Reading Time: 2 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
warna-kota-humanis

Rooang.com | Bagaimana warna bisa mendorong pembangunan ekonomi satu kota?

Perusahaan AkzoNobel baru-baru ini mengumumkan kerjasama dengan firma arsitektur asal Belanda, OMA, untuk menyelenggarakan sebuah penelitian. Studi tersebut bertujuan untuk memetakan “daerah visual” yang dapat mempengaruhi pertumbuhan sebuah kota. Termasuk di dalamnya hubungan antara warna dan perkembangan ekonomi sebuah kota.

Ton Buchner, CEO AkzoNobel, mengatakan bahwa pada tahun 2050, diperkirakan lebih dari 75% populasi masyarakat dunia tinggal di perkotaan.Sehingga tuntutan untuk membangun sebuah kota yang layak tinggal serta humanis merupakan sebuah kebutuhan yang tak dapat dimungkiri.

Buchner mengimpikan kota yang lebih berenergi dan memberikan inspirasi bagi penduduk yang tinggal di dalamnya. “Niat kami adalah untuk membuat kehidupan kota lebih berenergi, menginsiprasi, dan memberikan semangat bagi masyarakat di seluruh dunia,” kata Buchner dalam keterangan resminya.

Dia menuturkan kerja sama penelitian tersebut akan memberikan kontribusi signifikan untuk menciptakan lingkungan yang lebih humanis untuk warga dunia.

Sebagai bagian dari kerjasama tersebut, AkzoNobel meluncurkan Human Cities Manifesto, yang memfokuskan pada enam elemen penting yang harus hadir dalam pembangunan kota humanis di seluruh dunia. Elemen-elemen tersebut adalah warna, warisan budaya, transportasi, olahraga, pendidikan dan keberlanjutan.

Pada bagian awal manifesto tersebut, tertulis:

Various factors help a city develop a collective identity, but citizens must be given an opportunity to express that identity. A simple way of doing this is to make our cities more “human” by inspiring an emotional connection through the use of color.

Color plays a key role in giving people a sense of place, space and identity, particularly in areas that are devoid of any self-expression. But if you look at what’s happening to our cities, you’ll notice streets full of grey homes, plain glass offices and beige shopping malls. This has to change.

Nobody wants to live in a dull, lifeless world. But many modern developments lack soul and imagination. Cities have to show their true colors. There’s no need to go crazy, but as urbanites, we mustn’t think that applying color to urban spaces is vulgar. It’s poor application that produces the vulgarity.

We are therefore convinced that everyone should be given the chance to benefit from the transformative power of color in their cities.

Rem Koolhas, prinsipal OMA, mengatakan bahwa terdapat hubungan erat antara reaksi emosional manusia dengan warna pada lingkungan tertentu. “Bahkan lebih jauh lagi, warna juga mempengaruhi persepsi kita pada bidang-bidang yang mempengaruhi vitalitas kota: sosial, budaya, dan ekonomi.” kata Koolhas. Ia berharap hasil dari studi yang ia lakukan dapat memberikan sumbangan yang berharga bagi para arsitek, pengembang, pemerintah dan warga kota.

Perusahaan AkzoNobel sendiri telah melakukan beberapa kontribusi sosial dengan mengecat beberapa bangunan bersejarah di Indonesia. Seperti Museum Fatahillah pada 2009, Balai Pemuda Surabaya, dan Benteng Rotterdam Makassar, pada  2010. Perusahaan itu memercayai bahwa melestarikan bangunan bersejarah merupakan bagian dari manifesto kota humanis.

“Kita harus percaya bahwa memberikan sentuhan warna kepada ruang publik adalah penting. Saya percaya bahwa ada hubungan kuat antara warna dan emosi dari setiap masyarakat. Ini dapat memberikan energi dan masyarakat akan merasa betah tinggal di kota mereka,” kata Koolhas.