Reading Time: 7 minutes
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5
Loading...
Sonny-Sandjaya-THELIGHT_3

Rooang.com | Artikel wawancara dengan Sonny Sandjaya ini sudah pernah diterbitkan di majalah fotografi The Light Magazine edisi kedua pada tahun 2007. Judul aslinya adalah “Architectural Photography, Bukan Sekedar Photography”. Redaksi Rooang menyuguhkan kembali wawancara ini sebagai pelengkap artikel mengenai profil Sonny Sandjaya yang kami tulis. Selamat membaca! 

Sonny Sandjaya - THELIGHT_5

Architectural photography atau fotografi arsitektur memang belum menjadi sebuah spesialisasi dalam fotografi yang banyak peminatnya di Indonesia. Mungkin karena pengetahuan yang harus dimiliki bukan sekedar pengetahuan fotografi tapi juga pengetahuan arsitektur. Kali ini kami mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Sonny Sandjaya, seorang fotografer arsitektur yang bersama istrinya sudah menerbitkan lebih dari 30 judul buku arsitektur dan interior.

 

Bagaimana anda bisa terjun ke spesialisasi fotografi arsitektural dan interior?

Dulu waktu saya kerja di Femina, saya merasa saya tidak bisa menghadapi model dengan baik. Saya cenderung kaku menghadapi model. Mungkin karena memang saya nggak bakat untuk berhadapan dengan model. Kalau kata orang, kalau kamu naik pesawat dari mulai naik sampai turun lagi tidak ngobrol dan akrab dengan orang lain di samping kamu, maka kamu tidak cocok untuk menjadi fotografer fashion atau model. Nah, saya tipe orang yang seperti itu. Saya kalau motret lebih konsentrasi sama hal-hal seperti lightingnya, komposisinya, jadi nggak bisa kalau disuruh ngarahin model maka dari itu saya lebih senang memotret interior dan arsitekturalnya. Nah setelah menerbitkan beberapa buku bareng istri saya yang juga kerja di Femina, saya memutuskan untuk kuliah lagi di RMIT, Australia.

 

Sudah jadi fotografer tapi malah kuliah lagi?

Nah waktu itu, saya bawa buku-buku arsitektur hasil foto saya ke ketua jurusan di RMIT saya ditanya hal yang sama, “ngapain lagi kamu sekolah di sini, kamu kan sudah jadi fotografer?” dan saya jawab karena waktu itu saya berpikir, beberapa tahun lagi akan ada globalisasi. Jadi saya pikir kalau bisa upgrade knowledge saya kan lebih bagus.

Pokoknya pada akhirnya dia bilang “gimana kalau kamu saya masukkan ke tahun ke tiga? Kalau Anda lulus semua ya bagus, kalau gagal ya ngulang”. Nah di tahun ketiga itu namanya professional practice. Jadi saya dikasih 10 orang nama fotografer lulusan RMIT yang sudah sukses jadi fotografer dan saya harus minta salah satu dari mereka untuk jadi mentor saya. Dari 10 nama itu, ada satu yang bersedia, itupun ketika saya tunjukin buku-buku saya, dia malah bilang, “Ini sih bukan arsitektur, ini interior semua.”

Setelah beberapa lama saya akhirnya belajar banyak dari mentor saya itu. Satu hal yang jelas beda dengan di Indonesia adalah, kalau di sana kalau ada biro arsitek baru selesai Bangun rumah atau mal atau perkantoran pasti mereka panggil fotografer arsitektur profesional, bukan fotografer pre-wedding atau part-time photographer kayak di sini.

Sonny Sandjaya - THELIGHT_1

Apa bedanya fotografi arsitektural dengan interior?

Sebetulnya ada satu pemisah yang jelas di antara keduanya. Kalau kita motret di dalam ruangan, tapi sisi yang diangkat adalah sisi tiga dimensi dari ruangan itu bukan elemen interiornya maka itulah fotografi arsitektural. Sementara kalau yang diangkat elemen interiornya maka jadi fotografi interior. Tapi kalau motret dari luar bangunan, kebanyakan jadinya fotografi arsitektural. Nah kalau foto-foto hotel, resort, kebanyakan interior.

Lain halnya dengan foto Museum atau bangunan seperti gedung dua delapan, itu elemen interiornya nggak ada, yang ada rangka-rangka bangunan dan bidang tiga dimensi jadinya fotonya foto arsitektural. Jadi intinya pada fotografi arsitektural ada dimensi ruang, skala proporsi, sementara interior hanya elemen interiornya yang diangkat.

 

Mana yang anda tekuni, arsitektural atau interior?

Saya dua-duanya.

