Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
1557347-uu-arsitek-620X310

Rooang.com | Arsitek, adalah profesi yang termasuk dalam sektor kreatif Indonesia, yang tentu saja berperan penting dalam pembangunan bangsa. Bahkan sejak tahun 1959, telah didirikan ikatan keprofesian Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai wadah untuk para arsitek.

Perkembangan wajah bangsa, tidak lepas dari peran arsitek. Terutama, bapak bangsa kita, Bung Karno, tak lain adalah seorang insinyur pembangunan yang disebut-sebut sebagai ‘arsitek bangsa’. Semenjak itu, istilah arsitek tidak hanya digunakan untuk perancang saja, namun sebagai idiom untuk kegiatan yang memajukan bangsa atau perihal tertentu. Misalnya, arsitek peradaban, arsitek bangsa, dan arsitek rumah tangga.

Pada momen peringatan sumpah pemuda ini, redaksi menjaring beberapa mimpi beberapa mahasiswa arsitektur bagi bangsanya. Menanggapi banyaknya tantangan bangsa, terutama di bidang ilmu arsitektur. Sebagai bibit-bibit pemimpin masa depan, mahasiswa sudah seharusnya memiliki mimpi yang tinggi dan pengabdian yang besar bagi bangsa. Mari kita simak mimpi mereka:

1. Irma Ayu, 21 tahun

20141029_103000

“Bagi saya seorang arsitek itu nggak boleh lupa sama identitasnya. Jadi, sudah seharusnya karya arsitek bangsa tidak melupakan identitas kebangsaan. Tidak semerta-merta meniru apa yang arsitek dunia lakukan. Harus ada citra Indonesia-nya. Mungkin bisa jadi terdapat langgam baru, seperti Tradisional Mengkini?”

2. Alfian Aziz, 18 tahun

20141029_104157

“Seorang arsitek itu punya peran dalam behaviour setting. Kita bisa merubah perilaku manusia lewat arsitektur. Misalnya, gampangnya kita bisa membuat sebuah pusat kreativitas untuk anak muda, secara tidak langsung menjadi trigger agar semua kalangan akan berkreasi secara kreatif untuk bangsa.”

3. Nerisha, 20 tahun

20141029_103510

“Menurut saya semua pembangunan ini terus bertambah. Tapi yang terpenting adalah lokalitas, dan bagaimana memanajemen pembangunan. Jadi misalnya terdapat perintah sentral dalam manajemen bangunan, hal seperti ini dapat menyaring bagaimana pembangunan terjadi dan tidak melupakan lokalitas.”

4. Nurul, 21 tahun

20141029_104846

“Globalisasi memang sudah tidak bisa dicegah. Banyak arsitek dunia masuk ke Indonesia, banyak arsitek Indonesia paham gaya-gaya dunia. Kita perlu benteng, benteng untuk mencegah pengaruh budaya dunia masuk ke Indonesia tanpa dikaji terlebih dahulu. Boleh jadi kita akan terus memajukan bangsa lewat arsitektur, tapi globalisasi bukan berarti budaya yang hilang, tapi lebih dikombinasi.

5. Cahyo, 22 tahun

20141029_104410

“Mungkin selagi masih jadi calon, kita boleh idealis ya. Kita nggak tau tantangan apa kalau sudah profesional nanti. Tapi semestinya, sebagai mereka yang menuntut ilmu di Indonesia, atau paling nggak berbangsa Indonesia, sudah sewajarnya memperhatikan bangsa. Bukan cuma arsitek sih, tapi dari semua bidang ilmu. Memperhatikan bangsa bukan melulu dari gaya arsitekturnya, tapi bisa lewat untuk siapa arsitekturnya. Misalnya banyak perancangan kota yang melupakan subjek menengah ke bawah, nah buat saya kebangsaan itu adalah untuk masyarakat. Memberikan arsitektur untuk masyarakat.”

Semoga mimpi-mimpi tersebut dapat diwujudkan ketika mereka menjadi arsitek profesional kelak. Bagaimana dengan mimpi anda?

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.