Reading Time: 5 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Yoyogi-National-Gymnasium1

Rooang.com | Kali ini, redaksi Rooang mewawancarai Firdiansyah Fathoni, alumni Arsitektur ITS. Firdi, begitu panggilan akrabnya, berkesempatan mengunjungi negeri Matahari Terbit selama 4 hari. Hadiah yang diterimanya karena memenangkan kompetisi Arsitektur Rimpang yang diadakan Universitas Pelita Harapan dan Aboday ini pun menjadi pengalaman yang luar biasa baginya. Penasaran? Mari kita simak wawancara dengan Firdi berikut ini:

 

Q: Hai Firdi, bagaimana kabarnya sepulang dari Jepang?

A: Pastinya senang, mendapatkan pengalaman baru lagi yang cukup langka. Meskipun akhirnya tugas kuliah jadi menumpuk dan persiapan presentasi lomba ke Jakarta jadi mepet, tapi cukup lah tergantikan dengan pengalaman-pengalaman di Jepang.

 

Q: Boleh cerita sedikit tidak, bagaimana Anda bisa ikut serta dalam lomba yang diadakan Aboday dan UPH ini?

A: Waktu itu saya datang ke acara yang dibuat salah satu principal Aboday, Ary Indra. Di akhir acara, beliau menginformasikan bahwa tahun ini ada kompetisi nasional Arsitektur Rimpang. Sebenarnya saya tidak tahu apa itu Arsitektur Rimpang, namun dari ketidaktahuan itulah yang menjadi ketertarikan untuk ikut lomba ini. Karena ketidaktahuan tentang apa yang diminta dalam lomba itu, proses mengerjakan lomba pun mengalami kesulitan-kesulitan. Namun, syukurlah masih diberi keberuntungan oleh Tuhan hingga presentasi di Jakarta dan yang akhirnya menjadi juara 2. Setidaknya masih bisa lah, membawa nama ITS juara sebelum lulus, hehe..

 

Q: Wah, ternyata berangkat dari ketidaktahuan, ya. Senang sekali tentunya bisa membawa harum nama kampus. Lalu, arsitektur rimpang itu ternyata seperti apa? Waktu itu apa sih sebenarnya objek yang Anda buat?

A: Inti dari lomba itu adalah menciptakan industri rumahan menjadi ruang publik yang baik. Lalu saya membuat tempat untuk berjualan kue di kampung kue, seperti pasar. Nah, itulah yang akhirnya menjadi ruang-ruang sosialisasi di kampung.

 

Q: Apakah ini kunjungan Anda yang pertama kali ke Jepang?

A: Tidak, sebelum ini saya pernah ikut program JENESYS sekitar bulan April-Mei 2014 lalu.

 

Q: Oh, jadi sudah pernah ke Jepang ya. Bisa disebutkan apa perbedaan kunjungan ke Jepang yang lalu dengan yang sekarang? 

A:  Kalau yang beberapa waktu lalu, program tersebut dari Kemenristek Indonesia, jadi semua hal dari tujuan hingga apa saja yang dilakukan saat di Jepang sudah ditentukan oleh panitia. Sedangkan untuk yang kali ini lebih bersifat liburan, kita bebas ke mana saja sesuka kita, sehingga pada kesempatan ini lebih banyak kesempatan untuk berwisata arsitektur.

 

Q: Siapa saja yang ke sana?

A: Tentunya saya, serta Reni Dwi Rahayu dari Universitas Brawijaya Malang yang menjadi juara 1. Juga 2 orang dari kantor Aboday.

 

Q: Baiklah kalau begitu. Objek-objek apa saja yang Anda kunjungi selama di Jepang? 

A: Wah, banyak. Beberapa di antaranya Tokyo Skytree, 21-21 Design Sight, Senso Ji Temple, dan lain-lain. Seperti beberapa foto-foto ini.

tokyo skytree
Tokyo Sky Tree. Arsitek: Nikken Sekkei.

21_21 design sight (2)
 21_21 Design Sight,Sebuah Museum Karya Tadao Ando dan Issey Miyake.

21_21 design sight

Interior 21_21 Design Sight

kuil sensoji
 Kuil Senso-ji, Asakusa di Siang Hari.

kuil sensoji (2)

Kuil Senso-ji, Asakusa di Malam Hari.

