Reading Time: 3 minutes
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5
Loading...
Haines-Shoe-House

There was an old woman
Who lived in a shoe
She had so many children
She didn’t know what to do
She gave them some broth
Without any bread
And whipped them all soundly
And sent them to bed

Rooang.com | Begitulah cuplikan salah satu puisi liris dari rangkaian dongeng yang konon dibawakan oleh Ibu Angsa. Lagu ninabobo yang berasal dari Perancis ini sangat mendunia dan menciptakan imajinasi anak-anak tentang keluarga yang tinggal di dalam sepatu. Ya, sepatu. Salah satu model alas kaki ini bisa dijadikan tempat tinggal manusia, loh. Bukan kurcaci. Tidak percaya?

Adalah Mahlon Haines, seorang pengusaha sepatu dari Pennsylvania yang berinisiatif membangun rumah sepatu pada tahun 1948. Rumah sepatu yang dibangunnya bukan sekadar untuk mewujudkan cerita dongeng yang didengarnya semasa kecil. Bangunan yang kini telah direnovasi berulang kali tersebut pada awalnya dibuat sebagai sarana promosi sepatu buatannya.

Shoehouse

Tahun demi tahun berlalu. Rumah unik ini mengalami banyak peristiwa dan jatuh ke tangan banyak orang yang sempat memilikinya. Setelah sempat dibeli oleh cucu sang pendiri lalu dijual ke orang lain, kini rumah sepatu ini menjadi milik pasangan Carleen dan Ronald Farabaugh yang membelinya tahun 2004.

Setelah mengalami beberapa kali renovasi, rumah sepatu ini menjadi bangunan wisata dan menarik banyak pengunjung. Di dalamnya kita akan melihat ruangan-ruangan yang lazim ada di rumah. Ruang tamu terletak di bagian jari, dapur berada di sol sepatu, kamar di bagian tumit, dan ada bangunan tambahan di bagian depan.

shoe house 5

Bagaimana material dan isi bangunan ini? Sangat indah. Tidak hanya tipografi rumah induk saja yang menyerupai sepatu. Rumah anjing keluarga juga dibuat mirip dengan bangunan induknya. Kotak surat di pinggir jalan pun berbentuk sepatu. Jendela kaca patri, aksesoris rumah, dan pagar juga dilengkapi dengan bentuk-bentuk sepatu.

Bangunan tua tersebut kini menjadi ikon pariwisata. Bahkan, saking fenomenalnya si pendiri, yang dikenal sebagai Kolonel Sepatu, jalan di depan rumah tersebut diberi nama Shoe House Road. Jika berminat berkunjung ke sana, Anda bisa langsung datang setiap hari Senin sampai Sabtu, atau janjian dulu dengan pemiliknya di situs shoehouse.us.

GEDSC DIGITAL CAMERA
GEDSC DIGITAL CAMERA
GEDSC DIGITAL CAMERA

Tidak hanya Rumah Sepatu Haines, ada banyak sekali bangunan yang menyerupai sepatu. Rumah sepatu Haines hanyalah salah satu dari puluhan rumah sepatu yang ada di dunia. Sebagian besar dibuat sebagai tempat hiburan atau arena bermain anak-anak.

Provinsi Mpumalanga, Afrika Selatan, juga memiliki ikon pariwisata berupa rumah sepatu. Rumah ini dibangun oleh Ron Van Zyl sebagai wujud cinta pada sang istri, Yvonne, pada tahun 1990. Yvonne sendiri saat itu menginginkan sepatu. Kini, rumah bertingkat itu diisi dengan hasil kesenian karya Ron. Tempat wisata ini juga menjadi bagian Gua Alfa Omega, sebuah tempat wisata yang sering digunakan sebagai kapel tempat melangsungkan pernikahan. Dinding gua diukir sendiri oleh Ron dengan ukiran yang menakjubkan.

Shoe-House-South-Africa
mpumalanga 2

Rumah sepatu lainnya terletak di Mumbai, India; Belanda; sebuah rumah keluarga di Kanada; Desa Dioghar, India; dan masih banyak lagi.

british columbia

mumbai shoe house 2

Rumah adalah tempat kita hidup. Ia tidak hanya harus indah, tapi juga nyaman. Harus merepresentasikan pemiliknya. Jika Anda menyukai sesuatu, wujudkanlah. Salah satunya berupa rumah.

Sumber:
http://en.wikipedia.org
http://www.shoehouse.us
http://www.building.am
http://theshoe.org
http://salmontrails.com
http://www.homeownernut.com
http://www.sdmuseum.org