Reading Time: 5 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Bangunan-Jengki-Rumah-Salim-Martak

Rooang.com | Gaya arsitektur jengki tersebar di Indonesia pada tahun 1950 hingga 1960-an. Kehadirannya menyelinap secara sporadis ke banyak wilayah di Indonesia dalam waktu yang berdekatan. Jika merujuk pada pendapat Prof. Josef Prijotomo, sebagian besar pencetus lahirnya gaya jengki adalah lulusan STM yang pernah menjadi aannemer (ahli bangunan) di perusahaan Belanda pada saat arsitek Belanda harus pulang kampung ke negerinya.

Semangat untuk berdiri di kaki sendiri tanpa bergantung pada bangsa asing menimbulkan jiwa “memberontak”, menjadi dasar mengubah keteraturan elemen bangunan peninggalan kolonial yang biasanya berlandaskan fungsionalisme. Pengetahuan yang dimiliki anak-anak lulusan STM ini hanya terbatas pada pengetahuan tipe dan bentuk bangunan, belum menguasai hingga ilmu merancang bangunan. Setelah sekitar satu dekade masa kejayaan jengki kemudian lahir insinyur-insinyur baru dari beberapa perguruan tinggi dalam negeri. Gaya jengki kembali tenggelam dan hanyut terbawa oleh arus ilmu rancang bangun yang diajarkan kepada arsitek-arsitek baru lulusan perguruan tinggi tersebut. Oleh karena itu, tidak terlalu banyak bangunan jengki yang sempat didirikan apalagi bertahan dalam jangka waktu yang begitu singkat.

Karena arsitektur jengki hanya memiliki waktu yang singkat untuk menunjukkan diri, tidak semua kota di Indonesia sempat disinggahi olehnya. Beruntunglah Surabaya menjadi salah satu kota yang memiliki koleksi berbagai macam bangunan jengki dengan rupa bangunan yang tergolong unik. Beberapa di antaranya sempat saya telusuri bersama teman-teman di komunitas Kami Arsitek Jengki (KAJ). Berikut ini beberapa penelusuran yang sempat saya simpan dalam catatan.

1. Pabrik Cokelat Cenderawasih

Bangunan Jengki Pabrik Cokelat Cendrawasih 1

Pabrik ini menjadi destinasi favorit setiap kali saya harus menceritakan jengki pada orang yang menginginkannya. Pabrik coklat Cendrawasih memiliki cerita singkat yang cukup relevan jika dihubungkan dengan asal-usul jengki sendiri.

Bentuk yang heroik dan “centil” menghiasi wajah pabrik cokelat. Material beton dilipat, disusun membingkai, ditempeli bebatuan, dilubangi, dibentuk tulisan – semua bagian bidang diberi penegasan secara berlebihan. Saya lebih suka menyebutnya permainan lempeng supaya terdengar lebih sederhana. Semua bagian lempeng diutak-atik tanpa mengenal istilah simetri, keterhubungan antarbagian pun tidak begitu dipertimbangkan. Sehingga ekspresi jengki jarang sekali terlihat balance atau bahkan unity. Mungkin lebih tepat dengan pendekatan “yang penting keren”.

Pada bangunan pabrik cokelat ini wajah bangunan dijadikan prioritas, hal ini mungkin dilakukan oleh para pengrajin bangunan sebagai usaha untuk menunjukan kemampuannya mengolah bahan bangunan menjadi bentuk yang indah. Terlihat bahwa perlakuan para pengrajin terhadap bahan bangunan yang digunakan tidak hanya sekedar sebagai bahan penutup bangunan. Pertanyaan yang muncul di benak orang yang baru melihat jengki biasanya untuk apa bentuknya dibuat seperti itu? Pada gaya jengki, pertanyaan seperti itu tak perlu dijawab. Karena unsur keindahan memang lebih diutamakan ketimbang fungsinya.

“Arsitekturnya saat itu masih sebagai seni, belum mengandung ilmu.” Begitulah penegasan Prof. Josef Prijotomo terhadap gaya jengki.

 

2. Gerbang Taman Makam Pahlawan

Bangunan Jengki Gapuran Taman Makam Pahlawan Surabaya

Berbeda dengan Pabrik Cokelat Cenderawasih, pada bangunan ini, gaya jengkinya terlihat lebih rapi. Permainan lempengnya berupa beton yang dilipat berulang. Tiap lipatan membentuk kurva yang diulang hingga berhenti di bagian tengah kurva, sebuah penyelesaian yang terlihat tanggung. Kolom penyangganya juga dibuat tidak simetri, karakteristik seperti ini menjadi salah satu khas bangunan jengki yang ada pada beberapa bangunan lainnya seperti Wisma Djendral Ahmad Yani di Gresik.
Kalau jengki yang rapih begini, saya lebih biasa menyebutnya “jengki sekolahan”. Bentuknya sudah mulai menyentuh aturan komposisi, simetri, keseimbangan, aksentuasi, dan sebagainya yang berupa teori-teori estetika yang dikenal di bangku kuliahan hingga kini.

 

3. Rumah Kolonel Soebandi

rooang-arsitektur jengki (16)

Selain bangunan komersil atau publik, saya juga senang untuk mengunjungi rumah tinggal yang berbau jengki. Salah satu rumah yang paling sering saya kunjungi adalah kediaman keluarga Jenderal Soebandi di jalan Dokter Soetomo 73.

