Reading Time: 2 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
5

Rooang.com | Di kalangan pelaku industri kreatif, tren menjadi perbincangan yang sudah melekat erat. Tahun ini trennya, apa? Tahun depan, apa? Kira-kira, sepuluh tahun lagi seperti apa? Kendati tren bukan satu-satunya acuan bagi para creative junkie untuk berkarya, karena semua akan kembali pada selera, namun tak dimungkiri kalau kreativitas juga menciptakan budaya populer. Populer besar kemungkinan jadi tren.

Tahun 2014 yang baru saja kita tinggalkan itu telah meninggalkan rekam jejak berupa prakiraan tren 2015/2016. Dicetuskan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang saat itu dipimpin oleh Mari Elka Pangestu (di Kabinet Jokowi berubah jadi Kementerian Pariwisata), untuk pertama kalinya Indonesia melakukan riset Indonesia Trend Forecasting dengan mengangkat tema besar “Re+Habitat”. Tema ini diambil dari kata rehabilitation + habitat. Rehabilitation adalah kata lain dari ‘recovery’ alias pemulihan. Ini memandakan sebuah era baru yang lebih menenangkan, aman, stabil, dan cerah.

Rehabitat karena kita mencari ketenangan, keamanan, kestabilan, happinesquality of live. Karena sebetulnya kita memang sedang rehabitat, kita sedang mencari tempat yang baru untuk lebih happy, untuk lebih tenang dan tempat yang lingkungannya terjaga,” ungkap Mari Elka Pangestu.

Apresiasi Marie tersebut diungkapkan kepada para desainer. Merekalah yang akan menerjemahkan tema tersebut dengan menghubungkannya pada kearifan lokal yang dimiliki Indonesia. Lantas, para desainer mewujudkannya dalam desain kontemporer. Mari menambahkan bahwa tren ini berlaku untuk segala bidang desain, termasuk busana, grafis, interior, arsitektur, dan sebagainya.

Andhi Koesoemo, seorang desainer interior, yang telah 7 tahun berkarir di Nigeria, memberi pandangannya terkait tema Re+Habitat ini. Baginya, semua harus dikembalikan lagi pada ‘akar’. Artinya, terlepas dari tren, tiap desainer punya PR untuk mampu memecahkan masalah klien.

“Syukur-syukur klien bisa memberi imbalan yang setimpal pada desainer. Sehingga desainer bisa menyelesaikan permasalahan klien. Lebih-lebih bisa menyelesaikan permasalahan semua orang,” ungkap pria lulusan Institut Teknologi 10 Nopember ini.

Desainer yang memiliki spesialisasi di bidang desain event ini menambahkan. “Apalagi negara kita masih berkembang. Penerapan desain yang telah dirancang sedemikian rupa belum bisa seratus persen dilakukan. Meski tidak memungkiri bahwa di negara kita kebebasan masih ada dalam menciptakan sesuatu.”

Ada yang menganggap bahwa sekarang tren interior adalah human styling. Ada juga yang mengatakan trennya industrial. Andhi justru melihat bahwa akhir-akhir ini tren di dunia desain banyak dipengaruhi oleh media elektronik.

“Tidak seperti era 60-an, 70-an, atau 80-an. Pada era itu, tren benar-benar mendunia. Ini mungkin karena pada saat itu informasi tidak banyak. Ketika mereka melihat trennya seperti itu, dicontoh, jadinya terlihat seragam. Tapi, tidak di zaman sekarang yang trennya gampang berubah dengan cepat. Sebab, ini tergantung pada apa yang terjadi di dunia Barat dan Timur. Kadang melebur. Kita saling mencontoh,” jelas pria yang pernah menjadi Art Director di Newton and David, Ltd., perusahaan desain dan dekorasi event terkemuka di Nigeria, ini.

Memang, tema Re+Habitat ini juga terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan mulai dibuka kerannya pada Desember 2015. Tentu, para desainer dari luar akan leluasa keluar masuk Indonesia dengan membawa gaya desain masing-masing. Bagi Andhi Koesoemo, ini peluang sekaligus tantangan.

“Karena dunia akan jadi global village. Informasi akan mudah masuk sekaligus keluar. Semua yang kita cari cepat datang sekaligus cepat pergi. Kita sebagai desainer Indonesia harus punya ciri khas,” tegas pria yang kini domisili di Bali tersebut.