Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
kursi-papasan

Rooang.com | Sama halnya seperti tren model rumah yang selalu berkembang, furnitur pun tidak mau kalah. Dari gaya klasik yang dekat dengan karakter kedaerahan dan seni, lalu merambah gaya yang lebih futuristik, modern, dan minimalis. Tetapi, ada satu tren yang tak lekang oleh waktu, yaitu kursi papasan. Untuk mengenal lebih dekat tentang kursi papasan, simak ulasannya berikut ini.

 

Sejarah dan Tren Kursi Papasan

 

Sejarah

Kursi papasan, atau biasa juga disebut dengan kursi mangkok, adalah model kursi bulat cekung. Kursi ini pertama diperkenalkan sekitar tahun 1950-an. Awalnya, kursi papasan berasal dari Asia, khususnya di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Kursi papasan rupanya disambut sangat baik oleh peminat furnitur dari berbagai belahan dunia, utamanya negara-negara Eropa dan Amerika. Pada periode yang sama, kursi papasan menjadi favorit di negara tersebut. Akhirnya, kursi ini pun juga diproduksi oleh produsen furnitur dari Barat.

 

Transformasi material

Pada saat pertama kali diproduksi, kursi papasan dibuat dari rotan, salah satu bahan baku khas Indonesia yang saat itu jumlahnya melimpah, harganya murah, dan bisa diperoleh dengan mudah. Selain rotan, kursi papasan juga dibuat dari bambu dan kayu.

Lambat laun, desainnya pun berkembang. Perlahan, rotan mulai digantikan oleh logam. Dilapisi dengan berbagai jenis kain, motif, dan material bantalan, sesuai minat setiap penggunanya yang beragam. Ada ratusan model dan motif material yang digunakan, terutama pada bagian pouf-nya. Bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kesukaan.

 

Transformasi bentuk

Bentuk dasar kursi papasan adalah bulat cekung dengan kaki yang juga bulat, membentuk semacam ruang kerangka rotan. Tapi, desain terus berkembang. Apalagi di Barat, setiap desainer furnitur berlomba menciptakan desain furnitur yang ergonomis, praktis, dan memaksimalkan fungsi tanpa mengesampingkan estetika.

Sejak periode 1970-an, orang-orang mulai mengembangkan desain dan bentuk kursi papasan. Lalu muncullah beragam desain kursi papasan. Mulai dari yang bisa dilipat dan bisa dibawa ke mana-mana, yang sangat lebar dan bisa dibuat tiduran oleh anak kecil, yang berbadan besar seperti sofa, berkaki runcing seperti stool, sampai bentuk yang terdiri atas jalinan benang-benang dengan bentuk mengerucut. Bahkan, kursi papasan juga tersedia dalam bentuk mini, dibuat khusus untuk anak-anak.

Belakangan, desainnya dibuat lebih modern dan kontemporer. Ada juga yang mengombinasikan kursi papasan dengan fungsi lain, yaitu sebagai rak buku. Bahkan, seorang desainer asal Eropa Timur merancang kursi papasan tanpa kaki, sehingga hanya terlihat seperti belahan bola. Lainnya memadukannya dengan kursi gantung dan kursi goyang.

 

Ragam nama kursi papasan

Sejak diperkenalkan ke Barat, kata ‘papasan’ memang kurang familiar. Karenanya, banyak yang menyebut kursi ini dengan moon chair, bowl chair, bucket chair, jackonary chair, atau sekadar big round chair. Tetapi, para desainer tetap menyebutnya dengan nama asli, yakni papasan chair.

 

Kursi mamasan

Ada kursi papasan, ada juga kursi mamasan. Kursi mamasan memang tidak setenar pendahulunya, tetapi memiliki desain yang kurang lebih sama. Kursi ini juga akhirnya banyak diproduksi dan diminati di luar negeri. Apa beda di antara keduanya? Sederhana. Kursi mamasan dirancang sebagai dudukan untuk 2 orang. Tapi, perkembangan desainnya memang tidak sepesat kursi papasan.

 

Perkembangan kursi papasan menunjukkan bahwa sepesat apapun perkembangan zaman, ternyata furnitur ini tetap eksis dan semakin dicintai. Harganya pun tidak kalah bersaing dengan furnitur minimalis dan canggih lainnya. Akhirnya, kursi ini menjadi salah satu kursi klasik yang bisa bertahan di antara gempuran gaya minimalis dan futuristik.

 

Sumber:
http://en.wikipedia.org
http://www.papasanchair.co.uk
http://www.homedit.com