Reading Time: 6 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Firdiansyah-Fatoni-4

Rooang.com | Para finalis Kompetisi Arsitektur Rimpang memunculkan berbagai ide “nakal” dan gagasan yang unik untuk menyelesaikan masalah ruang kota yang terbentuk akibat keberadaan industri rumahan. Di sini, industri rumahan bisa dianggap sebagai masalah, namun juga sebagai sebagai elemen yang memberikan warna pada ruang-ruang kota.

Arsitektur rimpang sendiri menitikberatkan pada penyelesaian masalah agar industri rumahan dapat tetap berjalan tanpa mengabaikan kualitas permukiman yang berada di sekelilingnya. Berikut ini adalah hasil karya 5 besar finalis Kompetisi Arsitektur Rimpang di kantor Biro Konsultan Aboday beberapa waktu yang lalu.

Reni Dwi Rahayu 1

Reni Dwi Rahayu 2

Reni Dwi Rahayu dari Universitas Brawijaya, mendapat giliran presentasi pertama. Reni membawa pengalaman ruang pribadinya ke dalam kompetisi ini, sehingga dia terlihat cukup menguasai permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Reni mengakomodasi industri terasi rumahan di desa Ngaglik, Tuban, Jawa Timur.

Saat masih SMA, setiap hari Reni menempuh perjalanan Tuban – Lamongan dengan melewati desa penghasil terasi tersebut. Ia mengaku selalu mencium aroma tak sedap apabila desa tersebut sedang memasuki musim produksi. Reni yang tertarik pada tipologi arsitektur bangunan industri pun mengkaji permasalahan yang ada di sana. Tantangan yang dihadapi adalah permasalahan ruang-ruang produksi yang ada di sana berdiri sendiri-sendiri, proses pengolahan bahan baku dan penjemuran dilakukan di rumah masing-masing dan di ruang terbuka yang ada di sekitar rumah. Proses ini mengakibatkan pencemaran udara dan sanitasi. Kualitas produksi kurang menjadi perhatian dengan menggunakan media yang konvensional.

Solusi yang Reni tawarkan adalah dengan merancang sebuah tempat produksi yang menyatukan industri-industri yang ada di desa tersebut. Di dalam rancangannya, Reni mengelompokan unit-unit produksinya mulai dari penyimpanan bahan basah dan kering hingga proses penggilingan. Bangunannya dihadapkan ke arah matahari untuk memaksimalkan proses pengeringan. Penyelesaian desain dengan menggunakan material roster arang karbon yang menjadi ventilasi udara bangunan menjawab permasalahan aroma tak sedap yang dihasilkan pada proses produksi. Ruang-ruang yang tersisa pada permukiman warga setelah industri dipindahkan menjadi satu ditanami tumbuhan-tumbuhan yang juga dapat meningkatkan kualitas udara. Sebuah presentasi pembuka yang cukup cermat disajikan oleh Reni dengan karya berjudul “Smell Ended Village“.

Firdiansyah Fatoni 3

Firdiansyah Fatoni 5

Firdiansyah Fathoni dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, melanjutkan presentasi di urutan kedua dengan karyanya yang berjudul “Pasar Kampung Kue Surabaya”. Karya sederhana dari Firdi membuka peluang kampung industri kue di daerah Rungkut. Surabaya, untuk mengekspansi usahanya di dalam wilayah kampung itu sendiri. Menurut narasumber yang Firdi temui, pada pukul 21.00 hingga 03.00 tiap harinya 65 keluarga di kampung ini memproduksi kue secara kolektif untuk dijual keluar kampung. Sementara itu, kampung ini tidak terlihat seperti identitasnya pada waktu siang hari. Nama kampung kue hanya ditulis pada penanda masuk kampung, di dalamnya kegiatan yang ada sama seperti kampung-kampung lainnya di Surabaya. Keterbatasan tempat untuk berjualan menjadi tantangan yang Firdi baca sebagai peluang.