National Art Center
 The National Art Center karya Kisho Kurokawa.

National Museum of Western Art
 National Museum of Western Art karya Le Corbusier

nezu museum
 Nezu Museum, Rancangan Arsitek Asal Jepang, Kengo Kuma.

sunny hills
 Sunny Hills, Toko Kue Karya Kengo Kuma.

tokyo interantional forum

 Tokyo International Forum Karya Rafael Viñoly.

Q: Yang mana yang paling berkesan? 

A: Saya rasa hampir semua proses berkesan, mulai dari ikut lomba, juara, pergi ke Tokyo, ketika di Tokyo, sampai pulang lagi ke Indonesia sangat berkesan, pengalaman yang luar biasa. Kalau bangunan, saya paling suka dengan 21_21 Design Sight. Bangunan itu sepertinya tidak mau mengalahkan taman. Jadi sang arsitek membuat galerinya ke bawah tanah. Kalau ia membuat bangunannya meninggi, pasti akan ‘merusak’ taman.

 

Q: Mungkin ada pengalaman menarik atau lucu selama di sana yang bisa diceritakan?

A: Saat itu hari Selasa. Rombongan kami punya rencana mengunjungi museum-museum di Tokyo. Kami sudah membuat list museum-museum mana yang akan didatangi. Namun dari kami berempat tidak ada yang tahu bahwa setiap hari Selasa museum-museum di Tokyo tutup.  Kami baru sadar ketika sudah berada di depan museum. Karena museum-museum tutup maka kami mengubah jadwal ke objek lain. Kunjungan ke museum diganti keesokan harinya. Sehingga ada beberapa objek arsitektur yang tidak jadi kami kunjungi gara-gara perubahan jadwal ini. Sayang sekali, sebenarnya.

 

Q: Apa pendapat Anda tentang arsitektur Jepang?

A: Menarik. Apa lagi dapat merasakan pengalaman ruang di karya-karya arsitek-arsitek terkenal seperti Tadao Ando, Kengo Kuma, hingga Le Corbusier, serta urban experience di Tokyo.  Penataan kota di Tokyo pun bagus. Selain bersih, rapi, terdapat juga pedestrian way yang dibuat lebar untuk mengakomodasi pejalan kaki dan pengguna sepeda. Namun, ada satu yang cukup kurang di Tokyo, yaitu sedikitnya penghijauan di kota, baik pohon-pohon ataupun taman kota.

 

Q: Apa perbedaannya dengan Arsitektur Indonesia?

A: Jelas beda. Kalau di Jepang 4 musim sedangkan Indonesia 2 musim. Selain musim, kehidupan sosial kita juga berbeda.  Dari hal ini maka pendekatan dalam berarsitektur pun juga beda.

 

Q: Apakah ini kompetisi arsitektural pertama kali yang Anda ikuti?

A: Tidak, ini sudah yang kesekian kalinya. Namun, baru inilah yang mendapatkan juara dan hadiah yang luar biasa.

 

Q: Bagi tips, dong, supaya bisa memenangkan sayembara arsitektur!

A: Mungkin pertanyaan ini salah diajukan ke saya. Saya baru kali ini merasakan juara, yang lainnya mungkin hanya finalis. Tapi saya mungkin punya sedikit saran, ketika mau ikut , pastikan dulu mengerti apa yang diminta oleh Term of References (TOR), lalu buat konsep yang memiliki latar belakang tidak mengada-ada. Dan terakhir, jangan terjebak pada bentuk objek/arsitektural terakhir, karena pada dasarnya ketika proses riset desain sudah bagus, maka bentuk arsitekturnya juga akan ikut indah dengan sendirinya. Mudah-mudahan adik-adik di jurusan saya, Arsitektur ITS, juga ikut terus berprestasi membawa nama ITS ke dunia arsitektur yang lebih luas.

 

Q: Satu kalimat untuk jalan-jalan ke Jepangnya, deh.

A: Pengalaman yang luar biasa dan semoga pengalaman luar biasa ini dapat dirasakan oleh adik-adik di yang lain.

 

Q: Terima kasih banyak atas waktunya, Firdi. Semoga sukses selalu dan bisa terus berbagi dan berkompetisi!

A: Sama –sama.