Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Mr-Kim

Rooang.com | Jooyun Kim, seorang profesor di bidang industrial design pada Hongik University, Seoul, menyampaikan sebuah gagasan menarik pada acara design congress APSDA. Makalahnya tentang prinsip immersive empathy memberikan gambaran tentang prinsip tersebut serta aplikasinya pada desain interior.

Immersive, sebetulnya adalah sebuah kata sifat yang sering digunakan pada bidang teknologi informasi dalam kaitannya dengan penghadiran persepsi atas realitas virtual (virtual reality). Realitas tersebut dapat dihadirkan melalui gambar, suara, bau, atau stimulan lain yang mampu menghadirkan suasana multidimensional di sekeliling pengguna. Kegunaannya adalah, memberikan pengalaman baru yang meninggalkan kesan mendalam pada pengguna.

Kemajuan teknologi dalam bidang rekayasa citra digital, memberikan kesempatan bagi para desainer interior untuk memasuki ranah baru yang mengawinkan antara perencanaan tata ruang dengan teknologi penghasil citra.

Salah satu contoh yang mengemuka dalam presentasi Kim adalah proyek interior hotel The Cosmopolitan, Las Vegas yang memiliki layar gigantis berupa pilar. Layar tersebut memproyeksikan berbagai visual untuk memberikan pengalaman khusus bagi para tamunya. Visual yang tampil akan berganti setiap beberapa menit sekali, sehingga pada ruangan yang sama para tamu dapat merasakan berbagai suasanya yang berbeda.

Kim melihat terjadinya pergeseran baru ini, dan ia meramalkan hal ini akan menjadi tren desain interior di masa depan. Bagi Kim, hal ini selaras dengan kultur masa kini (zeitgeist) yang banyak dipengaruhi oleh arus informasi, keinginan-keinginan (desire), persatuan pemikiran (fusion), menguatnya identitas personal, serta perasaan yang cenderung lebih halus.

Immersive empathy sendiri memiliki beberapa prinsip, di antaranya adalah memancing rasa ingin tahu (with curiousity), menghasilkan pengalaman baru (cultivated & curated experience), menyampaikan cerita melalui cara yang unik (tell the story in unique way), memberikan ilusi yang menarik (interesting illusion), atraktif (engaging),segar (refreshing), dan menggoda (seductive). Bagi Kim, satu atau beberapa prinsip di atas harus hadir dalam sebuah ruang interior.

Untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut, Kim menawarkan tiga pendekatan utama yang dapat digunakan para perancang untuk mencipatakan interior yang memiliki prinsip immersive empathy. Yaitu, pendekatan Memory Nostalgia, Sharing Value, dan Wow Synesthesia.

Pendekatan pertama lebih menekankan peran desainer interior dalam menghadirkan pengalaman keseharian yang dikenang oleh sebagian besar orang. Kim memberikan contoh interior pada Maison Hermes Dosan Park yang dirancang oleh Rena Dumas (Rena Dumas Architecture Intérieure). Pada gerai pakaian ini, Rena menghadirkan pengalaman meruang yang mengingatkan pengunjung pada suasana sebuah hutan. Rena mendesain tiang-tiang vertikal serupa batang pohon yang digunakan sebagai ruang pajang produk-produk Hermes.

Maison Hermes 1

Maison Hermes 2

Sedangkan pendekatan kedua, Sharing Value, bagi Kim adalah penyampaian pesan ekologis yang memberikan kesadaran akan lingkungan bersama (shared environment) bagi para pengguna. “Salah satu contohnya adalah intalasi Seed Cathedral karya Thomas Heatherwick,” kata Kim.

Seed Cathedral adalah sebuah struktur bangunan yang menjadi paviliun Inggris pada pagelaran Shanghai World Expo di tahun 2010. Bangunan serupa ulat bulu ini terdiri dari 60.000 batang akrilik yang menampung 250.000 bibit tanaman. Thomas mengaku desainnya terinspirasi dari bentuk bunga dandelion, lambang keberuntungan dalam kebudayaan Tiongkok, dan juga tema besar yang diangkat dalam expo, yaitu “Better City, Better Life”. Ribuan batang akrilik tersebut meneruskan cahaya matahari dari luar, sekaligus menerangi bibit tanaman yang berada di ujung bagian dalam akrilik.

Bagi Kim, Seed Cathedral adalah sebuah contoh unik sebuah interior yang juga mengajak orang untuk melestarikan keragaman hayati yang ada di bumi.

Seed Cathedral 2

Seed Cathedral 3

Seed Cathedral 1

Pendekatan terakhir untuk mewujudkan immersive empathy, adalah Wow Synesthesia, yang dideskripsikan Kim sebagai cara-cara untuk menghadirkan pengalaman baru dengan cara yang tidak biasa. Sekaligus mampu memberikan cara pandang baru terhadap segala sesuatu yang dianggap usang.

Kim, yang juga seorang principal designer pada Studio Button, Seoul ini memberikan contoh proyek interior Deutsche Bank BrandSpace yang digarap oleo biro desain Art+Com. Dalam situs resmi Deutsche Bank, disebut bahwa proyek BrandSpace ini adalah “Dramatic theme installations vividly represent the Deutsche Bank brand in all its dimensions, challenging traditional views and encouraging new perspectives.”

Deutsche Bank 1

Deutsche Bank 2

Deutsche Bank 4

Deutsche Bank 3

Biro Art+Com memang menawarkan permainan perspektif bagi para pengunjung dalam melihat logo Deutsche Bank yang dianggap kuno. Mereka menerjemahkan logo tersebut menjadi sebuah kesatuan interior yang menggambarkan berbagai nilai perusahaan Deutsche Bank dengan pendekatan ruang dan visual yang berbeda-beda pula. Dengan berbagai cara, mulai dari visual projection mapping hingga penggunaan kinetic sculpture, Art+Com membawa pengunjung pada berbagai tahap pengalaman visual yang berbeda pula. Berbagai instalasi tersebut juga mengajak pengunjung untuk berinteraksi.

Berbagai contoh di atas, memberikan gambaran yang menarik tentang masa depan desain interior dan perkawinannya dengan kecanggihan teknologi untuk menawarkan realitas virtual yang akan memanjakan para penggunanya. Jooyun Kim, di akhir presentasinya mengutip sebuah kalimat dari Maurice Merleau-Ponty, seorang filsuf Perancis terkemuka, “I am not in space and time, nor di I conceive space and time; I belong to them, by body combines with them and includes them.