Firdi memberi solusi desain berupa pernaungan yang memiliki beberapa tipologi sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan. Ada yang terdiri dari meja, tempat duduk, dan penutup atap dan ada yang hanya terdiri dari beberapa bagiannya saja. Pernaungan ini difungsikan sebagai tempat menjual kue hasil produksi di depan rumah masing-masing penduduk. Intervensi desain ini dilengkapi dengan penanda warna dari masing-masing naungan yang diambil dari warna-warna khas kue yang dihasilkan, kemudian warna tersebut menjadi pengarah atau penanda tempat dimana posisi tiap naungan tersebut berada. Firdi melengkapinya dengan meletakan papan direktori sesuai urutan warna naungan tersebut. Firdi mengintegrasikan rancangannya dengan ruang publik yang ada, ia berharap ruang publik tersebut menjadi tempat untuk menikmati kue-kue khas kampung sambil bersosialisasi.

Angga Dwi Susilohadi 1

Angga Dwi Susilohadi 3

Angga Dwi Susilohadi, finalis ketiga yang juga berasal dari ITS, memberi penyelesaian desain dengan pendekatan yang berbeda. Rancangannya diberi nama “Watu Kuning”, sebuah intervensi desain arsitektur di wilayah kampung nelayan Kenjeran, Surabaya. Angga mengamati adanya potensi besar dari kampung ini sebagai satu-satunya sentra ikan segar di Surabaya. Sejauh pengamatan Angga, masyarakat di Kenjeran cenderung introvert, sehingga sulit untuk menerima hal baru di luar kebiasaannya. Fakta tersebut terlihat dari mangkraknya sentra ikan Bulak yang sudah terbangun dengan desain yang tergolong baik di dekat kampung nelayan tersebut. Nelayan lebih nyaman menjual hasil tangkapannya di kampung mereka sendiri dan kemudian dibeli oleh pengepul ikan untuk dijual ke wilayah lain sekitar Surabaya.

Angga menanggapi permasalahan tersebut dengan merujuk pada wacana pemerintah kota yang sudah ada sebelumnya untuk menjadikan kampung ini salah satu kampung wisata pada peta perencanaan tahun 2028. Karena karakter masyarakatnya yang cukup tertutup, Angga tidak ingin mengintervensi kampung tersebut dengan sebuah desain yang berpotensi mengganggu, ia hanya memberi penyelesaian desain sederhana yang menghubungkan kampung tersebut dengan potensi-potensi lain di luar kampungnya.“Arsitektur tipis-tipis,” begitulah Angga menyebut gagasan watu kuningnya.

Sebuah gagasan berupa elemen batu berwarna kuning yang disusun sepanjang jalur sirkulasi dari titik-titik yang sudah Angga petakan. Sebelum meletakan watu kuning, Angga menata ulang wilayah bibir pantai sesuai tata guna lahan, permukiman yang menempel langsung pada bibir pantai digeser sehingga garis sepanjang pantai dapat digunakan untuk menjemur ikan dan dapat dinikmati pula oleh pengunjung. Batas tersebut dipertegas dengan susunan batu kuningnya yang menerus menghubungkan kampung, sentra ikan Bulak, dan stasiun MRT yang masuk pada peta perencanaan pemerintah kota Surabaya 2028. Angga menambahkan dermaga yang dapat digunakan oleh nelayan untuk memarkirkan perahunya dan sebagai ruang transit yang dapat dinikmati pengunjungnya.

Evelyn Witono Putri 1

Evelyn Witono Putri 2

Giliran keempat adalah Evelyn Witono Putri dari Universitas Tarumanegara. Ia memilih lokasi pasar Loak di daerah Poncol, Senen, Jakarta untuk desainnya yang diberi tema Re-Imaji. Evelyn memulai desainnya dari sebuah gagasan “Re-Imaji” untuk membangun citra kawasan pasar loak menjadi lebih baik. Evelyn mengabstraksikan ulang keteraturan dari ketidakberaturan dengan studi pola menggunakan susunan baut dan mur yang banyak dijual di pasar loak tersebut. Masalah yang ia temukan di pasar loak tersebut antara lain adalah kriminalitas, banjir, kemacetan, kondisi tak terawat, dan sirkulasi yang berantakan.

