Reading Time: 2 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
110

Rooang.com | Karya arsitektur, khususnya hunian, tidak melulu menawarkan keindahan. Ia juga harus bisa memanusiakan manusia yang menempatinya. Terkait ini, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Munichy B Edrees, melayangkan kritiknya pada karya arsitektur Indonesia.

Dalam sebuah wawancara dengan Kompas, ia mengkritik kalau arsitek Indonesia malas berpikir. Sebab, mereka kerap membuat karya arsitektur yang hanya indah secara skluptural. Arsitektur hanya ditempatkan sebagai karya seni, yakni seni instalasi. Padahal ada manusia yang menghuninya.

Mengapa terjadi demikian? Menurut tenaga pengajar di Universitas Islam Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, kebanyakan karya arsitek Indonesia masih mengacu pada karya-karya arsitek mancanegara. Padahal Indonesia berbeda. Indonesia memiliki akar budaya yang menawarkan kekayaan inspirasi jika ingin menggalinya.

munichy

Lebih lanjut, pria kelahiran Yogyakarta 30 Juli 1952 ini menuturkan, bahwa sebuah karya arsitektur, khususnya menyangkut bangunan hunian, seharusnya memenuhi tujuh langkah. Ketujuh langkah itu, antara lain:

  1. Karya arsitektur tersebut fungsional dan bermanfaat bagi penghuninya.

  2. Memenuhi aspek estetika sehingga karya arsitektur tersebut enak dipandang mata.

  3. Karya arsitektur secara teknis dapat dibangun, dilihat dari sisi teknologi konstruksi, struktur, juga material bangunan.

  4. Karya arsitektur harus memenuhi unsur safety untuk dihuni, melindungi dan menyelamatkan penghuninya.

  5. Karya arsitektur harus nyaman

  6. Karya arsitektur tersebut harus kontekstual dengan lokasi di mana hunian tersebut dibangun.

  7. Karya arsitektur tersebut efisien, mudah, dan bisa dibangun

Ya, jika Sobat Rooang adalah salah satu orang yang sedang mendalami ilmu arsitektur, tak ada salahnya memegang erat 7 langkah yang dikemukakan oleh Munichy di atas. Semoga ke depannya, para arsitek Indonesia kian gigih untuk berpikir komprehensif, tidak sepotong-potong, dan tidak mengejar keindahan instalasi semata.