Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Andhi-Koesoemo

Rooang.com | Ia merasa berbakat sejak kecil, tepatnya kelas 4 SD. Ia suka menata rumah. Tangan mungilnya tak bisa diam. Selalu ada saja yang ia kerjakan secara mandiri. Dan, proses itu berlangsung alamiah.

Tak ia duga belasan tahun kemudian ia benar-benar menjalani profesi itu. Sebagai apa? Desainer event. Ini juga bagian dari desain interior, tapi dengan sifat yang temporer, cepat, berdasarkan durasi sebuah perhelatan.

Andhi Koesoemohariyadi, namanya. Berkarir sebagai desainer event, Andhi – sapaan akrabnya, melalui proses yang beragam. Sebagai anak yang lahir dari ayah seorang sarjana hukum dan ibu lulusan SMK, Andhi tidak benar-benar tumbuh dalam keluarga yang nyeni.

Namun, itu tidak menyurutkan keinginannya menggeluti dunia desain. Ia pun memilih kuliah di jurusan Desain Produk Institut Teknologi 10 November pada tahun 2000. Di sanalah, ia berjumpa dengan 190-an mahasiswa yang kurang lebih memiliki talenta sama dengannya. Di fase itulah, ia merasa mulai berkembang.

Sebagai anak muda yang terus mencari, ia sempat berpikir waktu itu, bisakah ia hidup dari desain? Namun, ia pantang berhenti berproses. Ia juga tidak menyesali sistem pendidikan Indonesia yang fokusnya baru di bangku kuliah. Banyaknya pelajaran yang diterima anak-anak Indonesia, menurut Andhi, membuat mereka tidak gampang menemukan keunikan dan menentukan yang diinginkan. Tapi, Andhi juga bersyukur bahwa beragamnya pelajaran itu membuat mereka menjadi lebih kreatif.

Setahun setelah lulus kuliah, ia bekerja di Quarzia, sebuah fashion clothing shop di Bali. Selama 2 tahun 3 bulan ia di sana. Pada Juni 2008, ia merantau ke Nigeria dan bekerja art director di Newton and David, Ltd. Ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang desain event. Bakat dan keterampilannya pun kian menemukan lokusnya di situ. Tak heran jika ia betah tinggal di Lagos, ibu kota Nigeria, selama hampir 6 tahun. pertengahan 2014, ia kembali ke Indonesia.

Tiwa-savage-Rufina-ogunlesi-Gozie-coker-Andhi-Koesoemo

Sebagai desainer event, Andhi terbiasa bekerja dalam tim. Meski ia menyadari bahwa desainer apa pun itu, memiliki ego yang besar. Namun, ia akan sebal jika harus bekerja dengan orang-orang yang memiliki etika kerja yang payah. Jika orang-orang itu bisa sampai merugikan perusahaan, Andhi tak segan-segan untuk memecatnya.

“Saat berkolaborasi dengan orang lain, dibutuhkan dedikasi yang setaraf dan bisa saling mengerti apa yang ada di pikiran masing-masing. Dan, yang paling penting, menurut saya, adalah saling menghargai.”

Selama wawancara dengan Rooang, Andhi berkali-kali menegaskan tentang pentingnya kejujuran dalam bekerja. Ia merasakan karirnya sebagai desainer event bisa berkembang bagus, dikarenakan oleh satu hal: kejujuran.

“Jika kamu jujur dan mencintai apa yang kamu lakukan, itu akan berujung pada kata sukses,” tegasnya.

Andhi yang saat ini sedang tidak ada kesibukan, mengakui kalau pencapaian terbesar ia selama menggeluti karir sebagai desainer event adalah acara Nigeria’s 100 years anniversary pada 2014. Acara tersebut dihadiri oleh 35 kepala negara, meskipun dari Indonesia tidak ada.

 

Kecintaan Andhi pada desain terletak pada proses kreatifnya. Saat bertemu dengan klien pertama kalinya, membahas ide desain, membuatnya, tantangan-tantangan selama prosesnya, dan menunjukkan hasilnya. Ketika klien menyatakan puas, itu puncak kenikmatan. Sebaliknya, jika klien menyatakan tidak puas, Andhi merasa itu momen yang berat. Ada perasaan terbebani.

Andhi berpijak pada prinsip bahwa desain itu harus mampu memecahkan masalah klien. Desain boleh saja indah, tapi juga harus fungsional. Di bidang event, misalnya, klien menginginkan event-nya yang berlangsung 1-5 jam itu akan mampu mengesankan khalayak, tamu, atau institusi bahwa mereka baik-baik saja. Klien ingin meyakinkan audiens bahwa mereka fine dan mampu menyelenggarakan event.

“Jika tujuan itu bisa dicapai oleh desainer event, itu oke,” katanya.

Desainer interior pun harus demikian. Harus ada komunikasi dengan klien, apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Ketidaksuksesan desainer adalah ketika ia tak bisa memecahkan permasalahan klien. Ketika di awal klien sudah dikecewakan, mereka tentu tidak akan sudi lagi memakai jasa si desainer untuk proyek berikutnya.

Apalagi dalam desain interior, interaksi manusianya di dalamnya tergolong tinggi. Sebab, interior memang ditujukan untuk jangka panjang. Jadi, banyak aspek yang harus dipikirkan. Jikalau si desainer tidak mampu berkomunikasi baik dengan klien, ini akan jadi masalah. Sekiranya tak bisa bertatap muka, komunikasi itu bisa dilakukan jarak jauh.

“Asalkan kita berdedikasi dan jujur,” ucap pria yang mengaku banyak terinspirasi dari Preston Bailey, Colin Cowie, juga David Stark ini.

Menurut pria yang kerap menggali ide lewat situs Houzz dan Pinterest ini, cara pendekatannya ke klien adalah problem solving. Jika urusan interior dapur klien bisa ia bereskan, misalnya, siapa tahu ruang-ruang lain di rumah sang klien dimintakan juga untuk dipermak.

Ia mengakui selama ini mendapatkan klien dari rekomendasi teman. Mouth to mouth.

“Kuncinya memang banyak bergaul, terutama dengan orang baru. Dari situ jejaring bermula, mulai dari buat konsep, pelaksanaan, hingga produksi,” pungkasnya.