Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Seminar-Bambu-Singgih-Kartono

Rooang.com | Selama kegiatan Bamboo Biennale, pada Sabtu (13/9) lalu diselenggarakan seminar “Reinkarnasi Bambu Dalam Kekinian” di Gedung Grha Solo Raya. Seminar ini menghadirkan tiga pembicara utama dengan latar belakang yang berbeda untuk berbagi pandangan tentang pemanfaatan bambu di masa kini. Ketiga pembicara itu adalah Dr. Ahadiat Joedawinata (desainer interior dan seniman keramik), Singgih Susilo Kartono (desainer produk), dan Bandung Mawardi (penulis dan budayawan). Melalui berbagai sudut pandang, para peserta seminar diajak untuk berpikir ulang tentang arti dan penggunaan bambu dalam keseharian.

Pada sesi sambutan, Ketua Pelaksana seminar menjelaskan bahwa di Asia, khususnya di Indonesia, tanaman bambu masih dipandang sebelah mata. Meski bambu pernah menjadi bagian hidup bagi beragam masyarakat di Nusantara, namun hari ini bambu cenderung dianggap sebagai “timber for the poor”. Eksplorasi dari potensi bambu masih belum optimal jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh negara-negara lain. Oleh karena itu, diadakan seminar dengan tujuan untuk mempertemukan beragam pemikiran tentang bambu dari sudut pandang arsitektur, teknik, seni, budaya, dan bidang ilmu lainnya.

Eko Prawoto sebagai moderator memulai sesi seminar bambu dengan sedikit penjelasan tentang bambu dalam pandangan masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa. “Bambu di Indonesia lebih dari sekedar tanaman, tapi memiliki jalinan dengan kebudayaan, bahkan sampai nilainya yang terdalam,” kata Eko,”Orang Jawa biasa menyebut bambu dengan ‘deling’, sebuah singkatan dari kendel lan iling atau berani karena ingat.”

Menurut Eko, bambu menjadi cermin dari suatu sikap spiritualitas yang luar biasa bagi masyarakat Jawa. Dr. Ahadiat Joedawinata memulai presentasi dengan menunjukan diagram-diagram proses membendanya suatu gagasan menjadi objek terwujud, dalam hal ini dikaitkan dengan produk-produk bambu di keseharian masyarakat. Ia menunjukan setidaknya ada empat peranan bambu bagi masyarakat Indonesia, yaitu sebagai alat transportasi, perkakas/utilitas, estetika, media seremonial/simbolik.

Lalu ia memberi penjabaran unsur-unsur pemandu yang saling berkaitan dalam proses terbangun dan membendanya suatu gagasan hingga menggiring desain yang optimum. Gagasan tersebut akan dipengaruhi oleh unsur-unsur kehidupan dan melakukan penyesuaian hingga menghasilkan produk yang baru. Beberapa unsur yang bisa berubah atau tetap dalam proses berinovasi antara lain adalah material, energi, guna, gaya, harga, dan teknik. Ia menutup presentasinya dengan beberapa contoh karyanya yang telah melewati proses yang dijelaskan sebelumnya.

Singgih Susilo Kartono, desainer produk yang mendunia melalui radio kayu Magno, menjelaskan bagaimana pentingnya mengembalikan bambu kepada esensinya. Terutama bagi masyarakat di pedesaan. Ia banyak berbicara lewat karya dan pengalamannya. Menurut Singgih, kehidupan di desa memiliki nilai-nilai yang harus dijaga untuk keberlanjutan kehidupan manusia.

Ia pun membuat prototype sepeda bambu bernama “sepedagi” yang digunakan sebagai alat transportasi di Dusun Kelingan, Temanggung, tempat dimana ia tinggal. Melalui Sepedagi, Singgih menggagas International Conference Village Revitalization (ICVR) di Temanggung yang ia adakan awal tahun 2014. Acara ini mendapat sambutan yang luar biasa dan mampu melibatkan peserta dari berbagai negara. Sepedagi dan ICVR merupakan sebuah paket gerakan yang peduli akan keberlanjutan kehidupan di desa dan nantinya kegiatan ini akan menjadi gerakan global yang dilaksanakan di beberapa negara secara bergantian.

Seminar Bambu - Bandung Mawardi

Pembicara terakhir, Bandung Mawardi, memberikan sudut pandang yang sangat menarik melalui berbagai literatur dan arsip kuno. Bandung mengawalinya dengan menunjukan sebuah buku terbitan Balai Pustaka tahun 1917. Ia bercerita bahwa buku tua berisi pelajaran menganyam bambu ini sempat digunakan sebagai pelajaran sekolah-sekolah pada masa Hindia Belanda. Buku yang ditulis dengan aksara Jawa ini memberi gambaran dekatnya bambu dengan masyarakat hingga akhirnya pemerintah Hindia Belanda meminta para guru untuk mengajarkan murid kala itu untuk dapat menguasai teknik menganyam bambu.

Bandung juga membacakan sebuah puisi tentang bambu dari penulis Remy Sylado. Melalui puisi ini Remy menyampaikan kegunaan bambu bagi kehidupan manusia. Puisi ini ditulis sekitar 100 tahun setelah buku menganyam bambu terbitan balai pustaka. Namun yang menjadi perhatiannya adalah masih ada orang yang menggunakan bambu sebagai referensi dari kearifan lokal. Bandung juga menyitir sebuah “jula-juli” atau pantun humoris karya Sindhunata. Dalam tulisan ini, bambu menjadi metafora yang sangat akrab dalam kehidupan.

Bambu juga pernah dicatat dalam berbagai naskah kuno. Termasuk dalam khazanah sastra Jawa klasik. Bandung kemudian menunjukkan buku “Kalangwan” karya Zoetmulder yang berisi kajian mengenai karya sastra yang digubah oleh para pujangga Jawa Kuno. Di dalam berbagai manuskrip sastra lama, ternyata bambu sering disebut sebagai metafora kehidupan. Deskripsi tentang bambu juga muncul pada karya Thomas Stamford Raffles yang berjudul “The History of Java”. Di dalamnya ada deskripsi yang terkait dengan penggunaan bambu bagi masyarakat Jawa. Setidaknya, ada dua narasi yang ditulis tentang bambu di dalam buku tersebut, yaitu bambu sebagai makanan dan bambu sebagai tali pengikat.

Pada akhir paparannya, Bandung mengatakan bahwa bambu tidak hanya dapat dilihat dari segi fungsi fisiknya saja, melainkan juga perlu dilihat fungsi spiritual dan kekayaan metafora yang terkandung dalam tumbuhan bambu.

Bambu telah menjadi keseharian bagi masyarakat Indonesia di masa lampau, bahkan tanpa disadari mungkin hingga hari ini. Penyelenggaraan Bamboo Biennale ini seakan menjadi titik tolak awal bagi seluruh pihak yang terlibat untuk kembali menyadari akan pentingnya bambu bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan kegiatan rutin ini tentunya akan timbul pemikiran-pemikiran bambu yang bermanfaat untuk keberlanjutan bambu dan alam di Indonesia.