kolot, merasa pintar sendiri, dan memiliki ego yang tinggi, di samping kemampuan yang masih pas-pasan.

Kebetulan partners saya ini memang sejak kuliah berorganisasi bersama saya. Sehingga saya sudah memahami mereka. Begitupun mereka terhadap saya. Mereka bisa diajak bermimpi tinggi bersama.

Saya masih ingat betul akhir tahun 2013 dulu saat Delution mau dibentuk, saya mengajak mereka bermimpi suatu saat nanti kita bakal punya banyak perusahaan besar, desain-desain kita bakal menang banyak penghargaan internasional, kita bakal jalan-jalan bareng ke luar negri, dan lainnya.

Mungkin bagi sebagian orang saat itu menggangap omongan saya hanya pepesan kosong, tapi mereka percaya, dan mereka yakin untuk ikut serta mengambil bagian ini dan rela mendapat penghasilan yang jauh lebih rendah dibanding teman-teman seangkatan yang bekerja di kantor arsitek/desainer lainnya. Dan itu juga yang membuat saya yakin saya bisa membangun mimpi ini menjadi mimpi bersama ke depannya.

Apa proyek yang sedang ditangani saat ini? Seberapa menarik tantangannya?

Kami sedang melaksanakan berbagai macam proyek, baik arsitektur ataupun interior. Tetapi, saya pribadi sedang concern pada proyek-proyek arsitektur kami yang mungkin akhir tahun 2015 dan  tengah 2016 nanti bisa selesai dan Insya Allah bisa terpublikasi internasional lagi.

Proyek tersebut adalah rumah tinggal di Tebet juga studio film, musik, dan balet di Jatiwaringin. Saya antusias karena kali ini yang akan selesai adalah karya arsitektur dan bukan interior. Ini mengingat kami sebenernya arsitek, tapi sudah terlanjur tercap sebagai desainer interior karena karya signature kami interior desain.

Apa cita-cita Delution yang belum terwujud?

Kalo ditanya yang belum terwujud banyak sekali. Mengingat baru juga 2 tahun beroperasi hehe. Tapi, sebagai seorang desainer yang memiliki orientasi bisnis yang kuat ke depan, cita-cita kami adalah memiliki kerajaan bisnis sendiri yang terdiri dari banyak perusahaan. Salah duanya sudah ada saat ini, yaitu Delution (Perencanaan Arsitektur&Interior) dan Conclution (Konstruksi).

Jangka menengah 5 tahun ke depan, visi kami di 2020 adalah kami sudah memiliki 4 settled companies dengan tambahan di bidang properti dan furniture/produk.

Oya, mengapa Anda menamai perusahaan ini ‘Delution’? Ada filosofi di baliknya?

Kepanjangan Delution kan Design Revolution. Memang filosofinya adalah suatu revolusi desain. Desain yang kami hasilkan harus berbeda dan tidak biasa, bahkan menjadi suatu pembaharuan dari desain-desain yang sudah ada.

Selain itu, delusi sendiri kan artinya suatu keyakinan yang kuat namun tidak akurat dan tidak memiliki dasar realitas. Maksudnya adalah sama seperti kami saat mendirikan Delution 2 tahun silam. Punya mimpi yang sangat besar, namun nggak ada dasar yang menunjukan nanti kita bisa melakukan itu. Tapi, kami sangat yakin akan hal itu.

Ada saran buat para desainer interior muda di Indonesia yang ingin memasuki dunia profesional?

Saran pertama, pastinya jangan menjadi desainer yang hanya pandai dalam mendesain, namun juga harus memiliki attitude dan etika profesionalitas yang baik. Karena di dunia profesional hal tersebut dijunjung tinggi melebihi kemampuan desain itu sendiri.

Kedua, harus bisa menghilangkan rasa inferior terhadap orang-orang hebat yang kalian kagumi. Karena kalo over-inferior kalian akan susah berdiri di panggung yang sama dengan mereka. Selamanya jadi pengikut dan berada di belakang mereka. Cukup jadikan mereka motivasi untuk berkarya, tapi berusalah mengatasi rasa inferior saat bertemu mereka sehingga suatu saat nanti kalian tidak sadar sudah sepanggung dengan mereka.

Yang terakhir, pekalah terhadap zaman dan era kita berada. Jangan terpaku dengan generasi di atas kita yang tentunya berbeda dengan kita. Banyak anak muda sekarang karena terinspirasi dengan sesorang, maka dia mengikuti track hidup orang tersebut. Padahal orang tersebut mungkin seumuran dengan orangtua mereka yang hidup di era berbeda.

Sekarang eranya teknologi. Buat mem-publish karya sudah banyak wadahnya. Ada media sosial, ada Rooang, dan macam-macam.

Tentunya berbeda dengan zaman arsitek idola kita dulu yang untuk publikasi saja susah sehingga harus kerja dulu di kantor orang sampai puluhan tahun demi memupuk kemampuan, link, dan pengalaman.

Sekarang sudah zaman digital. Tentunya sebagai arsitek, desainer, ataupun pelaku usaha wajib mengikuti pekembangan teknologi tersebut.

Saya terinspirasi dengan kata-kata Bill Gates, “Orang yang melawan teknologi akan punah”. Maksudnya, bukan punah hilang, tapi kalah jauh dibanding mereka yang berhasil menggunakan teknologi.