Reading Time: 1
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Pembukaan-APSDA-Jogja

Rooang.com | ASEAN Economic Community (AEC) atau juga disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN, adalah sebuah fenomena yang akan dihadapi oleh para pekerja kreatif di masa depan. Pada akhir 2015, saat AEC diberlakukan, maka batas-batas birokrasi menjadi kabur, digantikan dengan sebuah kawasan ekonomi terpadu yang lebih luas. Hal tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas pada general assembly APSDA beberapa waktu lalu di Solo.

Francis Surjaseputra, ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), mengatakan bahwa beberapa pembicaraan awal sudah bergulir. Di antaranya mengenai sertifikasi dan syarat-syarat teknis yang perlu disepakati oleh seluruh peserta APSDA yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Selain itu, menurut Francis juga dibahas beberapa isu mengenai undang-undang dan mekanisme pajak yang perlu dikaji lebih lanjut. “Yang menarik, ada delegasi dari beberapa negara yang belum tahu masalah AEC ini, maka kami berharap ada forum lanjutan yang khusus membahas strategi untuk menghadapi AEC,” kata Francis.

Lea S. Aziz, general secretary APSDA, menambahkan bahwa salah satu aspek penting untuk menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN adalah ditingkatkannya kualifikasi lulusan Desain Interior di Indonesia. “Untuk itu sektor pendidikan perlu memiliki standar yang disepakati bersama, selain itu kami juga akan menyediakan APEX, sebuah wahana pertukaran keahlian bagi profesional desainer interior bagi negara-negara anggota APSDA,” ujar Lea. Dalam sambutan pembukaan, Lea menjelaskan bahwa selain APEX, APSDA juga mempersiapkan workshop untuk mahasiswa yang berguna sebagai ajang pertukaran budaya dan membina networking antar negara peserta.

Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, yang juga hadir dalam pembukaan design congress APSDA, mengatakan bahwa hal pertama yang harus dicapai adalah standarisasi, sehingga muncul mutual recognition dari sesama negara yang meyelenggarakan AEC. Dari situ harus dibentuk lembaga sertifikasi yang diakui untuk perdagangan bebas jasa dan profesional. “Namun, pada akhirnya yang terpenting bukanlah dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN,” kata Mari,”melainkan pentingnya standar kompetensi bagi setiap profesi yang ada di Indonesia.”