Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
17

Roaang.com | Main air basah, main api hangus. Peribahasa itu mungkin sudah familier di telinga Anda. Artinya, segala sesuatu yang Anda lakukan pasti ada risikonya. Tapi, Rain Room rancangan desainer interaktif rAndom International di Barbican, London, ini adalah pengecualian. Di situ, para pengunjung bisa bermain hujan tanpa takut basah.

Berlokasi di galeri The Curve, Rain Room adalah karya seni instalasi berupa pancuran hujan yang mengucur terus-menerus. Para pengunjung bisa merasakan kelembaban di udara dan mendengar suara hujan, namun tetap tak tersentuh oleh tetesan air.

Kamera-kamera dipasang di sekitar ruangan untuk mendeteksi gerakan manusia, kemudian mengirim instruksi agar hujan turun terus-menerus menjauhi pengunjung.

rain room, London

Air menetes melalui kisi di lantai yang diperlakukan sedemikian rupa sebelum dikirim kembali ke langit-langit untuk jatuh kembali.

Dibentuk pada 2005 oleh mantan siswa Royal College of Art, yakni: Hannes Koch, Florian Ortkrass, dan Stuart Wood, rAndom International telah menciptakan sejumlah instalasi yang melibatkan partisipasi audiens.

Rain room, London

The Rain room, London

Rain Room adalah eksperimentasi pertama rAndom International yang disodorkan pada ruang publik luas, yakni The Curve di Barbican. Sebab, selama ini karya mereka ditampilkan pada skala yang lebih privat, baik dari ukuran maupun keterlibatan pihak lain. Namun, yang menjadi ciri karya mereka adalah selalu mengesktrak perilaku menarik para audiens.

Tawaran mereka untuk membuat hujan di dalam galeri tidak sampai mengganggu para kurator. Bahkan, tim kuratorial tidak berkedip sama sekali membayangkan Rain Room ini diwujudkan. Sebab, ini proyek yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bagaimana tidak? Proyek ini menghadirkan ribuan liter air di atas studio rekaman BBC, tepat di sebelah teater dan gedung konser di galeri seni publik.

The Rain Room, London

Rain Room in London

Ibaratnya, ini proyek untuk mengeksplorasi perilaku pengunjung, bagaimana mendorong mereka untuk keluar dari zona nyaman, mengekstraksi respon automatis mereka, serta bermain-main dengan intuisi.

Melalui Rain Room, para desainernya juga ingin menunjukkan pada pengunjung tentang peranan sains, teknologi, dan kejeniusan manusia dalam mempertahankan stabilitas lingkungan dengan melatih kemungkinan adaptasi manusia.

Rain Room in London

Meski hanya ditampilkan selama 6 bulan, yakni mulai 4 Oktober 2012 hingga 3 Maret 2013, namun tidak menutup kemungkinan proyek ini atau pengembangannya akan diterapkan di tempat lain. Di Indonesia mungkin? Apalagi sekarang lagi musim hujan.

Kita tunggu saja.