Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
IMG_0307

Rooang.com | Kali ini, redaksi Rooang berkesempatan mewawancarai Linda Widiachristy. Perempuan berjilbab yang akrab dipanggil Linda ini pernah menjabat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Sthapati Arsitektur ITS Surabaya. Simak wawancara singkat redaksi Rooang dengan Linda yang berbagi pengalamannya selama menimba ilmu di Negeri Kanguru, Australia.

 

Rooang (R): Halo, Linda! Bagaimana kabarnya? Bisa diceritakan sedikit tidak, mengapa bisa tiba-tiba ke Australia?

Linda (L):  Awalnya coba-coba berhadiah, hahaha. Saya mendengar berita dari teman kalau ada program workshop untuk mahasiswa arsitektur. Lokasinya di Darwin, Australia. Setelah itu diumumkan oleh jurusan saya dengan persyaratan tertentu. Akhirnya coba mendaftar dan ikut seleksi dengan dua keadaan: dapat beasiswa dari pemerintah Northern Territory (NT) atau ongkos kesana bayar sendiri, tetapi biaya workshop gratis. Lalu saya coba membuat motivation letter ke pemerintah NT dan akhirnya dapat beasiswa dari NT bersama 18 delegasi dari Indonesia lainnya. Biaya ke sana lumayan mahal, terutama juga untuk pengurusan visa. Nah, karena dibiayai penuh, jadi semuanya diurus oleh pemerintah NT. Saya tinggal berangkat saja.

 

R: Oh ya, apa nama acaranya? Lalu apa saja yang dilakukan selama workshop?

L: Nama workshopnya Archtropfix dengan tema Shaping Healthier Tropical City. Kita didampingi oleh 3 arsitek asal Indoneisa, yaitu Pak Gede Kresna, Pak Yori Antar dan Pak Antonius Ismael. Dari NT sendiri juga ada 3 arsitek yang beken disana yaitu Phil (Troppo arch), Sue, Peter. Sifat workshop ini untuk membandingkan antara arsitektur di Darwin dengan di Indonesia. Kota Darwin iklimnya sama dengan Indonesia. Jadi, kita banyak mendiskusikan tentang bagaimana memanfaatkan potensi alam dalam arsitektur dengan kondisi iklim tropis.

 

R: Di sana mendesain apa?

L: Project workshop yaitu mendesain Larakkia Healing Centre. Larakkia itu adalah salah satu suku aborigin yang ada di Darwin. Awalnya saya pikir akan membuat rumah sakit. Eh, ternyata yang dibuat itu “Indonesia” banget, Larakkia healing centre = rumah pengobatan dukun di Indonesia, hahaha… Jadi saya banyak bercerita tentang bagaimana hal-hal mistis dan juga kepercayaan yang ada di Indonesia dan teman-teman dari Darwin banyak yang heran karna di Australia tidak ada yang seperti itu.

 

R: Ada kegiatan yang lain?

L: Selain meriset healing centre, delegasi dari Indonesia diundang di NT Architect Award, semacam malam penganugrahaan ikatan arsitek di Australia. Dalam acara yang seperti pesta kebun itu, saya jadi tahu karya-karya arsitek Australia dan bisa bertemu orangnya langsung.

 

IMG_0304

 

IMG_0149
Oudyziea Ais Samodra yang juga delegasi dari Arsitektur ITS Surabaya.


IMG_0402

R: Apa saja sih, kesan selama ikut workshop?

L: Pertama, bahasa Inggris itu hal mutlak yang harus kita kuasai. Bukan cuma standar conversation saja, tetapi juga untuk diskusi ilmiah. Saya banyak merasa kesulitan dalam berdiskusi dengan teman-teman Australia dan akhirnya banyak berkomunikasi lewat sketsa. Kedua, orang australia sangat welcome dan ramah. Mereka juga punya selera humor yang aneh, hahahaha. Ketiga, dapat banyak ilmu dan wawasan baru! Selama workshop, kita dilarang memakai komputer, jadi semua outputnya memakai kertas dan bahan-bahan dari lokasi site.

 

IMG_0419

 

R: Selain itu, pergi ke mana saja selama di Darwin?

L: Kami tinggal di Charles Darwin University. Di sana, kami juga ke remains of Palmerston Town Hall, bangunan sisa yang masih ada pasca Cyclone Tracy. Tak lupa berkunjung ke Museum of Art, tempat pengadaan acara AIA award. Lalu ke St. Mary Primary School, salah satu bangunan aplikasi iklim tropis, dan Burnett house, rumah percontohan yang sesuai dengan cuaca di sana.
R: Wah, seru sekali ya, sepertinya, Linda. Terima kasih sudah mau berbagi pengalaman dengan Rooang. Sukses!

L: Sama-sama, Rooang.