Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Green-School-11

Rooang.com | Bambu merupakan salah satu material unik yang banyak dikembangkan di dunia arsitektur. Bambu juga merupakan tanaman yang mudah tumbuh. Hanya dalam jangka 4-5 tahun ketinggian bambu bisa mencapai 18 meter, sementara pohon lain membutuhkan waktu 25 tahun. Dengan demikian, bambu termasuk material yang ramah lingkungan karena mudah dan cepat diperbaharui.

Bambu juga dikenal murah namun mempunyai banyak keunggulan, termasuk jika digunakan sebagai konstruksi bangunan. Salah satu karya arsitektur yang menggunakan bambu sebagai bahan utama adalah sekolah alam Green School di Badung, Bali.

Green School 2

Green School adalah sekolah berkonsep pendidikan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sekolah ini digagas oleh John Hardy, seorang warga negara Kanada yang telah tinggal di Bali selama lebih dari 30 tahun. Tidak hanya gedung sekolahnya, lingkungan di sekitar sekolah juga dirancang sehijau mungkin. Dengan begitu, diharapkan siswa Green School akan selalu berfikir ‘green’ karena terbiasa dengan lingkungan yang asri.

Awalnya John Hardy adalah seorang ahli pembuat perhiasan namun beberapa tahun terakhir dia sangat peduli terhadap persoalan lingkungan hidup yang sudah sangat rusak di bumi ini. John mencoba memberikan sumbangan dalam memecahkan masalah ini dengan jalan mendirikan Green School di Bali, yang telah dimulai sejak tahun 2007.

Green School tercatat sebagai bangunan dengan struktur bambu terbesar di Asia. Hampir semua elemen bangunan Green School menggunakan material bambu. Mulai dari tiang, rangka atap, tangga, lantai atas, hingga furnitur dan elemen interior lainnya. Bambu-bambu itu disambung dengan sistem pin dan baut. Namun tidak hanya konstruksi bangunan saja yang menggunakan bambu. Railing atau pagar pembatas, hingga furniture seperti kursi dan meja belajar pun dibuat dari bambu.

Green School 3

Green School 5

Green School 4

Green School 6

Memasuki kompleks sekolahan yang asri, hutan desa yang yang rimbun dengan pepohonan, menyambut. Namun untuk sampai di bangunan sekolah, seluruh murid harus melalui Jembatan Minang yang melintasi sungai Ayung. Dinamakan Jembatan Minang karena atap jembatan ini mengadaptasi atap rumah adat Minangkabau. Konstruksi jembatan ini seluruhnya terbuat dari bambu.

Daerah di sisi seberang Jembatan Minang, merupakan kawasan utama sekolah. Di situ terdapat sawah milik sekolah dimana siwsa dan guru sering menanam padi bersama. Namun area belajar yang sesungguhnya baru ditemui setelah perjalanan melewati jalan setapak yang menanjak yaitu kelas-kelas tanpa dinding atau pun kaca, terlihat. Desain yang terbuka tersebut membuat para siswa yang sedang belajar merasakan desiran angin serta mendengar suara-suara alam seperti: kicauan burung, suara pepohonan yang bergesek, dan aliran air di sungai.

Sementara itu di level tertinggi dari kawasan, terdapat sebuah lapangan besar, sarana olahraga out door sekolah dan sebuah gymnasium. Terdapat pula sebuah bangunan dnegan tiga level: Heart of School (HOS). Ini adalah bangunan utama sekolah yang berfungsi sebagai tempat administrasi, ruang guru, ruang kepala sekolah, serta ruang-ruang penunjang lain seperti galeri seni kriya anak, ruang komputer dan lainnya.

Di level bawah, kita bisa melihat pilar-pilar bambu, menopang lantai-lantai di atasnya dalam susunan yang unik. Bila selama ini batang-batang bambu lekat dengan bangunan kotak dan sederhana, tidak demikian dengan bangunan Green School. Hampir semua bangunan yang ada di sini di desain melengkung. “Karena tidak ada garis lurus di alam,” kata Marny, seorang arsitek senior PT. Bambu Bambu yang terlibat pada perancangan Green School ini.

Sementara John hardy percaya bentuk kotak dan garis yang terlalu tegas akan mengurangi kreativitas yang dibutuhkan anak-anak selama belajar. Maka hasilnya adalah kelas-kelas berbentuk busur dengan bambu-bambu yang diikat secara melengkung sebagai penopang utama bangunan. Batang-batang bambu itu kemudian disambung dengan rangkaian bambu lainnya membentuk atap dengan ilalang di atasnya.

Green School 7

Green School 12

Green School 10Kelas-kelas di Heart of School didesain sebagai bangunan dengan sistem terbuka. Artinya, angin dan cahaya matahari dapat masuk dengan maksimal ke dalam bangunan. Penghawaan tersebut semakin lengkap dengan adanya sebuah skylight yang melingkar di puncak atap, berfungsi sebagai sumber pencahayaan alami bagi ruang-ruang di bawahnya. Fasilitas lain di sekolah ini adalah Green Waroeng, yaitu kantin yang menjual makanan hasil olahan kebun di sekitar Green School.

Green School memang sebuah sekolah dengan konsep kembali ke alam. Namun upaya untuk bersahabat dengan lingkungan tak hanya diterapkan pada konteks fisika bangunan, pilihan material atau membiarkan pepohonan di sekitarnya tumbuh. Utilitas bangunan seperti listrik pun, direncanakan dengan sistem tersendiri, yaitu turbin yang digerakkan oleh air, yang dinamakan Vortex. Sedangkan penyediaan air bersih berasal dari sungai yang berada sekitar 40 m di bawah tanah, masih di dalam kawasan.

Green School 8

Sistem pembuangan air dari kamar mandi juga dibuat berbeda. Setiap toilet, baik untuk laki-laki maupun perempuan, memiliki dua sistem. Buang air kecil kloset, ditampung dan digunakan untuk menyiram bambu untuk digunakan sebagai pupuk tanaman nantinya.

Pada tahun 2010, proyek Green School sempat masuk nominasi Aga Khan Architecture Award (AKAA) bersama dengan proyek Rekonstruksi Desa Ngibikan, Yogyakarta. Sayangnya kedua proyek tersebut tidak keluar sebagai pemenang.

Berikut adalah video yang mengungkap idealisme John Hardy di balik proyek Green School.

 

Green School – Footprints in the Future | Giovanni Fantoni Modena from Focus Forward Films on Vimeo.