 

Siapa saja sih yang pakai jasa fotografer arsitektural dan interior?

Yang pertama penggunaannya bisa untuk editorial. Fotografi arsitektural biasa dipakai majalah-majalah arsitektural, kalau di luar negeri ada majalah architecture review. Selain itu biro-biro arsitek juga menggunakan jasa fotografi arsitektural untuk memotret hasil bangunan yang baru saja selesai dibangun untuk jadi portfolio mereka. Selanjutnya bidang yang biasa pakai jasa kita ini adalah property, building material, resort, hotel, sanitair, keramik, cat. Nah kalau fotografi interior yang commercial pasti motret hal-hal semacam itu. Yang terakhir adalah corporate. Jadi pemotretannya untuk keperluan perusahaan.

 

Apakah sudah cukup besar market dari spesialisasi ini?

Kebanyakan sih masih kerja di media, karena memang pasarnya baru mulai tumbuh. Jadi kalau di Indonesia beberapa tahun yang lalu ada biro arsitek baru selesai bangun rumah mereka nggak panggil fotografer arsitektural, tapi panggil aja media. Karena lebih enak, mereka dapat fotonya, dapat publikasi, gratis pula. Ada juga biro arsitek yang mempercayakan pemotretan hasil kerjaan mereka kepada pegawainya yang hobby fotografi.Nah masalahnya baru muncul ketika mau pameran, begitu digedein gambarnya pecah, karena kameranya belum professional.

Tapi, sekarang sudah mulai tumbuh kesadaran itu. Banyak arsitek yang muda-muda sudah sadar akan hal ini. Jadi setelah selesai Bangun rumah, mereka panggil fotografer arsitektural profesional. Saya selalu bilang, fee untuk bayar fotografer arsitektural nggak seberapa dibanding nilai bangunan yang dibangun dan fee arsiteknya kok.

Yang paling penting buat para arsitek, fotolah bangunan yang baru selesai dibuat, jangan setelah ditempati karena takutnya nanti sudah ada yang berubah, ada yang bergeser, ditambahi macam-macam lagi. Akhirnya jadi nggak bisa dipakai untuk portfolio.

 

Kalau saya lihat, sebagian besar atau bisa dibilang semua foto arsitektur memang dibuat dengan obyek bangunan yang memang sudah bagus, nah bagaimana kalau yang mau difoto rumah yang biasa-biasa saja?

Setidaknya kita bisa menolong dari komposisi atau lightingnya. Mungkin ambilnya sore-sore supaya lebih dramatis. Dan harus diingat juga, hal ini mungkin ada hubungan dengan siapa yang memotretnya. Artinya kalau fotografernya sudah terkenal pasti dia akan dapet kerjaan bangunan-bangunan yang bagus karena bayarannya pasti sudah lebih mahal.

Jadi agak jarang fotografer arsitektural yang bagus motret rumah yang biasa-biasa saja.

Sonny Sandjaya - THELIGHT_4

Apa kemampuan utama yang harus dimiliki oleh seorang fotografer arsitektur?

Yang paling utama jelas komposisi. Selain itu, kita juga harus tau apa yang mau di highlight.

Misalnya EX Plaza. Kalau untuk pehobi yang menarik karena bagus permainan warnanya, patternnya, miring-miringnya. Jadi bagusnya sebagai obyek fotografi tapi konsep dari arsiteknya nggak kelihatan di fotonya. Padahal setelah saya ngomong dengan yang buat, ternyata arsitektur luarnya dibikin miring-miring karena konsep gaya sentrifugal dari putaran jadi seperti terlempar dari pusaran.

Nah setelah tau konsep arsitekturnya, baru saya foto supaya bisa kelihatan konsepnya itu. Maka dari itu banyak fotografer arsitektural yang memang background pendidikannya arsitektur, bukan fotografi.

 

Kenapa bisa begitu?

Mungkin memang karena kebutuhannya memang sedikit beda dan juga pengetahuannya beda. Kalau arsitek bisa tahu hubungan antar ruang. Jadi kalau dikasih gambar arsitekturalnya bisa ngerti. Sementara fotografer awam mana tahu hubungan antar ruang. Makanya fotografer awam nggak akan ngerti gambar arsitektural, mereka lebih ngerti kalau dikasih maket.

 

Masih mengenai komposisi, apakah beda komposisi untuk fotografi arsitektural dengan fotografi lainnya?

Prinsipnya sama saja. Ada rule of third dan sebagainya.

 

Bagaimana dengan lighting?

