diskusi intalks 4
http://architecture.ui.ac.id/news/intalks

Diskusi INTALKS 4 kembali hadir dengan pembahasan baru yang lebih seru! Diskusi INTALKS ini memang sudah memasuki seri #4, sobat Rooang. Setelah sukses di akhir tahun lalu membahas tentang “Adaptive Reuse”, kali ini sesi diskusi INTALKS hadir dengan pembahasan baru, loh. Seperti apa keseruannya? Yuk, sama-sama disimak :

diskusi intalks #4
Sumber : Dokumentasi ROOANG | http://architecture.ui.ac.id/news/intalks-4-ody-space-and-narrative/

Acara rutin milik Architecture Department- Universitas Indonesia ini kembali digelar di tanggal 3 Maret 2018, dengan mengambil lokasi di Juno Home, Jalan Kemang raya nomor 78 A, Bangka, Jakarta Selatan. Acara kali ini berlangsung dari pukul 13.00 hingga 17.00 dengan menghadirkan 3 pembicara yaitu Chitra Subiyakto, Jay Subiyakto dan Enira Arvanda serta dipandu oleh moderator Nevine Rafa Kusuma.

diskusi intalks #4
Sumber : Dokumentasi ROOANG | http://architecture.ui.ac.id/news/intalks-4-ody-space-and-narrative/

Diskusi Intalks 4 kali ini mengangkat tema Body, Space and Narrative yang membahas tentang kaitan manusia sebagai pengguna ruang yang kemudian berinteraksi dengan ruang di sekitarnya sehingga membentuk sebuah narasi yang unik. Pasti sobat Rooang tidak sadar dengan adanya fakta ini, bukan? Dari sudut pandang pembicara pertama, Jay Subiyakto, tubuh memegang peran penting dalam penataan ruang narasi. Kekayaan dari ruang narasi dapat dihadirkan dengan memperkuat budaya asli dan meningkatkan teknologi untuk menunjang kualitas ruang yang diinginkan. Prinsip ATM (Amati, Tekuni, Manfaatkan) menjadi penting karena biasanya inspirasi datang dari pengalaman sehari-hari yang kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa desain. Mas Jay, begitu sapaan akrabnya, yang menggeluti setting panggung pertunjukan dalam dunia musik di Indonesia, mengungkap bahwa penentuan tata letak cahaya biasanya beliau buat dengan meletakkan lighting yang meninggi. Dengan setting panggung yang juga tinggi serta peletakkan lampu sorot terhadap penyanyi, maka akan terbentuk levelling pada lantai panggung namun, dengan tetap mempertimbangkan kondisi eksisting. Menurutnya, kualitas ruang yang dihadirkan harus dapat menyampaikan kesan yang ingin dihadirkan dari setiap lagu.

“Arsitektur sudah mengerti bagaimana, untuk menipu perspektif mata dari depan hingga belakang supaya gambarnya menjadi lain. Bagaimana menipu persepsi seseorang saat melihat image dan menginterpretasikan space, semua sudah terstruktur. Para dosen tidak menjelaskan bagaimana arsitektur itu bisa begitu dahsyat. Semua menjadi begitu berhubungan; seni dan arsitektur menjadi keterhubungan, fotografi dan film menjadi berkaitan satu dan lainnya. Arsitek seperti merupakan kata tentang bagaimana dia bisa mampu menginspirasikan orang. Orisinalitas menjadi kunci dari semua yang hebat.” – Jay Subiyakto
diskusi intalks #4
Sumber : http://architecture.ui.ac.id/news/intalks-4-ody-space-and-narrative/

Sedangkan menurut pembicara kedua, Chitra Subiyakto, dengan karyanya yaitu brand “Sejauh Mata Memandang”, ia banyak bercerita soal seringnya terinspirasi dari alam sekitar. Baginya, tubuh, ruang dan narasi bisa tercipta dari selembar kain. “Saya senang bercerita dengan visual, karena dengan visual yang pertama kali ditangkap oleh mata seseorang. Kain saya diibaratkan sebagai ruang tubuh, sebab dia bisa melekat di tubuh kita, ujar Chitra Subiyakto. Menurutnya, kain dapat bercerita mengenai banyak hal, salah satunya cerita soal alam. Salah satu karyanya yaitu kain yang bercerita mengenai air, dimana laut dan nelayan yang menjadi ide pelengkap dari kain itu sendiri. Sehingga sebuah narasi yang tercipta akan terdiri dari soal air, laut dan nelayan. Dan nantinya visual yang tercipta pun akan tentang laut. Chitra Subiyakto menambahkan bahwa, dia sering mengambil inspirasi dari pengalaman kesehariannya, salah satunya membuat seri kain bermotif mangkok ayam sebagai karya. Kain bermotif mangkok ayam itu termotivasi dari mangkok bakmie yang disenanginya. Baginya, inspirasi dapat datang dari hal-hal kecil yang ada di sekitar. Sehingga, ‘Orisinalitas’, dapat menjadi nilai jual yang membuat idenya kaya akan nilai seni.

diskusi intalks #4
Sumber : Dokumentasi ROOANG | http://architecture.ui.ac.id/news/intalks-4-ody-space-and-narrative/
Pembicara ketiga yaitu, Enira Arvanda bercerita mengenai pendekatan dalam merancang arsitektur interior. Salah satu contoh projek yang diangkat yaitu arsitektur gereja yang menggambarkan narasi akan Ketuhanan melalui elemen interiornya. Di dalamnya menjelaskan juga mengenai bagaimana aktifitas manusia yang akan terjadi serta bagaimana desain merespon konteks yang ada dalam menampilkan narasi yang diinginkan.
Menurut Mba En, begitu sapaannya, sebuah narasi merupakan posibilitas dari imajinasi events yang dapat disampaikan baik secara verbal maupun visual. “Merancang ruang dengan pendekatan narasi sehingga mampu membuat orang yang berada disana merasakan fantasi itu hal yang baik. Mengalami kontur dan berada di ruang imajinatif akan dapat menciptakan experience dari penggunanya. Perancang memegang peran penting dalam menentukan hubungan setiap elemen fisik pada ruang rancangannya. Sensibilitas seorang arsitek menghubungkan manusia dengan makna pengalaman ruang sebagai performa dari rancangannya. “ –Enira Arvanda
 Akhir kata diskusi INTALKS 4 ini ditutup dengan acara ramah-tamah dan sesi tanya jawab dari peserta diskusi dan ketiga pembicara. Dan sebagai penutup, dilakukan acara foto bersama. Acara diskusi INTALKS 4 ini pun berakhir sukses, sobat!
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5


Loading…

SHARE YOUR LIFE TIPS!

Kamu punya konten yang menarik mengenai ruangmu, tempat tinggalmu, atau kehidupanmu? Share di Rooang.com, dan biarkan karyamu menginspirasi para pembaca di seluruh Indonesia!