Rumah ini awalnya adalah peninggalan kolonial. Lalu pada tahun 1960, didatangkanlah para pengrajin bangunan dari Madiun yang dikepalai oleh Sudrajat untuk merenovasi bagian ruang tamu hingga teras rumah ini dengan gaya jengki. Tentunya permintaan tersebut atas keinginan dari almarhum Kolonel Soebandi sendiri. Keahlian, kecermatan, ketekunan, dan kecemerlangan para pengrajin bangunan dapat ditemui di setiap sisi bangunan. Semuanya diberi penyelesaian yang sangat mendetail. Setiap bagian fasadenya baik depan dan samping diisi dengan jenis bebatuan yang berbeda-beda. Bagian jendela depan dihiasi dengan sirip miring-miring, dipadukan dengan sosoran yang asimetris. Seperti khas rumah jengki pada umumnya, gewel atau dinding yang menahan atap diberi roster udara dengan komposisi tertentu sesuai kreasi pengrajinnya. Penyelesaian gaya khas jengki di fasade bekas rumah kolonial ini sebenarnya masih tanggung, ia meninggalkan beberapa kesan simetris dari bangunan kolonial yang ada sebelumnya. Seperti misalnya pada susunan roster di bagian gewel yang dibuat sama komposisinya. Sehingga saya menyebut bangunan semacam ini disebut dengan sebutan “jengkol” atau jengki setengah kolonial agar lebih menarik.
Pada bagian dalam juga tidak ketinggalan detilnya. Bagian lampu diletakan di sudut-sudut ruangan dengan model penerangan indirect light. Lantai ruangan disusun seperti mozaik yang jika dilihat dari jauh menyerupai karpet. Begitu juga dengan lubang dinding penghubung antarruangan, terdapat bentuk “miring-miring” ciri khas jengki.

 

4. Rumah “S”, Ampel

rooang-arsitektur jengki (3)

Rumah tinggal bergaya jengki lain yang menarik adalah Rumah S di daerah Kampung Ampel. Rumah ini, boleh dibilang, menjadi saksi keuletan para tukang. Hal tersebut dapat dilihat dari susunan bahan bangunan yang dipasang dengan liar. Bingkai jendela miring-miring tidak simetris, sedangkan dindingnya ditempeli susunan batu yang juga tak kalah berantakan. Jengki-jengki yang relatif liar seperti ini saya biasa menyebutnya “jengki kampungan”, maksudnya seperti karakter sebuah kampung yang biasanya tidak tertata rapi namun memiliki cerita masing-masing. Bagi saya, kesan chaos itu justru menimbulkan estetika yang puitis. Seakan kemunculannya membawa sebuah sebuah pesan atau sikap tertentu.

Kemungkinan besar jengki yang liar seperti ini dibangun di awal kemunculannya, sekitar 1950 saat belum ada arsitek lulusan universitas sama sekali.

Jengki kampungan juga dapat ditemukan di daerah perumahan Pucang Anom. Di sana, terdapat beberapa kompleks permukiman yang gaya rumahnya serupa. Kondisinya memang sudah banyak yang sudah diperbaharui dengan model rumah masa kini, namun beberapa peninggalan yang masih tersisa biasanya ada pada bagian gewel dan atap bangunan di mana roster dan teritisan / sosoran masih menghiasi bagian tersebut. Konon katanya kompleks perumahan ini dibangun sesuai permintaan presiden pertama Indonesia untuk memberikan perumahan bagi rakyat di awal kemerdekaan. Alhasil bentuk bangunan yang ada sesuai dengan semangat zamannya, semangat jengki.

 

5. Rumah Salim Martak

rooang-arsitektur jengki (15)

Yang terakhir, bagi Anda pecinta arsitektur yang sedang ingin berkeliling Surabaya, ada juga sebuah rumah tinggal yang patut dikunjungi. Tampilannya cukup berbeda dari rumah-rumah jengki yang sebelumnya saya telusuri. Rumah yang terletak di Jalan Untung Suropati ini adalah milik keluarga Salim Martak.

Menurut cerita, Salim Martak membeli Mess Angkatan Darat bergaya Kolonial di lokasi ini pada tahun 1952 dan kemudian pada tahun 1963 ia merenovasinya, memperluas pada bagian depan dan menambahkan lantai kedua dengan desain dari seorang pemborong bernama Timboel.

Sebenarnya beliau tidak tahu bahwa desain tersebut mengusung gaya jengki, beliau hanya diberikan beberapa alternatif desain dan beliau memilih gaya ini. Fasade yang berubah total dan kemudian membuat bangunan ini terlihat cantik, rumah ini kemudian sering digunakan sebagai objek foto oleh orang-orang, oleh karena itu Salim Martak masih setia untuk mempertahankan bangunan ini. Sentuhan desain pada bagian atap rumah Salim Martak hampir serupa dengan gerbang taman makam pahlawan, menggunakan pengulangan kurva yang berakhir tanggung. Keterampilan tukang diperlihatkan lewat pengerjaan lubang-lubang udara di sekujur fasade bangunan.

1 COMMENT

  1. It is not better to select high-heeled shoe, if
    you are an obese. Media doesn’t really know how to handle it and this was
    never more clear when we saw the Vogue Italia cover for June 2011.
    The Fashion Industry is totally focused on how people look and larger people do not
    figure on mainstream fashion’s radar.