Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
2-copy-2

Rooang.com | Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan populasi lebih dari 3,1 juta jiwa dan merupakan ibukota Jawa Timur. Sungai Kalimas dan Jagir adalah dua sungai besar yang memisahkan Surabaya. Sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari berasal dari dua sungai tersebut. Walaupun airnya terpolusi oleh 55% limbah domestik dan 45% limbah industri, Sungai Kalimas adalah sumber utama untuk Surabaya. Dewasa ini, kualitas air untuk kebutuhan sehari-hari menjadi isu utama karena tidak dapat digunakan untuk mandi.

Apa yang terjadi pada kita saat ini? Perilaku urban menjadi sebuah isu yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Manusia menjadi tidak peduli dengan lingkungan, tidak memiliki tanggungjawab dengan sekitarnya. Banyak alasan untuk membuang sampah di sungai, walaupun mereka tahu orang-orang yang hidup di sungai menggunakan air sungai tersebut untuk kehidupan sehari-harinya.

Sungai adalah sumber air untuk kota, seharusnya bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia dan mendukung kesehatan lingkungan. Sayangnya, limbah domestik dan industri mengotori sungai-sungai di Indonesia, pada kasus ini Surabaya.

12

3

Dari dua isu tersebut, tim yang beranggotakan Theodorus Mulyanandrio Wicaksono, Galuh Pramesti, Galih Sabdo Aji, dan Frederikson Tarigan ini mengusulkan sebuah solusi cerdas yang dinamai Biofences Kampong. Konsepnya ialah mengubah air sungai yang terpolusi dengan teknik filtrasi. Konsep ini diimplementasikan di kampung yang dekat dengan sungai karena bertujuan memenuhi kebutuhan warga sekitar, sekaligus menyelesaikan masalah-masalah lingkungan.

Fakta di lapangan, kampung sekitar sungai membuang limbah domestik ke sungai dikarenakan kurangnya area pembuangan limbah. Ada pula fenomena “Bukan Halaman Belakangku” di kampung, sehingga membuat warga kurang bertanggungjawab terhadap sungai. Berdasarkan fakta tersebut, mereka menggunakan strategi-strategi berikut untuk diimplementasikan pada Biofences Kampong.

  • Adanya river barrier menghalangi warga untuk membuang sampah ke sungai.
  • Dengan filtrasi air, tidak ada air terpolusi untuk kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan domestik warga ialah 144 liter setiap hari di setiap rumah. Bandingkan dengan penghitungan tangki air di Biofences Kampong. Ada enak pasar di sepanjang sungai pada 1 km, setiap pasar memiliki satu tangki air. Dengan hitungan 260 rumah x 6 tangki air, sama dengan 1560 rumah yang dijangkau air terfiltrasi.
  • Urban farming tidak hanya menjadi river barrier tetapi juga memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari. Bagaimana hubungannya dengan Biofences Kampong? Irigasi untuk urban farming tersebut diperoleh dari limbah air dan sungai, sedangkan pupuk diperoleh dari limbah organik.
  • Pasar Urban Lokal terjadi karena dampak urban farming. Hasil panen urban farming dijual dan meningkatkan produktivitas warga.
  • Memberikan warga ruang publik yang lebih banyak dikarenakan ikatan sosial yang sangat kuat di kampung.

e-3

c-2

Perancangan Biofences Kampong ini tentunya mengaplikasikan Prinsip Hijau, yaitu ‘Conserving Energy’, ‘Working With Climate’, ‘Minimizing New Resources’, ‘Respect for User’, ‘Respect for Site’, dan juga ‘Holism’.

Material yang digunakan pada Biofences Kampong yaitu material alami untuk mengurangi embodied energy. Grey energy terkurangi dengan menggunakan bambu sebagai material utama. Bambu adalah material yang mudah didapat di Surabaya dan di Indonesia.

2 copy-2

a (1)-2

b (2)-2

Dari 5 prinsip hijau di atas, mereka memfokuskan pada ‘Respect for User’ karena Biofences Kampong tidak mengubah kebiasaan penduduk, hanya mengakomodasinya menjadi sesuatu yang lebih baik. Dari kebiasaan membuang sampah ke sungai, mereka memberikan tempat pembuangan akhir untuk membuang sampah. Dari memiliki ruang publik di depan rumah, mereka memberikan ruang publik modular untuk mengonservasi energi juga meminimalisasi sumber baru. Dari memenuhi kebutuhan air sehari-hari dari sungai yang terpolusi, mereka memberikan sungai terfiltrasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari limbah organik, mereka memberikan urban farming yang hidup dan dipupuki dari limbah dan air sekitar untuk mengonservasi energi.

“Selama proses ini ada banyak konsep yang masuk dari kami berempat. Sekitar 3 kali mengganti konsep utama untuk menyelesaikan masalah yang diberikan oleh FuturArc. Akhirnya, melalui berbagai macam pendekatan yang coba kami simulasikan, ternyata konsep ini yang cocok menjawab masalahnya. Harapan kami, tim dari Indonesia bisa selalu mendapat posisi juara karena animonya sendiri sudah bagus. Dari Indonesia selalu banyak yang ikut, itu kita jaga. Kualitasnya yang harus coba ditingkatkan supaya bisa bersaing dengan tim-tim dari negara lain.” pesan Andry, sapaan akrab Theodorus Mulyanandrio Wicaksono.

Atas prestasi keempat mahasiswa Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember tersebut, mereka diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan langsung dari FuturArc pada Juni lalu.

 

10410229_10152182328327076_7083726775754729296_n