Lighting di fotografi arsitektural masih banyak bergantung pada matahari. Artificial lighting nggak begitu bisa diandalkan karena bidang yang difoto besar sekali, sehingga susah untuk pakai pencahayaan buatan. Kecuali kalau pakai continuous light yang bisa sampai 12.000 watt.

Nah lain halnya dengan interior. Interior justru banyak pakai artificial lighting, bisa sampai 20 buah spot. Jadi bagus memang, biarpun nggak alami. Dan mungkin ini terpengaruh sama commercial, yaitu bagaimana bikin foto yang lebih nyaman dilihat walaupun nggak alami.

 

Artinya, untuk jadi fotografer arsitektural profesional investasi di peralatan lebih minim dong?

Betul, karena hanya bergantung pada kamera. Artificial lighting nggak begitu banyak pakai.

 

Kalau soal technical lighting, kalau di fotografi lain kan ada main light ada fill in, dan lain sebagainya, bagaimana dengan di arsitektur?

Kalau di fotografi arsitektur, prinsip dasar pencahayaannya adalah menyeimbangkan. Fotografi arsitektur itu kebutuhannya adalah sebagai pengganti mata artinya. Fotonya harus sedekat mungkin dengan seperti dilihat oleh mata. Jadi sebatas nggak ada bagian gelap yang kelewat gelap sampai hilang detailnya, begitu juga dengan bagian terangnya, ya nggak masalah. Jadi gunanya lighting adalah untuk membantu supaya sama terlihat dengan mata, selain sebagai penyeimbang.

Nah, di sini kelemahan arsitektur yang mau jadi fotografer. Kebanyakan mereka nggak begitu menguasai lighting. Sehingga waktu dilihat dengan mata bagus, tapi waktu di foto kok ada yang gelap, ada yang terlalu terang. Padahal hal ini bisa dibantu dengan lighting supaya seimbang itu tadi.

Yang nggak kalah penting juga adalah color correction dan white balance. Makanya saya kalau motret masih selalu pakai grey card.

 

Ada tips nggak yang bisa dibagikan untuk yang sedang belajar fotografi arsitektural?

Yang pertama, kalau motret bangunan dari luar cari momen terbaiknya. Misalnya sore hari. Nah supaya ada dimensinya, cari waktu dimana cahaya di luar (langit) seimbang dengan di dalam bangunan tersebut. Biasanya 10 menit sebelum sampai sesudah itu golden timenya untuk motret bangunan seperti ini.

Hal lain yang harus diingat adalah fotografi arsitektural dan interior ini bisa jadi berbeda antara yang professional (artinya sebagai profesi) dan yang masih sebagai hobi. Kalau yang hobi yang diambil biasanya lebih sebagai elemen fotografi seperti sudut-sudut ekstrem, lengkung, kontras, warna, pattern, shadow dan hal ini nggak akan kepakai untuk professional, biarpun secara fotografi cukup bagus.

Dan hal yang nggak kalah pentingnya adalah perbanyak referensi. Lihat majalah arsitektur, lihat website, lihat buku-buku arsitektur. Karena dari situ kita bisa belajar banyak tentang arsitektur tanpa harus sekolah arsitektur. Paling tidak dengan membaca referensi arsitektural kita jadi tau apa yang disukai dan diperlukan arsitek. Kalau mau serius jadi fotografer arsitektural professional, referensinya ya dari majalah dan buku-buku arsitektural, jangan dari buku-buku dan majalah fotografi amatir. Karena seperti sudah saya jelaskan tadi keperluannya beda, sehingga cara pemotretannya juga beda.

Ada satu lagi pesan saya, kalau ini untuk fotografi apapun ya. Banyak orang yang dikenal orang sebagai pengajar fotografi padahal dia mau dikenal sebagai fotografer profesional. Nah kalau gitu kan salah. Artinya jangan sampai apa yang kita mau berbeda dengan apa yang diketahui orang. Makanya dulu ada teman saya yang bilang, kalau baru lulus kuliah jangan ngajar dulu. Mendingan kerja dulu, cari portfolio yang banyak dan bagus, sampai sudah dikenal sebagai fotografer profesional baru mulai ngajar. Supaya nggak dikenal sebagai pengajar. Kecuali kalau memang maunya dikenal sebagai pengajar fotografi sih.

 

Pertanyaan terakhir, pernah nggak anda menolak kerjaan?

Saya selalu melihat pekerjaan dari 3 sisi, pertama bayarannya, kedua kliennya, ketiga projectnya. Kalau minimal salah satu dari tiga itu menarik, akan saya kerjakan. Kalau tidak ada yang menarik dari ketiganya, mendingan nggak diambil.

 

Sumber foto: The Light Magazine edisi 2/2007