Reading Time: 3 minutes
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5
Loading...
sejarah-cat

Rooang.com | Pernahkah terpikir dalam benak Anda bagaimana asal-muasal munculnya cat tembok? Dibandingkan cat tembok pada zaman dahulu, cat tembok yang kita kenal sekarang telah mengalami banyak inovasi. Usut punya usut, ternyata dulunya cat tembok sempat dilarang karean dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama. Mengapa? Simak saja sejarahnya berikut ini.

Cat tembok pada masa sebelum masehi sampai abad XIII

Sejarah cat tembok diawali pada masa 38.000 tahun sebelum Masehi. Pada masa pra sejarah masyarakat Mesir mewarnai dinding dengan arang, tanah, dan darah binatang. Kemudian para ahli sejarah menemukan bahwa masyarakat Mesir kuno juga menambahkan warna biru dan hijau. Sementara itu, masyarakat Romawi dan Yunani menggunakan campuran timah dengan anggur dan cuka. Alat yang digunakan pun masih sangat sederhana, yakni ujung batang tumbuhan yang telah ditumbuk menjadi lembaran serat-serat seperti sapu.

Ratusan dan ribuan tahun berikutnya, orang-orang mulai menggunakan zat pewarna pada cat. Sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, orang-orang Mesir mengawali pencampuran warna dengan minyak dan lemak. Saat itu, bahan yang digunakan untuk mengecat adalah campuran kaca bumi dengan batu permata, timbal, tanah, dan darah binatang. Pada abad ke-13 akhirnya terbentuk serikat pekerja cat (tukang cat) yang mengesahkan standard pengecatan. Beberapa abad berikutnya, perkebangan teknologi memengaruhi inovasi proses pembuatan cat.

Pro-kontra penggunaan cat tembok di masa kolonial

Pada zaman kolonial Amerika Serikat, mengecat rumah dianggap sebagai tindakan yang melanggar norma-norma agama. Jika seseorang mengecat rumahnya, tembok dalam maupun luar, maka ia telah berdosa. Orang yang mengecat rumah adalah orang yang sombong dan berlebihan dalam urusan duniawi, bahkan dianggap hedonis. Peraturan ini bukan sekadar norma yang berlaku di masyarakat, tetapi juga disahkan dalam hukum agama yang berlaku saat itu. Orang yang melanggarnya, pendeta gereja sekalipun, harus dihukum.

Namun demikian, larangan itulah yang justru selalu membuat orang semakin tertarik. Semakin masyarakat dilarang mewarnai rumahnya, semakin besar keinginan mereka untuk mengecat. Bahkan, muncul gerakan/aliansi rahasia yang menyebarkan dan mengajarkan cara mengecat. Mereka menggunakan bahan-bahan alami seperti kuning telur, susu, cangkang kerang, kopi, jeruk lemon, dan bahkan nasi untuk mengecat tembok.

Inovasi bahan dan corak pada cat tembok

Barulah pada abad ke-17 orang-orang mulai menggunakan campuran air dan minyak pada bahan-bahan cat. Kedua bahan pelarut tersebut memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Untuk dinding dan langit-langit, mereka akan menggunakan cat berbahan dasar air. Sementara itu, cat berbahan dasar minyak digunakan untuk mengecat permukaan kayu.

Pada masa itu, masyarakat di Amerika Serikat menyukai corak yang memberi kesan mewah. Untuk itu, mereka menyewa tukang cat khusus yang mampu mengecat tembok dengan corak marmer, perunggu, atau kayu. Untuk warna langit-langit, mereka menyukai corak cat menyerupai langit asli dengan tebaran awan-awan putih.

Perkembangan teknik pengecatan

Penemuan penting mengenai teknik pengecatan lahir di tahun 1638. Ketika itu, sebuah toko penjual daging babi dicat ulang. Para pengecat memberikan cat dasar sebanyak 2 lapis, lalu melapisinya dengan cat akhir. Metode pengecatan inilah yang masih digunakan sampai sekarang. Para pengecat pada masa itu mencampurkan zat pewarna (pigmen) dengan minyak dan mortar untuk menghasilkan campuran yang lebih padat.

Proses penggilingan pigmen dengan minyak bertujuan agar pigmen bisa tercampur selarut mungkin dengan minyak. Sampai abad ke-18, proses ini dikerjakan secara manual oleh para pekerja. Akibatnya, banyak pekerja yang mati keracunan akibat bersinggungan langsung dengan timah putih. Cat berbahan timah sangat populer pada saat itu karena diyakini mampu bertahan selama ratusan tahun.

Kemudian, tempat produksi cat dilapisi dengan sistem penyaring udara untuk mengurangi jumlah bubuk timah yang terhirup. Dengan resiko kesehatan yang tinggi, sungguh mencengangkan bahwa pemerintah baru mengeluarkan larangan penggunaan timah sebagai bahan cat pada akhir tahun 1970-an.

Perkembangan cat tembok di era Revolusi Industri

Di abad 18, Inggris menjadi pusat inovasi dan teknologi industri pembuatan cat. Seorang warga Inggris bernama Marshall Smith menemukan alat pengaduk yang lebih efisien dan menghasilkan banyak cat dalam waktu relatif singkat. Entah bagaimana cara kerja mesin tersebut, namun hal ini memicu pesatnya industri cat di Inggris.

Bagaimana kelanjutan sejarah perkembangan cat tembok? Simak selengkapnya di Sejarah Panjang Munculnya Cat Tembok (Bagian II)
Sumber:
www.shearerpainting.com
mocomi.com
joepullaroinc.com