Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Elora-Hardy

Rooang.com | Meski sering dianggap sebagai material yang remeh, namun banyak desainer dan kalangan industri hari ini yang meramalkan bahwa bambu adalah material alternatif yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di masa depan. Saat isu keterbatasan material kayu keras dan kerusakan ekologi global, maka bambu menjadi pilihan yang dilirik oleh banyak orang.

Bagi masyarakat Indonesia sendiri, bambu adalah keseharian. Material alam ini digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari peralatan domestik hingga perangkat ritual keagamaan. Bahkan bambu memiliki filosofi penting bagi beberapa kebudayaan di Nusantara. Nilai filosofis sebatang bambu yang begitu lekat dengan keseharian inilah yang membuat Elora Hardy, seorang wanita berdarah Amerika, jatuh cinta. Sebagai wanita yang lahir dan besar di Bali, bambu hadir sebagai salah satu memori masa kecil Elora. Akibat pengaruh dari ayahnya, Elora saat ini menjadi salah satu pionir dalam eksplorasi material bambu di Indonesia.

Bambu yang begitu dekat dengan kehidupan Elora, membentuk falsafah diri dan pandangannya sendiri terhadap bambu. Bagi Elora, semenjak berkembangnya era industri, material-material alam kehilangan pamornya. Elora menyadari bahwa umumnya bambu adalah material andalan masyarakat Asia dalam hal menjadi bekisting industri. Baginya, bambu terlalu berharga untuk tidak disoroti.

Key-Projects_GS07-818x578

Key-Projects_GS05-818x545

And-the-real-house-that-we-built-when-I-was-9

Pandangan tersebut hadir di masa kecil, di mana John Hardy, ayahnya, mengajak Elora untuk membangun sebuah rumah impian. Imajinasi Elora kecil yang banyak dipengaruhi oleh cerita dongeng tentang peri dan orang-orang cebol, mendorongnya menggambar sebuah mushroom house. Ternyata, rumah impiannya tidak berakhir di atas kertas, John dengan keahlian dan kerjasamanya dengan artisan bambu lokal di Bali, mewujudkan mimpi Elora dengan membangun mushroom house di area rumahnya, dengan bambu.

Dari kejadian tersebut, bambu begitu mengakar di masa kecil Elora. Diskusi-diskusi kecil kerap ia lakukan bersama sang ibu dan sang ayah. Elora mengingat pemahaman ibunya, bahwa bambu adalah simbol keberlanjutan. Hingga kemudian, setelah menghabiskan sebagian waktunya bergelut di industri fashion di New York, ia pun terusik untuk kembali pulang. Mempertanyakan masa depan. Yang kemudian mendorongnya untuk mendirikan Ibuku, sebuah firma desain berbasis komunitas yang memusatkan kegiatannya pada bambu dan desain berkelanjutan.

Fashion felt as if it was quite set whereas interiors always attracted me as something more flexible. After seeing the Green School, it fitted in with my vision of the future and the Green Village evolved from there. I grew up in Bali so it felt natural to come back and create the Green Village here. There is so much creativity in Bali that allowed me to go into the future of the Green Village utilizing a product that is not scarce and doing something felt right.”

Sebelum Ibuku berdiri, John Hardy bersama Linda Garland, mendirikan sebuah sekolah hijau, Green School di daerah Seminyak, Bali. Sekolah ini memberikan edukasi sejak dini tentang prinsip-prinsip ekologi bagi muridnya. Diharapkan, anak-anak lulusan sekolah tersebut memiliki grass root understanding terhadap alam sekitar. Green School juga bertujuan untuk menghadirkan generasi yang berpikir lokal namun bertindak global, think locallyact globally. Sebuah pola pikir yang dianggap sebagai pondasi untuk membangun kehidupan yang berkelanjutan. Pola pikir ini ditanamkan melalui metode belajar yang terintegrasi dengan alam, menghadirkan material bambu secara dominan, menjadikan generasi yang ekosentrik yang dapat mengabdi pada habitatnya masing-masing.

bamboo-green-school-1

Hal tersebut mendorong Linda dan timnya di Ibuku untuk melengkapi gerakan tersebut dengan merancang berbagai furnitur dan arsitektur berbahan bambu. Ia berusaha melompati batas-batas normal desain, untuk kemudian mencoba memahami ‘bambu’ dan ‘alam’ sebagai cermin kesinambungan dan masa depan. Bisa dikatakan, Ibuku adalah sekelompok arsitek, desainer, dan artisan yang bergabung untuk mewujudkan visi tersebut. Idealisme tersebut terpancar dari berbagai proyek yang mereka kerjakan. Salah satunya, yang paling terkenal adalah Green Village, sebuah desa yang menghadap Sungai Ayung, Bali, yang mengadopsi nilai-nilai ekologis.

Key-Projects_GS04-818x545

‘My hopes are to preserve skill sets for the future and create a new outlet for existing craftsmanship and expand on it. I would like to expand the bamboo interiors at Ibuku globally internationally and the homes at the Green Village on the individual level, as they are now.’

Sebagai material yang renewable, Elora memahami bahwa bambu adalah simbol masa depan. “If you grew a bamboo, you will always have a house!” kata EloraMenanam bambu, bagi wanita cantik ini, adalah menanam masa depan yang lebih baik.

Key-Projects_GS03-818x545

Our-People-07-650x487 (1)