Reading Time: 5 minutes
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5
Loading...
Rumah-Jengki

Rooang.com | Apakah Anda mengira gaya arsitektur modern-minimalis yang terkenal itu adalah gaya arsitektur asli Indonesia? Bisa saja benar, bisa saja salah. Tapi tahukah Anda, langgam atau gaya arsitektur modern sendiri pertama kali muncul tahun 1900-an (berarti gaya arsitektur ini sudah sangat kuno sekali!) dan berasal dari Eropa? Lalu, yang seperti apakah langgam arsitektur modern asli Indonesia?

Mari kita berkenalan dengan Jengki, langgam arsitektur asli Indonesia. Arsitektur Jengki menjadi pelopor arsitektur di Indonesia pasca kemerdekaan dan berkembang pada tahun 1950-1960. Meski berumur cukup pendek, arsitektur jengki muncul sebagai bentuk perlawanan (dalam bidang arsitektur) pada kolonialisme serta semangat pencarian jati diri arsitektur Indonesia. Kita ingat dalam pelajaran sejarah bagaimana Bung Karno pada tahun yang sama sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan, untuk menunjukkan jati diri bangsa Indonesia kepada dunia.

Istilah jengki memang tidak populer dikalangan anak muda sekarang. Karena istilah ini sebenarnya banyak ditemui di tahun 1970-an, misalkan celana jengki, merujuk pada celana yang ketat dan sangat kecil bagian bawahnya. Juga sepeda jengki, serta perabot yang juga muncul di tahun 1970-an kita kenal dengan sebutan meja jengki. Istilah jengki banyak digunakan untuk menyebut gaya-gaya serta karakter yang tidak populer pada saat itu. Meminjam istilah sekarang, jengki dapat dikatakan sepadan dengan istilah anti-mainstream.

Masih berhubungan dengan sejarah Indonesia, ketika orang-orang Belanda pulang ke negerinya, praktis para arsitek-arsitek Belanda juga ikut kembali meninggalkan orang-orang Indonesia yang menjadi ahli bangunan dan asisten para arsitek Belanda. Sayangnya, arsitek angkatan pertama ini belum memiliki pengetahuan akan arsitektur yang madani. Bahkan, kebanyakan langgam ini dipelopori oleh tukang-tukang bangunan masa itu. Namun dengan semangat penolakan kolonialisme tadi, arsitektur jengki akhirnya lahir dengan bentuk-bentuknya yang unik.

Meski sering disalah-kenal dengan rumah-rumah kolonial peninggalan Belanda (umumnya kita sama-sama menyebutnya dengan rumah kuno), arsitektur jengki memiliki ciri dan bentuk yang sama sekali berbeda dengan arsitektur kolonial. Seperti telah disebutkan di atas, arsitektur jengki lahir dari semangat penolakan kolonialisme. Maka jika kita perhatikan, sebenarnya bentuk arsitektur jengki dan kolonial jauh berbeda. Jika arsitektur kolonialisme didominasi bidang horisontal dan vertikal serta bentuk yang geometris, maka arsitektur jengki secara umum memiliki ciri unik dengan permainan bidang yang tidak simetris, garis-garis lengkung, serta jauh dari kesan kaku.

Atap yang Tidak Lazim

Rumah-rumah jengki umumnya menggunakan atap pelana yang tidak lazim. Banyak atap yang berupa patahan dengan perbedaan ketinggian yang kemudian diselipkan ventilasi sebagai media pembuangan panas pada atap. Selain itu atap-atap rumah jengki memiliki kemiringan yang curam sebagai bentuk tanggap iklim tropis yang curah hujannya tinggi.

 rooang-arsitektur jengki (4)

rooang-arsitektur jengki (3)

rooang-arsitektur jengki (5)

Dinding yang Unik

Sebagai konsekuensi penggunaan atap pelana, rumah-rumah jengki memiliki dinding cukup lebar pada tampak bangunan. Disinilah munculnya kreatifitas arsitek-arsitek jengki menghadirkan tampak bangunan. Dinding yang miring dan membentuk bidang segi lima menjadi ciri yang lazim kita temui pada arsitektur jengki. Selain itu dinding dihias dengan motif-motif alam. Ada pula yang ditutup dengan batu alam yang disusun tidak teratur. Hal ini merupakan penerapan anti-geometri dan anti-tegak lurus pada masa itu.

rooang-arsitektur jengki (16)

