Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
istano-basa-pagaruyung

Rooang.com | Berbicara tentang perkembangan arsitektur tentunya tidak bisa lepas dari pengaruh kerajaan yang berkuasa pada zaman dahulu. Kerajaan menjadi ‘agen’ utama arsitektur etnik setiap daerah, khususnya Indonesia. Indonesia sendiri merupakan negara dengan banyak kerajaan dan banyak istana. Meskipun tidak terkesan kokoh dan megah seperti kastil-kastil para raja di Eropa, istana kerajaan di Tanah Air memiliki nilai khas dan keindahan tersendiri. Di balik kesederhanaan material yang digunakan, tersimpan filosofi luhur yang mencerminkan kearifan lokal dan budaya bangsa.

 

Warna

Secara umum, warna-warna istana kerajaan adalah warna natural, seperti krem, hijau, coklat, kuning, dan biru. Warna-warna tersebut melambangkan budaya setempat. Istana Maimun yang terletak di Medan misalnya, memiliki warna utama kuning yang merupakan warna khas budaya melayu. Warna kuning juga melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Warna hijau biasanya juga terdapat di istana-istana kerajaan, seperti istana Maimun di Medan, Istana Lima Laras di Batu Bara, dan Istana Ismahayana di Landak. Warna lain yang banyak dipakai adalah warna putih. Warna ini dipilih karena memiliki nilai karakter suci, bersih, dan luhur. Di Bali, istana-istana kerajaan didominasi dengan warna oranye batu-bata dan abu-abu atau hitam pada dinding berukirnya.

 

Pola dan bentuk

Sebagian besar bentuk istana kerajaan di Indonesia merupakan representasi dari rumah adat daerah setempat. Ada yang berbentuk rumah panggung, di antaranya Istana Paku Negara di Tayan, Kalimantan Barat; Istana Basa di pagaruyung, Sumatra Barat; Istana Kuning di Kotawaringin, Kalimantan Tengah; Istana Malige di Buton, Sulawesi Selatan; dan Istana Sambaliung di Berau, Kalimantan Utara. Sementara itu, istana-istana kerajaan di Jawa lebih rendah karena tidak menggunakan model panggung. Istana kerajaan di Jawa menggunakan model rumah tradisional yang biasa disebut joglo, dengan atap limas dan banyak pintu. Istana-istana di Sumatera yang mewakili budaya Minangkabau memiliki atap besar dengan ujung tinggi dan runcing. Secara keseluruhan, istana-istana tersebut memiliki tangga atau undak-undakan.

Namun, ada juga beberapa istana yang tidak mencerminkan rumah adat setempat. Istana Siak di Riau dan Istana Maimun di Sumatera Utara mengadopsi karakteristik arsitektur Timur Tengah dengan pintu masuk berbentuk oval di bagian atas dan atap kubah di beberapa bagian. Bahkan, Istana Siak juga memasukkan unsur arsitektur Eropa yaitu atap datar yang terbuat dari beton, sehingga bangunan ini nyaris tidak seperti bangunan asli Indonesia. Istana Lima Laras yang saat ini kondisinya sudah terbengkalai juga memasukkan unsur arsitektur Cina. Istana-istana tersebut memang dibangun pada akhir tahun 1800-an dan menggunakan jasa arsitek luar negeri. Seperti yang kita ketahui, pada periode itu Indonesia telah menerima banyak ‘tamu’ dari berbagai negara yang memberikan banyak pengaruh budaya.

Motif yang terdapat di setiap istana pun berbeda-beda. Jika Anda berkunjung ke Istana Basa di Pagaruyung, Sumatra Barat, jangan mengira bahwa dindingnya dilapisi dengan wallpaper seperti yang terdapat di istana-istana Eropa. Istana Basa menggunakan anyaman tangan bermotif seperti kain songket. Para pengrajin benar-benar telah berusaha keras dan tekun untuk membuat anyaman yang mengelilingi seluruh dinding luar istana yang sangat luas tersebut. Motif lain yang khas dari istana kerajaan adalah adanya relief yang diukir di dinding maupun tiang, seperti istana-istana di Bali dan Surakarta.

 

Ukuran

Seperti sebagian besar bangunan zaman dahulu, istana-istana kerajaan memiliki ukuran yang sangat luas. Tentu saja ini disebabkan banyaknya keluarga yang ditampung dalam bangunan tersebut. Lazimnya istana adalah tempat tinggal para raja sekaligus seluruh keluarganya. Dalam satu istana bisa terdapat sampai 9 keluarga yang mendiami. Ukuran yang besar tersebut masih dilengkapi dengan halaman ekstra luas dengan dinding-dinding besar yang dulunya berfungsi sebagai benteng perang dengan tingkat keamanan tinggi. Halaman istana juga berfungsi sebagai tempat berkumpulnya rakyat yang hendak menghadap atau mengadu pada raja. Di daerah Yogyakarta dan Surakarta, halaman istana tempat berkumpulnya rakyat disebut dengan alun-alun.

