Reading Time: 4 minutes
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5
Loading...
Dome-House-Jogja

Rooang.com | Berkunjung ke Jogjakarta, berarti berkunjung ke kota budaya dan kota pelajar. Banyak sekali objek wisata yang bisa dinikmati terkait kedua hal itu. Namun, marilah melihat sisi lain dari Jogjakarta. Kali ini, redaksi Rooang menemukan fenomena unik di Dusun Ngelepen, Prambanan, Jogjakarta. Di sana berdirilah rumah-rumah berbentuk dome, yaitu bulat setengah lingkaran. Sekilas, bentuknya mirip dengan rumah orang-orang eskimo. Berbeda sekali dengan rumah tradisional Jawa, bukan?

rumah teletubbies 2

Rumah dome dibangun pascagempa yang sempat terjadi di kawasan Dusun Sengir, Sumberharjo, Jogjakarta pada 2006. Saat itu ada satu daerah perbukitan dusun yang sempat ‘ambles’ hingga enam meter lebih. Karena sudah tak layak huni, warga Dusun Sengir direlokasi ke perkampungan baru yang kini dikenal sebagai ‘New Ngelepen’.

Pemerintah bekerja sama dengan World Association of Non-governmental Organizations (WANGO) dan the Domes for the World Foundation (DFTW) membuat desa baru dengan konsep rumah domes.  Biaya pembangunan masing-masing rumah ialah Rp 80 juta rupiah. Satu rumah dome dapat diselesaikan selama tiga hari.

Teletubies House

Logo Domes For The World

Rumah Teletubbies, begitulah masyarakat sering menyebutnya. Teletubbies adalah sebuah tayangan anak-anak yang pernah mendunia di awal tahun 2000-an. Rumah Teletubbies ini merupakan satu-satunya kompleks seperti ini di Indonesia. Domes for the World membuat rumah Dome di banyak negara, seperti Kenya, Thailand, Dan India. Rumah – rumah Dome di Jogjakarta ini menjadi yang pertama di Indonesia. Rumah Dome mempunyai diameter 7 meter dengan tinggi 4,6 meter. Juga dilengkapi 2 pintu, 4 jendela dengan kamar sebanyak 2 buah. Jalanan yang nyaman dan taman yang hijau mengelilingi rumah Dome ini.

Berbeda dengan hunian, rumah dome yang digunakan sebagai masjid dan aula memiliki garis tengah 9 meter dan hanya terdiri dari satu lantai. Rumah dome yang difungsikan sebagai MCK komunal juga memiliki diameter yang lebih luas dibandingkan hunian. Satu MCK disekat menjadi 8 bagian dan digunakan oleh 12 keluarga yang tinggal dalam satu blok.

Bentuk bulat dari rumah Dome ini dibuat dengan cetakan berbentuk balon (airform) kemudian di atas cetakan balon tersebut dicor beton semen. Struktur bangunan rumah dome ini tahan gempa, tidak ada sambungan. Sambungan itulah yang merupakan titik lemah bangunan saat terjadi gempa. Letaknya berada di bawah bukit, sangat nyaman untuk menginap.

Di dalamnya mencakup ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi. Sebuah tangga putar digunakan untuk mencapai lantai atas. Lantai atas sendiri menggunakan konstruksi kayu dan berbahan kayu. Lantai kayu ini tidak seluruhnya menutup bidang lantai atas karena tepat di tengah-tengah dibuat bagian terbuka sehingga mereka yang ada di lantai atas dapat melihat di lantai bawah. Untuk keamanan di bagian terbuka di buat semacam pagar. Konstruksi setengah lingkaran memang memberikan solusi tepat pada tata ruang di Rumah Dome ini. Tepat di tengah-tengah puncak Rumah Dome terdapat ventilasi udara.

Di kompleks Teletubbies ini juga terdapat berbagai fasilitas pendukung perumahan seperti sarana bermain anak, masjid, ruang pameran, dan fasilitas-fasilitas lain yang juga berbentuk setengah bola. Berdasarkan data dari Domes for The World, lebih dari 370 buruh lokal terlibat dalam konstruksinya, yang dilaksanakan kurang dari 6 bulan.

Donatur tunggal dari pembuatan rumah tersebut adalah Ali Alabar. Ali Alabar adalah seorang pemilik Emaar Property Dubai. Rumah Teletubbies di Yogyakarta ini diresmikan oleh Menteri Pemukiman Hidup, Prof. Dr. Alwi Sihab. Acara peresmian dan penyerahan rumah Teletubbies dilakukan pada tanggal 29 April 2007.

pemotongan pita rumah teletubbies

rumah teletubbies 1

Dibangun dengan konstruksi besi dinding yang terkait dengan pondasi, membuat rumah mungil ini tahan angin dan goncangan gempa bumi. Memang, rumah-rumah ini dibangun sebagai rumah anti gempa. Keunikan bentuk rumah Dome ini tak jarang mengundang perhatian wisatawan yang melintas. Menanggapi hal ini, masyarakat sekitar melihat sebagai peluang untuk membuka desa wisata. Kompleks Rumah Dome kemudian menjadi obyek wisata menarik yang banyak dikunjungi orang.

Sebagai sarana tambahan bagi wisatawan yang datang, di komplek perumahan ini juga disediakan wahana permainan bagi anak-anak seperti kereta mini, ayunan, papan seluncur dan jungkat jungkit. Pengunjung yang datang juga bisa masuk ke dalam rumah untuk melihat suasana rumah Teletubbies. Pengunjung yang tertarik ingin menginap juga tersedia kamar untuk menginap.Kawasan wisata rumah Teletubbies juga menyediakan area perkemahan untuk pengunjung yang ingin berkemah di dekat rumah Teletubbies tersebut.

Keberadaan rumah Dome membawa dampak positif bagi para penduduk yang menjadi korban gempa bumi tujuh tahun silam terutama dampak ekonomi dan sosial. Dari segi ekonomi warga mendapat penghasilan tambahan dan bahkan ditambah dengan mendirikan warung-warung kecil. Sedangkan dari segi sosial, warga mampu bersosialisi dengan penduduk sekitar dan wisatawan yang datang.

Beberapa keterbatasan memang masih dialami warga, diantaranya rumah Dome yang sempit dan fasilitas MCK yang berada di luar rumah. Walaupun, keberaaan rumah Dome bagi warga memang belum sepenuhnya mengganti kerugian akibat gempa bumi. Namun keterbatasan ini tidak menghalangi warga untuk bangkit dari keterpurukan.

 

“Technology has thankfully shrunken our world to the extent that we can no longer ignore the plight of our neighbors and has given us the means by which we can take care of each other better. We must do that. There is really no other option.

“While building New Ngelepen, we will have the opportunity to find more sites for reconstruction and formalize methods of building new homes on existing foundations where people are still living amongst rubble.

“We will own the tools and have local crews ready to build all over the Jogja area. This is when building houses gets cheap and reconstruction efforts en masse can start.

“We will also provide newly trained crews with assistance in starting their own dome building companies.”

— David B. South, Inventor of the Monolithic Dome and the Monolithic EcoShell Dome.

 

Sumber:

http://www.dftw.org/

http://id.wikipedia.org/…/Rumah_Teletubbies

http://www.goindonesia.com/id/indonesia/jawa/yogyakarta/kegiatan_wisata_yogyakarta/rumah_teletubies_yogyakarta

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2014/01/02/ada-rumah-teletubbies-di-yogyakarta-623581.html