Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Eva-Natasa-2

Rooang.com | Apa yang akan dilakukan oleh seorang desainer produk bila tidak dapat menemukan furnitur yang tepat untuk mengisi rumahnya? Ia akan membuatnya sendiri.

Itulah yang dilakukan Eva Natasa saat memutuskan untuk pindah dan menetap di Indonesia, setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri. Saat itu, Eva dan suami kebingungan untuk mengisi rumahnya dengan berbagai perabot. Ia merasa ada yang salah dengan berbagai furnitur buatan lokal. Entah dimensi, kenyamanan, ergonomi atau materialnya.

Untuk itu, ia rela membiarkan rumahnya kosong tanpa perabot selama sebelas bulan. Ia pun menggunakan kardus sebagai meja dan lantai sebagai tempat duduknya. Namun, selama itu pula Eva berproses. Ia melakukan observasi, memenuhi kepalanya dengan pertanyaan-pertanyaan, mempelajari proses produksi mebel, hingga menelusuri berbagai material lokal yang dapat ia manfaatkan.

Setelah melakukan riset yang intensif, menuangkan beberapa rancangan pada lembar kerja, dan memberikan perhatian pada detail-detail yang sering terlupakan, maka lahirlah LULA, sebuah dingklik kayu yang menyajikan estetika, kenyamanan bagi penguna, dan proses perancangan yang menekankan nilai-nilai ekologis. LULA sendiri diambil dari nama kucing kesayangan Eva.

LULA02and02H-2

Dalam websitenya, Eva menuliskan bahwa setiap desainnya memiliki konsep human-centered design, dimana ia menempatkan manusia sebagai pusat perhatian dalam proses mendesain. Manusia, atau pengguna adalah pertimbangan utama Eva dalam merancang. “Karena kami percaya bahwa sebuah produk harus menyatu dengan lingkungan dan membuat kehidupan penggunanya menjadi lebih baik,” kata Eva.

LULA dibuat dari kayu jati solid kelas satu bersertifikat FSC dari Perhutani Cepu, sambungannya yang terbuat dari baut kuningan yang dipesan secara khusus, dan dikerjakan secara handmade oleh pengrajin-pengrajin dengan kecakapan yang tinggi.

LULA Detail

Sekilas, Eva mencoba memberikan konteks baru terhadap desain dingklik, sebuah kursi yang umum dijumpai di rumah-rumah Jawa. Melalui sentuhan dan kreatifitas Eva, dingklik kayu yang terkesan murah dan sederhana, dapat tampil lebih elegan dan mengkini. Sudut-sudut dingklik yang kaku, dipoles menjadi lebih lembut. Kaki dingklik yang biasanya kokoh, dibuat lebih ramping. Seperti kaki-kaki furnitur jengki, namun dibuat lebih tinggi. Sehingga terlihat seperti kaki wanita yang jenjang dan anggun. Unsur ketukangan (craftmanship) dan lokalitas tampak menonjol dari dingklik LULA.

Tidak hanya dalam bentuk dingklik (stool), Eva mengeluarkan Lula dalam satu seri produk yang mencakup bar stool (LULA 02H), bangku taman (LULA 03), meja (LULA 04), hingga bedside table (LULA 02)

LULA02-2

LULA02H-1

LULA04-1

LULA03-1

Eva berharap karyanya bisa bertahan lama, karena ia percaya pada desain yang sustainable dan nyaman. Di balik sosoknya yang detail oriented dan perfeksionis, ia berpendapat bahwa seorang desainer tak perlu meluncurkan karya terbaru setiap musim. Wanita yang memiliki prinsip slow design ini tak merasa diburu waktu, ia memilih untuk fokus dalam menjaga dan meningkatkan kualitas.

http://enatasa.com/main/