Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Pembukaan-APSDA-2014

Rooang.com | Rangkaian acara Asia Pacific Space Designers Alliance ke-25 resmi di buka pada hari Senin (16/9) kemarin. Solo dan Jogja dipilih sebagai tempat penyelenggaraan APSDA kali ini. Pada acara pembukaannya kemarin, Fancis Surjaseputra, ketua umum Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) sebagai penyelenggara, mengatakan bahwa kedua kota ini dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat dan dianggap memiliki identitas yang kuat. “Baru kali ini APSDA diselenggarakan di dua kota sekaligus,” ujar Francis. Ini merupakan kali kedua bagi Indonesia sebagai tuan rumah penyelanggaraan APSDA sejak tahun 2000 silam.

Lea Aziz, general secretary APSDA, bercerita bahwa penentuan Solo dan Jogja sebagai tempat penyelenggaraan APSDA diperoleh melalui proses pitching empat tahun yang lalu di Beijing. Solo dipilih sebagai tempat untuk mengadakan general assembly, sedangkan Yogyakarta dipilih sebagai lokasi design congress. “General Assembly pada setiap pelaksanaan APSDA berfungsi untuk memetakan beberapa program dan merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengantarkan industri desain interior di Asia Pasifik lebih baik lagi,” ujar Lea.

Acara general assembly APSDA kali ini diikuti oleh delegasi khusus dari 16 negara anggota dan 15 asosiasi desain interior di Asia Pasifik. Beberapa isu yang mengemuka dalam penyelenggaraan APSDA kali ini salah satunya adalah dimulainya pasar bebas ASEAN (AFTA) di akhir tahun 2015. Francis Surjaseputra mengatakan bahwa pada APSDA kali ini akan dibicarakan strategi agar para desainer interior Indonesia dapat meluaskan sayap untuk menggarap berbagai proyek di negara lain di ASEAN. “Maka, sejak beberapa tahun yang lalu kami sudah mendiskusikan untuk diadakan sertifikasi bagi para desainer interior,” kata Francis.

Pembukaan APSDA 2014_3

Ia juga bercerita bahwa sejak dua tahun yang lalu, HDII menyiapkan sebuah program bernama APEX, sebuah wahana pertukaran pengalaman (exchange) desainer interior antar negara. “Program tersebut akan kami sahkan kali ini,” kata Francis,”Jadi nanti desainer Indonesia dapat diundang untuk merasakan project di luar negeri, begitu juga sebaliknya.” Mekanisme pertukaran ini diharapkan bsia menjadi ajang latihan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. “Selama ini, untuk mengerjakan project di luar negeri kami selalu terganjal masalah standar profesi dan birokrasi pajak,” kata Francis.

Selain itu dinamika dan pertumbuhan profesi desainer interior dalam negeri juga mendapat perhatian dari pemerintah. Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan IPTEK (EK MDI) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo, mengatakan bahwa Indonesia sebagai anggota APSDA juga harus meningkatkan kompetensi desainer interior lokal. agar dapat bersaing pada Pasar Bebas ASEAN. Apalagi, permintaan akan profesi desainer interior semakin meningkat seiring dengan perkembangan kota dan industri properti di Indonesia. Kebutuhan akan perancangan sebuah ruang semakin tinggi, terutama di bidang perhotelan. Setiap tahun, ratusan perancang interior baru muncul dari 29 universitas di Indonesia yang memiliki program studi Desain Interior. “Anggota HDII di Jakarta saja saat ini sebanyak 1600 orang, belum terhitung dari kota besar lainnya seperti Surabaya,” ujar Lea Aziz.

Pembukaan APSDA 2014_2

Pelaksanaan general assembly diharapkan menjadi wadah pertemuan keahlian, wawasan, pengalaman, dan kekayaan budaya masing-masing negara anggota APSDA. Lea Aziz mengatakan bahwa,“Industri desain interior di Asia Pasifik memiliki potensi yang sangat tinggi dalam pemetaan industri global, kami ingin memperkuat posisi ini dengan melakukan langkah-langkah strategis, terutama meningkatkan daya saing sekaligus melindungi pasar dan kekayaan intelektual.”

Selama di Solo, peserta APSDA juga juga akan mengikuti beberapa program lainnya seperti creative tour mengunjungi Go Tik Swan, Batik Keris, Rempah Rumah Karya, Bamboo Biennale Exhibition, dan fine dining di Pura Mangkunegaran, Solo.