 

Material

Selayaknya bangunan tradisional, sebagian besar istana kerajaan di Indonesia menggunakan material dasar kayu sebagai dinding dan pilar penyangga. Namun, dengan banyaknya renovasi dan restorasi pasca perang dan bencana, kini sebagian istana sudah dipugar dan dibangun dengan batu-bata. Istana-istana kerajaan di Bali hampir tidak ada yang berdinding kayu. Begitu juga dengan istana-istana di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta yang berdinding bata. Di antara resorasi tersebut, Istana Basa di Pagaruyung tetap mempertahankan material utama kayu sebagai lantai, dinding, pilar, dan atap. Meskipun istana ini sudah beberapa kali terbakar, para pemangku adat menginginkan Istana Basa memiliki bentuk aslinya. Bahkan, pondasi istana ini dibiarkan miring sesuai dengan strukturnya yang asli ketika dibangun pada tahun 1700-an.

 

Tata ruang

Tidak seperti bangunan masa kini yang lebih praktis dan menyatukan semua jenis ruangan dalam satu bangunan, istana kerajaan terdiri atas bangunan utama dan bangunan penunjang. Bangunan utama merupakan ruang menyambut tamu atau balairung, ruang berkumpulnya keluarga sekaligus ruang makan, ruang pelantikan raja atau sultan, dan kamar-kamar anggota kerajaan. Bangunan penunjang terdiri atas dapur, bilik untuk mandi, gudang penyimpan senjata, gudang makanan sekaligus lumbung padi, serta ruang ibadah. Pemisahan bangunan-bangunan dan pemilihan letak atau arah bangunan istana mempertimbangkan konsep kosmologi, filosofi, dan religi. Masyarakat kerajaan pada zaman dahulu sangat menjunjung tinggi keseimbangan hidup untuk mencapai kesempurnaan diri di alam baka.

Hampir semua istana berfungsi sebagai tempat pertahanan dan perlindungan anggota kerajaan, terutama raja. Oleh karena itu, sejak masuknya bangsa asing atau penjajah, istana-istana dilengkapi dengan pagar tembok besar yang berfungsi sebagai benteng. Tidak hanya satu, pagar-pagar tersebut terdiri dari beberapa lapis, mulai dari pagar paling luar sampai pagar dalam.

 

Furnitur dan perabotan

Pada dasarnya, kerajaan-kerajaan di Indonesia tidak mengenal konsep meja-kursi. Masyarakat tradisional duduk bersila di atas lantai yang dilapisi tikar, termasuk para raja dan petinggi kerajaan. Konsep meja-kursi baru diperkenalkan di nusantara setelah Belanda masuk dan membawa pengaruh dari Barat. Tempat tidur istana kerajaan-kerajaan di Jawa menggunakan dipan berukir model kuno yang biasanya dilengkapi dengan tirai. Sebagai aksesoris, benda-benda pusaka kerajaan seperti senjata, lukisan, dan barang pecah belah dipajang di beberapa sisi.
Motif dan bentuk furnitur pun bervariasi sesuai dengan khas masing-masing daerah. Ukiran-ukiran kerajaan yang dekat dengan pantai seperti Istana Lima Laras berbeda dengan ukiran dalam Istana Basa yang terletak di wilayah pegunungan.
Sejumlah istana juga dilengkapi dengan meriam di halamannya. Konon, meriam ini bukan untuk berperang, melainkan untuk memanggil rakyat saat raja mengadakan pertemuan terbuka dengan warganya.

 

Gapura

Gapura adalah gerbang masuk menuju istana. Namun, tidak semua istana memiliki gapura. Sebagian istana kini dalam kondisi yang tidak terawat dan tidak diketahui apakah dulunya dilengkapi dengan gapura atau tidak. Akibat pengaruh dari agama Hindu, gapura-gapura istana kerajaan di Sumatera, Jawa, dan Bali didominasi oleh bentuk limas bersusun.

Meskipun kini istana kerajaan dianggap sekadar simbol pemertahanan budaya, keberadaannya memberikan warna tersendiri di tengah gempuran pengaruh asing dalam dunia arsitektur di Indonesia saat ini. Istana kerajaan merupakan salah satu warisan budaya yang perlu kita pelajari untuk lebih mengenal jati diri bangsa.

 

Anda pernah jalan-jalan di tempat dengan bangunan unik menarik? Atau memiliki rumah dengan desain menawan? Share yuk di Rooangku!

 

Dari berbagai sumber