Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
House-in-Kohoku-Torafu-Architects

Rooang.com | Jepang dikenal dengan arsitektur yang radikal, berani, dan berkarakter. Desain avant-garde ala Jepang telah menjadi doktrin yang menyebar di kalangan arsitek. Dengan mudah Jepang menarik perhatian dunia dengan menyajikan berbagai ciri khas yang tak pernah kita bayangkan dalam sebuah rumah. Apa rahasianya?

1. Radikal

House T - Hiroyuki Shinozaki

 

Dalam pembangunan rumah di Jepang, tidak ada aturan khusus yang mengikat dalam proses desain. Unsur yang paling diperhatikan adalah kekuatan, terkait dengan posisi Jepang yang rawan gempa dan angin topan. Hal ini mendorong arsitek untuk berani mengekspresikan banyak hal pada arsitekturnya.

Seperti: tangga tanpa railing, dinding transparan, atau bahkan pada wajah bangunan yang eksentrik. Penggunaan warna-warna monochrome juga menjadi ciri khas arsitektur radikal Jepang. Sehingga tanpa unsur ‘Jepang’ yang kental, kita sudah terdoktrin dengan ciri khasnya. Namun, apa rahasia yang mendorong para klien ‘mau’ untuk membangun hal-hal abstrak seperti ini?

2. Jepang yang Baru

Social Housing Oita

Negara Jepang membutuhkan pembangunan yang ekstracepat. Terlebih setelah bom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia, pembangunan rumah evakuasi cepat menjadi kebutuhan tingkat tinggi di Jepang. Penggunaan material ringan, ringkas, dan sederhana, menjadi ciri khas pembangunan karena kecepatan pembangunannya yang sangat efisien. Namun, ditabrakkan pada kondisi negara yang rawan gempa, angin topan, dan tsunami, penghancuran rumah demi rumah tak bisa dihindari karena basis strukturnya tidak memadai.

3. Bukan Penikmat Sejarah

House in Saijo

Pembangunan rumah baru di Jepang begitu pesat. Jarang sekali ada proyek pembangunan renovasi, atau restorasi. Ternyata, karena masyarakat Jepang tidak begitu menyukai hal-hal kuno! Sehingga, rumah seperti memiliki umur untuk kemudian dihancurkan dan membangun rumah baru. Dengan banyaknya kesempatan pembangunan rumah baru di Jepang, tentu saja menambah kesempatan munculnya ide-ide baru dan berbeda dalam pembangunannya.

4. Regulasi Setempat

House N

Pemerintah setempat tidak mengatur secara ketat mengenai perencanaan rumah, namun justru memberikan batasan umur pada rumah di Jepang. Kira-kira 20 tahun untuk bangunan kayu, dan 30 tahun untuk bangunan dari beton. Alastair Townsend, salah satu arsitek Jepang, mengemukakan bahwa rumah di Jepang adalah rumah sekali-pakai. Untuk itu, mengapa tidak membuatnya berbeda?

5. Susahnya Penjualan Rumah

House NA

Ketidaksukaan akan sejarah rupanya membawa beban pada kegiatan jual-beli properti di Jepang. Masyarakat umumnya tidak menyukai “pre-owned housesehingga tentu saja, yang dapat diperjualbelikan hanyalah sebuah tanah kosong siap bangun. Namun, hal ini masih memberikan sedikit harapan dengan “investasi fasad”, atau menggunakan desain yang unik dan berbeda pada wajah bangunan, untuk menambah nilai jual. Meskipun dalam proses jual belinya masih susah dijalankan. Dengan jumlah arsitek terbanyak di dunia, tentu saja Jepang menyanggupi kegiatan “investasi fasad” ini, bahkan menjadikannya lahan eksplorasi desain!

6. Ekonomi

Lucunya, dengan begitu banyak proses pembangunan rumah baru, dan penghancuran bangunan lama di Jepang yang membuat kebutuhan ekonomi meningkat. Kondisi ekonomi Jepang sudah menurun sejak 1980-an. Meski Jepang dalam kondisi yang tidak disarankan untuk menggunakan rumah sekali pakai, dan membangun yang baru, Jepang tidak malu-malu untuk terus memberikan inovasi dalam pembangunan rumah.

Indonesia pun sudah waktunya untuk beraksi menunjukkan ciri khasnya dalam desain rumah tinggal, agar dalam kesibukan yang semakin menjerat, ia tidak berubah menjadi rumah singgah.