Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
1-vQmRd-5tfLol_cuVKTrizw

Rooang.com | Bagaimana jika selama ini pengetahuan kita tentang rumah tidaklah cukup? Bagaimana jika selama ini rumah kita ternyata tidak efisien, bahkan membuang dana jutaan rupiah? Mengapa?

Beberapa tahun lalu, sebuah kelompok studi antropologi dan arkeologi dari UCLA, melakukan sebuah penelitian tentang bagaimana kehidupan manusia berlangsung, dengan studi kasus di Amerika. Studi ini memberikan titik cerah pada kasus-kasus klise dalam permasalahan hunian masa kini.

Mengambil sampel 32 keluarga dengan tingkat ekonomi menengah, di area Los Angeles, dan mengobservasi kegiatan mereka sehari-hari yang melampaui stereotip tentang kegiatan-kegiatan yang terjadi dalam sebuah hunian. Studi ini menghasilkan sebuah buku berjudul “Life at Home in the 21st Century” atau kehidupan dalam sebuah hunian di abad 21. Yang menarik adalah, bagaimana peneliti menelusuri pergerakan keluarga setiap 10 menit dalam 2 minggu setiap siang dan malam, menganalisis bagaimana mereka berkegiatan di dalam rumah.

pusat kegiatan, UCLA

Hasil observasi menunjukkan hampir seluruh kegiatan berpusat pada ruang keluarga dan dapur. Sementara ruang makan dan ruang tamu, yang mengokupansi 50% lahan lantai dasar, hampir tidak pernah tersentuh. Selain itu, meskipun Los Angeles memiliki iklim yang cenderung kering, teras rumah pun bukan tempat favorit keluarga. Maka, berdasarkan data, apabila kira kira lahan hunian adalah 1.344 m², hanya 528 m² yang digunakan secara maksimal.

Penemuan ini menyoroti perselisihan yang terjadi antara fungsi dan desain. Seperti membeli kendaraan dengan spesifikasi tinggi hanya untuk menggunakan sensor kemacetannya. Rumah menjadi sebuah aset yang memakan waktu dan uang sekaligus, tanpa menyadari potensi-potensi yang dimilikinya.

housing stock, 2013

Utamanya, adalah mengenai lahan. Perbandingan penggunaan lahan dulu dan kini begitu berbeda. Pada tahun 1950, masyarakat Amerika menggunakan 292 m² sama dengan 1.065 m² sekarang. Terlihat bahwa gaya masyarakat adalah: semakin besar semakin baik. Meskipun pada akhirnya rumah hanya menjadi lahan penyimpanan barang, ketika kita keluar untuk membeli barang-barang lainnya.

Bagaimana jika kita melakukan pendekatan data pada proses mendesain? Bagaimana jika memulai dengan bagaimana kita hidup, dengan prioritas, dan siklus kehidupan seluruh aktivitas dan benda kita, untuk kemudian mengarah ke desain hunian untuk kehidupan kita?

frameworks

Ini adalah sebuah paradigma yang muncul untuk menggantikan arsitektur sebagai sekedar wajah. Dengan mempelajari arsitektur pada batasan-batasan objektif dimana efisiensi menjadi sumber estetika. Batasan-batasan objektif tersebut dihasilkan melalui studi frameworks, yang dihasilkan berdasarkan data-data pemilik, untuk kemudian diarahkan menjadi bentuk.

Sekarang, bagaimana jika kita mendesain rumah yang tepat untuk barang-barang yang memang kita gunakan? Bagaimana dapur kita akan terlihat dengan peralatan yang memang kita gunakan untuk memasak? Atau bagaimana built-in closet kita dengan pakaian yang memang kita kenakan?

Melihat keadaan dimana kita memiliki rumah yang melebihi kebutuhan kita, benda-benda yang melebihi kepentingan kita, dan perpindahan yang melebihi kegiatan dan kemampuan lingkungan, dan hal-hal lain yang berlebihan, data-driven design mengajak untuk melihat data dalam mendesain. Mengesampingkan tren, dan data ideal hunian, untuk kemudian membuat hunian yang tepat dan sesuai dengan kehidupan kita.

[Soflin, Zach. 2012. Data Driven Architecture.]