Lewat studi polanya, Evelyn menyusun ulang pola pasar loak. Ia memasukan program rancangan yang dikategorikan ke dalam workshop barang bekas, kios pedagang, kantor pengelola, taman jajanan, panggung rakyat, dan tempat servis. Ia merelokasi kios-kios alat berat yang ada di jalan Kalibaru Barat ke dalam tapak baru milik swasta. Jalur sirkulasi pejalan kaki pasar diangkat ke atas jalan yang sebelumnya ada dan batas sungai. Bagian bawah difungsikan kembali sebagai jalur pejalan kaki dan kendaraan agar tidak terganggu oleh aktivitas jual beli di pasar loak.

Hikmatyar Abdul Aziz

Hikmatyar Abdul Aziz 2

Hikmatyar Abdul Aziz dari Universitas Negeri Sebelas Maret Solo menyampaikan presentasi terakhir, sebuah karya yang disebut “Grow Up”. Isu rancangan yang diambil oleh Tyar tergolong cukup rumit, seperti yang diungkapkan oleh salah satu juri, Ary Indra, karena Tyar mengambil lokasi rancangan di Kampung Kali Code, Yogyakarta, sebuah kampung bersejarah yang pernah ditata oleh Y.B. Mangunwijaya.

Kali Code dulunya merupakan kawasan yang akan digusur oleh pemerintahan Jogjakarta. Namun melalui pendekatan yang dilakukan Romo Mangun, akhirnya kawasan ini ditata ulang menjadi ruang hidup yang dibangun dengan partisipasi warganya. Tyar menyatakan bahwa kini kawasan Code kondisinya memprihatinkan, ruang-ruang tinggal yang telah dibangun oleh Romo Mangun mulai kehilangan esensinya karena penduduk mengubah bangunan mereka menjadi bangunan permanen. Kondisi ini diperparah dengan bertambahnya pendatang yang kemudian juga ingin tinggal di kawasan yang terbatas tersebut. Akibatnya, industri-industri rumahan seperti kerajinan dari barang, makanan, dan karya seni lainnya tidak berkembang.

Tyar menata ulang kampung ini, membagi menjadi zona publik dan privat. Bentuk bangunan dibuat dengan menggunakan pendekatan desain milik Romo Mangun yang telah ada sebelumnya. Tiga macam bangunan yang dibuat adalah hunian, balai budaya, dan pasar industri. Huniannya dibuat dua lantai dengan lantai bawah yang bisa digunakan untuk kegiatan kreatif, balai budaya dibuat dua lantai pula dengan penggunaan lantai bawah untuk kegiatan tari-tarian, musik, dan lain sebagainya. Sementara untuk pasar industri, dibuatkan modul kios yang ditata cukup efektif.

Satu per satu catatan berupa kritik dan saran diberikan oleh para juri. Desain para peserta memang belum sempurna namun kejelian peserta dalam menemukan permasalahan industri dan penyelesaiannya menjadi hal yang berada di luar bayangan para juri, bahkan Agung Dwiyanto sebagai pencetus tema kompetisi ini pun mengaku kesulitan setelah membaca ulang ketentuan kompetisi.

Kejelian peserta tentunya akan didapatkan ketika mereka memahami betul permasalahan yang terjadi di tiap kawasan industri rumahan tersebut. Tantangan tema yang spesifik membutuhkan pendekatan yang cukup spesifik juga, sehingga perwujudan gagasan lahir dari proses pengamatan yang mendalam.

Artikel kiriman Rifandi Septiawan Nugroho