Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
IMG_6389

Rooang.com | Jika di Bandung kita mengenal Gedung Sate yang terkenal itu, di Surabaya, kita punya Balai Kota Surabaya yang terletak di jalan Taman Surya. Bangunan ini dirancang oleh arsitek G.C. Citroen pada tahun 1915 dan selesai pada tahun 1925. Sedikit berbicara tentang G.C Citroen, arsitek kelahiran Belanda ini karya arsitekturnya banyak tersebar dan mewarnai Kota Surabaya. Salah satu desain Citroen yang masih bisa kita nikmati adalah Rumah Sakit Darmo yang dirancangnya pada tahun 1919.  Balai kota Surabaya sendiri adalah salah satu karya masterpiece-nya.

Namun tahukah Anda, bahwa Balai Kota yang kita nikmati saat ini sebenarnya merupakan bagian belakang dari keseluruhan desain yang sudah direncanakan oleh G.C Citroen? Sejak menjadi Gemeente (istilah dalam bahasa Belanda yang sepadan dengan kotamadya) pada 1 April 1906, Surabaya belum memiliki gedung pemerintahan sendiri. Awalnya gedung pemerintahan direncanakan di depan Tugu Pahlawan sekarang. Rencana ini tidak terwujud karena terkendala biaya. Baru pada tahun 1920, ditetapkan di daerah Ketabang (lokasi Balai kota sekarang). Barulah di tahun 1925 sebagian rancangan Balai Kota Surabaya selesai dibangun dan apa yang kita lihat sekarang sebenarnya adalah rancangan yang tidak terselesaikan. Citroen merancang Balai Kota dalam satu kompleks yang terdiri dari 4 massa bangunan. Keempat massa bangunan tersebut dirancang untuk mengelilingi sebuah taman pada bagian tengahnya. Karena terhambat faktor biaya, akhirnya hanya massa bagian belakang saja yang terbangun.

IMG_6359

Sejak dibangun hingga sekarang, bangunan dua lantai ini tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan paling menyolok adalah pergantian bahan atap dari sirap (di masa awal pembangunannya) dengan genteng. Sementara fungsinya tidak mengalami perubahan karena sampai saat ini masih dipergunakan sebagai kantor pemerintah kota Surabaya. Bangunan Balai Kota sampai sekarang tetap kokoh berdiri dengan megahnya serta Citroen dengan cermatnya melakukan pendekatan desain yang ramah lingkungan. Kendati berkebangsaan Belanda, G.C. Citroen tidak melupakan karakter iklim tropis lembab dalam merancang Balai Kota Surabaya ini.

Jika kita menyaksikan bangunan dari depan, terlihat bentuk bangunan yang besar dan kokoh. Ternyata, bangunan Balai Kota Surabaya memiliki bentuk yang tipis membujur dari arah timur dan barat dengan orientasi bangunan menghadap utara-selatan, memiliki tujuan untuk meminimalisir bagian dinding yang terkena panas matahari. Dengan pemilihan denah bangunan yang tipis, penghawaan alami menggunakan sistim sirkulasi udara silang (cross ventilation) menjadi maksimal. Dengan bentuk bangunan yang memanjang, setiap ruangan di dalam Balai Kota memiliki kesempatan untuk mendapatkan pencahayaan alami.

 IMG_6366

Tidak hanya berhenti sampai di situ, seluruh bangunan dikelilingi dengan selasar. Hal ini merupakan salah satu prinsip dari arsitektur tropis yang keberadaannya berfungsi untuk mengurangi tampias air hujan masuk langsung ke dalam ruangan, mengingat curah hujan di Indonesia yang demikian tinggi. Selain itu mengurangi paparan sinar matahari yang langsung mengenai permukaan dinding. Pada selasar kita juga dapat melihat keindahan detail ornament baik berupa detail ornament pada kolom, penataan pola lantai, kusen kayu jati maupun detail-detail unik lain.

IMG_6363

Meski melalui pendekatan desain yang ramah lingkungan, dalam merancang G.C. Citroen masih terpengaruh gaya Amsterdam School dan De Stijl yang pada saat itu terkenal dan diminati di Negara Belanda. Sedikit banyak dapat kita rasakan pada bentuk balok dan kubus yang saling bertumpuk pada puncak kolom yang menunjukkan pengaruh aliran Amsterdam School.

IMG_6405

IMG_6403

IMG_6374

Jika kita belajar dari sejarah bagaimana bangunan Balai Kota Surabaya didesain, pendekatan desain ramah lingkungan memang sudah diperhatikan untuk mendapatkan bangunan yang nyaman bagi penghuni maupun lingkungannya. Bayangkan ketika jaman kolonial, meskipun dari Belanda, Citroen memahami karakter iklim tropis Indonesia dan menerapkan penyelesaian yang terbaik pada desain. Bagaimana dengan desain sekarang?