Reading Time: 3 minutes
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5
Loading...
aminlibrary_04

Rooang.com | Kota Batu dikenal sebagai destinasi yang memiliki banyak obyek wisata. Terutama theme park yang memiliki bebagai wahana permainan. Namun, bagi penggemar wisata arsitektur, mengunjungi Kota Batu belum lengkap jika belum mampir ke Poligigi dan Taman Baca Amin.

Taman baca ini menjadi terkenal karena keunikan arsitekturnya. Biro arsitek dpavilion Architects berhasil menyulap tumpukan kontainer bekas menjadi sebuah taman baca dan poli kesehatan yang dapat diakses gratis oleh masyarakat.

aminlibrary_01

aminlibrary_07
Bangunan ini menggunakan delapan shipping containers yang dibeli masing-masing seharga delapan juta rupiah. Bentuk kontainer yang berupa modul sangat cocok diolah untuk berbagai keperluan. Ukurannya kontainer yang yang sesuai dengan skala manusia sangat menguntungkan. Sebagai ruang, boks kontainer sudah memiliki elemen dinding, atap, dan lantai sekaligus. Hal tersebut tentu memudahkan dan menghemat waktu pengerjaan konstruksi.

Belakangan membangun rumah murah dengan menggunakan material kontainer bekas juga menjadi tren yang makin digemari. Boks kontainer dipilih karena pertimbangan faktor kekuatan konstruksi, ketersediaan yang luas, dan harga yang relatif lebih murah.

Taman Baca dan Poligigi Amin mengusung konsep contertainer. Dapat terlihat dari keseluruhan bangunan yang bersifat entertaining, dapat dilihat dari pemilihan warna dan bentunya yang dinamis. Hal ini sesuai dengan harapan arsitek, Edwin Nafarin, yang menginginkan bangunan ini dapat menyenangkan banyak orang.

Setiap kontainer diberi warna yang berbeda untuk menandai peruntukannya masing-masing. Kontainer hijau berfungsi sebagai lobi, kontainer kuning berfungsi sebagai ruang baca dengan koleksi buku bertema tata boga dan busana, kontainer biru untuk ruang baca hiburan dan umum, lalu kontainer merah sebagai ruang baca buku-buku bertema sains dan teknologi. Untuk ruang baca anak-anak, bangunannya tidak terbangun dari material kontainer.

Setiap ruang baca banyak menggunakan pencahayaan alami dengan jendela lebar di sisi-sisi kontainer sehingga pengunjung mendapat cahaya yang cukup untuk membaca dan menghemat penggunaan lampu. Suasana yang tenang dengan view nuansa pedesaan membuat membaca semakin nyaman dan menyenangkan.

Kontainer warna-warni tersebut terkesan mengambang dan hanya ditopang oleh kolom-kolom baja ramping serupa egrang. Kontainer merah juga memiliki fungsi lain sebagai kanopi yang melindungi ruang baca terbuka yang berada di teras.

aminlibrary_08

aminlibrary_11

aminlibrary_10

Pintu masuk utama Taman Baca Amin berada di Jatim Park 1 dan berujung di Jl. Sultan Agung, Batu. Area bawah digunakan untuk poli kesehatan, dan diarahkan menuju taman baca melalui ramp dengan dinding kaca. Cahaya pada ramp memberikan atmosfer milenium pada ruangnya. Dari lobi, Anda bisa menuju ruang baca anak berada di kontainer paling depan, melewati selasar yang sejuk sekaligus dapat melihat cityscape Kota Batu sambil membaca buku favorit Anda.

Memasuki ruang baca anak, pengunjung disambut dengan interior hangat dan sederhana. Furnitur rak-rak buku disusun dengan acak dan menarik dan dikelilingi oleh sudut-sudut baca yang nyaman. Penataan cahaya ruang terasa pas untuk membaca dan cukup menarik karena memantulkan sinar yang mempesona pada ruangan.

aminlibrary_14

aminlibrary_12

aminlibrary_20

Dari lobi, terdapat tangga yang mengarah ke kontainer di lantai tiga. Kontainer tersebut berfungsi sebagai ruang baca umum. Mulai dari buku kesehatan hingga berbagai macam majalah. Interior ruangan ini terlihat lebih dewasa dengan penataan yang simetri pada furnitur. Dinding ruangan dihiasi dengan dekorasi khas taman baca, seperti rumus-rumus fisika dan tanda peringatan untuk tenang.

Saat malam hari, suasana di Rumah Baca Amin menjadi lebih semarak. Pertemuan gemerlap cahaya lampu dan material bangunan memberikan kesan futuristik pada eksterior bangunan. Dengan udara yang sejuk dan interior yang nyaman, menarik siapa saja untuk membaca dan menghabiskan waktu di Taman Baca Amin.

Sumber dokumentasi: Ganny Gozaly / dpavilion Architects