Reading Time: 4 minutes
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5
Loading...
Paulus-Mintarga

Rooang.com | Salah satu tokoh penting yang terlibat di balik perencanaan Bamboo Biennale 2014 adalah Paulus Mintarga. Bagi sebagian orang, Ia dikenal sebagai kontraktor dan arsitek, bagi sebagian lainnya mengenal Paulus Mintarga sebagai manusia kreatif yang tak pernah kering akan ide-ide segar.

Gagasan untuk Bamboo Biennale sendiri bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Saat itu, sekitar tahun 2010, Mbah Prapto, seorang budayawan Solo, meminta bantuan Paulus untuk merancang tempat pertunjukan tari di Candi Sukuh. Saat itu konsepnya adalah suasana pasar, sehingga bisa digunakan pula untuk berjualan. Supaya murah, Paulus menyiasati pembuatan tempat pertunjukan tersebut dengan menggunakan material bambu. Ia membuat semacam cakruk dalam beberapa variasi ukuran. Cakruk-cakruk tersebut ditutup dan diberi sinar lampu, menjadi latar pertunjukan Mbah Prapto di malam hari.

Setelah pertunjukan di Candi Sukuh berakhir, Paulus membawa karyanya ini ke sebuah tempat singgah miliknya di daerah wisata Tawangmangu. Sehingga tidak ada limbah yang terbuang dari sisa pertunjukan. Kemudian Mbah Prapto meminta tolong kembali untuk pertunjukannya di Candi Borobudur. Bermula dari sini, ia mengenal almarhum Galih Wijil Pangarsa, seorang dosen Arsitektur di Universitas Brawijaya. Baginya, Galih memiliki peran yang cukup besar dalam menghubungkan dirinya dengan beberapa arsitek seperti Eko Prawoto, Yu Sing, Adi Purnomo, Budi Pradono, dan arsitek lainnya. Bersama mereka beliau merumuskan sebuah gagasan acara yang kelak bernama Merajut Bambu.

Merajut Bambu diinisiasi sebagai sebuah kegiatan yang berkonsentrasi pada nilai-nilai kemasyarakatan, oleh karena itu Paulus bersama beberapa rekan arsitek lainnya memilih tempat kegiatan di sebuah desa di dekat Candi Borobudur. Pada kegiatan ini dibuat sebuah bale ajar yang dalam proses pembuatannya melibatkan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Lalu kegiatan ini berlanjut di tahun berikutnya dengan proyek membuat menara di pondok tingal. Dari kegiatan Merajut Bambu itulah gagasan untuk mengeksplorasi material bambu mengkristal menjadi sebuah ide yang lebih besar yaitu Bamboo Biennale. Dengan dukungan dari beberapa rekan arsitek, jejaring Solo Creative City Network (SCCN), Pemerintah Kota Solo, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, akhirnya Bamboo Biennale dapat terlaksana.

Menurutnya beberapa hal yang membedakan antara Bamboo Biennale dan kegiatan lainnya adalah adanya sebuah proses kreatif sebelum pameran berlangsung dan berbagai kegiatan strategis untuk mempromosikan bambu sebagai material alternatif. Keterlibatan peserta juga menjadi poin lebih. Panitia Biennale meminta para peserta untuk melakukan ekskursi dan residensi terlebih dahulu ke tempat para pengrajin sebelum menghasilkan karya yang mempertimbangkan potensi dari masing-masing pengrajin tersebut. Dengan demikian yang terlibat dalam kegiatan ini bukan hanya para arsitek dan desainer saja, tetapi juga melibatkan para artisan, pengrajin, mahasiswa dan masyarakat.

Paulus Mintarga percaya bahwa bambu merupakan material masa depan yang memiliki banyak potensi. Baginya, bambu memiliki prospek yang lebih baik dari kayu karena proses regenerasinya yang cukup cepat. Para arsitek dan desainer di Indonesia belum banyak melibatkan bambu dalam berbagai rancangannya, padahal mterial bambu dapat digunakan pada beragam kebutuhan dan sebaiknya dieskplorasi dalam skala yang lebih luas.

