Sigit Kusumawijaya: Pentingnya Ruang Publik Untuk Kota

2016-11-11-RPTRA-Prototype-A-design-by-Alumni-of-UI-Architecture-01
RPTRA Prototype A design by Alumni of UI Architecture

Sebuah kota yang baik dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal adalah yang mempunyai banyak area/ruang terbuka sebagai akses sekaligus sarana bersosialisasi dengan warga. Dan keberadaan ruang terbuka dapat membuat lingkungan di seluruh kota menjadi lebih bersih dan sehat. Begitu juga yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah Indonesia, sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sumber : http://inhabitat.com/
Sumber : http://inhabitat.com/

Pemerintah provinsi DKI Jakarta akhirnya memberanikan diri untuk melaksanakan sebuah program kerja membangun area/ruang terbuka hijau sebagai langkah awal untuk memperbaiki kondisi udara di DKI Jakarta dengan menggandeng para arsitek muda untuk membantu mewujudkan ruang terbuka dengan desain yang tepat serta fungsional. Salah satu yang diajak untuk  bergabung adalah tim alumni Arsitektur Universitas Indonesia.  Dan berikut ini hasil bincang-bincang Rooang bersama Sigit Kusumawijaya, salah seorang anggota dari tim alumni Arsitektur Universitas Indonesia, tersebut!

Sumber : Rooang
Sumber : Rooang
RPTRA Prototype A design by Alumni of UI Architecture
RPTRA Prototype A design by Alumni of UI Architecture
RPTRA terbangun design by Alumni of UI Architecture
RPTRA terbangun design by Alumni of UI Architecture
RPTRA terbangun design by Alumni of UI Architecture
RPTRA terbangun design by Alumni of UI Architecture

Bagaimana awal mula keterlibatan, Sigit Kusumawijaya ke dalam proyek RPTRA ini?

Proyek Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) ini merupakan program kerja dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sudah dimulai pelaksanaan perencanaan dan pembangunannya untuk gelombang pertama sejak tahun 2015 yang lalu.  Proyek ini saya kerjakan bersama tim alumni Arsitektur Universitas Indonesia. Dan proyek ini sendiri adalah proyek gelombang kedua. Awal keterlibatan bergabung dalam proyek pemerintah ini, adalah karena dari pihak Pemrov DKI Jakarta sendiri, menginginkan para konsultan arsitek muda yang ada di Indonesia sebagai pelaksana tim desainnya.

Lalu, siapa saja yang tergabung menjadi bagian dari tim desain RPTRA ini?

Total ada 11 tim konsultan arsitek Indonesia yang ditugaskan untuk mengerjakan desain RPTRA. Di antaranya ada Andra Matin Architects, Yori Antar, Sonny Sutanto Architects, Ary Indra (Aboday), Antony Liu (Studio Tonton), Willis Kusuma Architects, Tim Alumni Arsitektur Universitas Indonesia dan beberapa tim lainnya. Nah, dari 11 tim konsultan Arsitek ini masing-masing mendapat 11-12 proyek RPTRA untuk dikerjakan desainnya. Tim Alumni Arsitektur Universitas Indonesia mendapat bagian untuk mendesain 13 RPTRA yang tersebar di wilayah Jakarta Utara sebanyak 10 proyek, Jakarta Pusat 1 proyek, Jakarta Timur 1 proyek dan Jakarta Barat 1 proyek.

Apa saja program ruang yang harus ada dalam desain RPTRA ?

RPTRA sendiri diharuskan memiliki luas total bangunan sebesar 144 meter persegi di luar total program ruang yang ada di outdoor. Dan berbicara mengenai program ruang di dalam bangunan, itu ada bangunan pengelola, hall (yang batas dindingnya dibuat transparan/tidak masif), ruang laktasi (ruang ibu&anak), toilet. Dan program ruang outdoor yang harus ada dalam desain RPTRA ini adalah  ruang bermain anak, lapangan olahraga, amphitheater, jogging track, bench, jalur refleksi, kolam gizi dan taman toga. Namun, nanti perlu ada evaluasi lebih lanjut berkaitan dengan program ruang di atas.

Ada berapa total RPTRA yang akan terbangun nanti?

Rencana awal sih, ada 131 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang akan dibangun nanti. Namun seiring dengan munculnya beragam kendala di proses pembebasan lahan maka yang terbangun hanya 121 RPTRA saja.

Lalu, apa saja kendala di lapangan berkaitan dalam melaksanakan pembangunan RPTRA?

Ya, tentu saja ada kendala. Banyak sih kendala berkaitan dengan RPTRA ini. Meskipun semua lahan yang digunakan adalah lahan milik pemrov dan BUMD namun, tidak semua pengurusan izin pembebasan lahannya mudah. Karena banyak juga lahan-lahan yang bersengketa, warga tidak setuju, dsb.

Seberapa pentingkah keberadaan RPTRA dalam sebuah kota?

Sangat penting. Karena keberadaan ruang publik (public space) dapat menjadi sumber aktivitas untuk para warga bersosialisasi, olahraga dan bermain. Serta keberadaan ruang publik (public space) juga menjadi sumber paru-paru kota sesuai dengan standard internasional yang mengatakan bahwa keberadaan ruang hijau (public space) di sebuah kota haruslah 30% dari total luas sebuah kota.

Menurut, pendapat Sigit apakah RPTRA ini adalah sebuah solusi untuk mengatasi kurangnya ruang publik di DKI Jakarta?

Ya, RPTRA merupakan langkah awal yang bagus untuk memulai pertambahan ruang publik di DKI Jakarta karena memang DKI Jakarta masih sangat kekurangan ruang publik/ruang terbuka. Menurut data, bahkan jumlah keseluruhan ruang publik/ruang terbuka di DKI Jakarta hanya mencapi 9% saja.

Menurut Sigit, adakah kota di Indonesia yang patut dicontoh oleh kota-kota lainnya dalam hal keberadaan ruang publik?

Ya menurut saya tentu saja Kota Surabaya ya. Karena memang Surabaya sudah sangat tepat untuk menerapkan ruang publik/ruang hijau dan mudah-mudahan nantinya semua kota di Indonesia bisa menerapkannya.

Terakhir, apa pesan untuk sobat Rooang untuk bisa menjaga lingkungan?

Mudah saja, yang penting jangan membuang sampah sembarangan, hemat energi (air&listrik) dan kalau bisa biasakan diri untuk menanam tanaman baik itu tanaman sayur-sayuran atau buah-buahan untuk konsumsi pribadi atau bisa juga menanam tanaman sebagai penambah penghijauan bagi area rumah.

 

#DESIGNYOURSPACE

START A PROJECT

GET OUR BEST IN YOUR INBOX