Beranda

Keberadaan beranda atau teras merupakan elemen mutlak dalam arsitektur tropis juga disadari oleh para arsitek jengki. Teras berfungsi sebagai ruang penerima tamu, tempat berteduh, dan tak sedikit sebagai aksentuasi pintu masuk. Bandingkan dengan ukuran teras rumah-rumah sekarang yang semakin mengecil, teras pada rumah jengki masik memiliki kesan yang luas dan selaras dengan pekarangan. Atap teras sendiri memiliki bentuk yang berbeda-beda pada rumah jengki sebagai fungsi aksentuasi. Yang umum kita lihat adalah atap beton yang melengkung maupun yang ditekuk-tekuk sebagai perlawanan terhadap bentuk modern yang datar dan monoton (bayangkan, dengan ilmu arsitektur dan konstruksi yang belum madani para arsitek jengki telah menghasilkan desain beton yang ditekuk!).

 rooang-arsitektur jengki (7)

rooang-arsitektur jengki (12)

rooang-arsitektur jengki (8)

Permainan Bentuk Kusen dan Perletakan Jendela.

Masih dengan semangat anti-simetris, bentuk kusen yang asimetris dan permainan letak jendela yang tidak sejajar menunjukkan kesan tersebut. Selain itu banyaknya bukaan jendela sebagai sarana penghawaan dan pencahayaan yang alami berlawanan dengan jendela rumah sekarang yang semakin lama semakin mengecil (desain minimalis, jendela minimal?). Penyesuain desain kusen dan jendela yang lebar dan besar juga menunjukkan bahwa arsitektur jengki tanggap terhadap iklim tropis.

 rooang-arsitektur jengki (17)

rooang-arsitektur jengki (19)

Krawang atau Rooster

Penggunaan krawang atau rooter merupakan penyesuaian terhadap iklim tropis. Fungsi utamanya adalah sebagai ventilasi untuk pergantian udara secara alami. Selain itu dengan bermacam-macam bentuk dari segilima, segitiga, lingkaran, hingga trapesium tak beraturan menjadi ekspresi estetika pada rumah jengki.

 rooang-arsitektur jengki (6)

rooang-arsitektur jengki (10)

Elemen Dekoratif pada Tampak Bangunan.

Elemen-elemen dekoratif merupakan ungkapan para penghuni serta kreatifitas para arsitek jengki. Maka kita menemukan satu ciri dekorasi yang sama antara satu rumah jengki dengan yang lain. Ragam dekoratif kreasi arsitek jengki kebanyakan kombinasi-kombinasi garis lengkung dengan motif alam, ataupun pola-pola garis vertikal dan horisontal. Elemen ini dapat kita lihat pada dinding atau pada kolom bangunan.

 rooang-arsitektur jengki (11)

rooang-arsitektur jengki (13)

rooang-arsitektur jengki (14)

Sayangnya, arsitektur jengki perlahan tapi pasti mulai punah keberadaannya. Padahal, rumah-rumah jengki banyak kita temui di kota-kota besar bahkan sampai daerah pelosok sekalipun. Arsitektur jengki sendiri perlahan hilang tenggelam kalah dari tren arsitektur modern-minimalis itu. Meskipun dibaliknya terdapat makna serta semangat yang besar, arsitektur jengki masih memiliki definisi yang bias, karena arsitektur ini dipelopori oleh arsitek angkatan pertama yang belum memiliki kemampuan arsitektur yang baik, sebagaimana dijelaskan di atas.

Jika Bung Karno mengajarkan kita agar tidak melupakan sejarah, maka sebaiknya kita juga jangan melupakan arsitektur jengki, Bung!

Foto-foto: dokumentasi Kami Arsitek Jengki (KAJ)

3 COMMENTS

  1. Gedung atau bangunan gaya jengki BUKAN lah gaya atau langgam arsitektur Indonesia asli paska kemerdekaan atau paska kolonial. Karena gaya ini benar2 mendunia dan bisa ditemui di banyak negeri2 tropis bekas jajahan belanda, Spanyol, Portugis atau Perancis di Afrika, Asia tenggara dan Amerika tengah atau Latin. Gaya jengki juga banyak dihasilkan oleh arsitek2 Eropa dan Amerika dengan menyesuaikan bentuk2 fisik ketinggian dan variasi atap, tembok, besar kecil jendela dll dengan iklim tropis setempat yang terkenal panas dan lembab. Oleh karena itu rata2 langit2nya tinggi dan hampir semua memiliki beranda atau veranda atau terras di depan rumah untuk bersantai di siang/sore hari yang panas.
    Selain itu juga karena banyak negeri2 Eropa yang ikut menyumbangkan bantuan mereka ke negeri2 bekas jajahan yang baru merdeka dengan mengirimkan arsitek2 handal mereka untuk membangun bangunan2 penting pemerintah atau perumahan rakyat biasa.
    Termasuk bangunan stadion senayan, gedung DPR/MPR, hotel Indonesia, dan bbrp gedung lain yg dibikin oleh arsitek dan insinyur Rusia yang memang saat itu dekat dengan bung karno.