Paulus Mintarga 2

Persentuhan Paulus dengan material bambu dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Ia mengaku sebelumnya pernah memiliki bengkel las, toko besi, toko kaca, sehingga sudah cukup familiar dengan beragam material. Latar belakangnya sebgai lulusan Teknik Sipil dan pekerjaan sebagai kontraktor yang tertarik akan ketukangan kemudian membawa pengaruh besar dan mengantarkannya pada eksplorasi material yang menjadi kecintaannya hingga saat ini. Dari berbagai jenis material, Paulus mengaku takjub dengan berbagai karakteristik material alam, seperti batu, tanah, kayu, dan termasuk bambu itu sendiri. Baginya, berbagai material alam tersebut memiliki kemampuan yang unik dan belum habis dieksplorasi potensinya.

Dunia arsitektur sendiri merupakan hal baru bagi Paulus. Awalnya, pada tahun 2000, Ia pergi ke Jakarta untuk membantu temannya yang ingin membuat rumah tinggal pribadi. Ia mengaku awalnya tidak tertarik untuk mengerjakan, namun pikirannya berubah setelah melihat rancangannya yang cukup unik dan merupakan hal baru baginya. Ketika mulai membangun rumah, ia pun mulai berkenalan dengan beberapa arsitek lainnya, dari situlah awal mula kecintaannya terhadap desain dan arsitektur. Sekitar tahun 2003, ia sempat datang ke open house Rumah Ciganjur yang dorancang oleh Adi Purnomo. Bagi Paulus, Rumah Ciganjur merupakan karya yang sangat menarik. Sangat mengena dan menambah gairahnya untuk mengeksplorasi desain menggunakan material.

Melalui kesempatan tersebut, Paulus banyak berinteraksi dengan Adi Purnomo. Mereka bahkan lebih sering berdiskusi tentang filosofi dibandingkan desain dan arsitektur. Ia mengaku banyak mendapat masukan dari Adi Purnomo. Namun, tak jarang Adi Purnomo bertanya masalah keteknisan lantaran Paulus yang berlatar belakang kontraktor ini lebih memahaminya. Paulus bercerita, saat pertama kali ia membuat rumah di Jakarta, banyak arsitek yang menyukainya. Kebetulan saat itu gaya arsitektur material ekspos ala Tadao Ando sedang marak dan banyak menginspirasi arsitek lokal dalam berkarya. Paulus termasuk arsitek awal yang mengadopsi gaya beton ekspos dan tangga melayang. Karya-karya Paulus membawanya pada pergaulan yang lebih luas di dunia arsitektur. Ia pun akhirnya berkenalan dengan beberapa arsitek seperti Andra Matin dan Ahmad Djuhara.
Karya-karya Paulus sendiri di Solo, kota asalnya, sendiri cukup banyak. Pada tahun 2005, ia merancang dan membangun Rumah Turi, sebuah butik hotel berkonsep ekologis yang akhirnya mendapat banyak pujian dan penghargaan. Selain itu, di Colomadu, sebuah daerah perbatasan Solo, ia membangun sebuah workshop dan bengkel kreatif bernama Rempah Rumah Karya.

Awalnya, Paulus hanya ingin memindahkan gudang yang berisi material bekas dan menggunakan material tersebut untuk dijadikan gudang baru sekaligus menyimpan material sisa yang masih ada. Namun, ketika gudang yang baru telah berdiri ternyata material bekas yang digunakan habis tak bersisa. Melihat hal tersebut, Paulus mengaku kaget sekaligus senang karena bisa memiliki ruang baru yang cukup besar untuk bisa digunakan. Bangunan inilah yang kemudian Paulus sebagai studio dan workshop untuk mengerjakan proyek terbatas. Di dalamnya juga terdapat divisi Research and Development untuk melakukan riset pengembangan material sisa dan bekas. Rempah Rumah Karya juga sering digunakan sebagai tempat kunjungan dan residensi bagi mahasiswa seni dan desain.