Reading Time: 2 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
rumah-daerah-pegunungan

Rooang.com | Rumah di dataran tinggi memang memiliki pesona yang luar biasa. Inilah mengapa banyak orang berlomba-lomba membangun villa maupun kawasan wisata dan bisnis di wilayah berkontur ini. Pemandangan alam yang indah serta udara yang sejuk adalah alasan utama seseorang mengincar kawasan tersebut. Tidak heran jika harga lahan di area ini semakin meroket.

Tetapi, selain memiliki banyak keunggulan, lahan di dataran tinggi juga memiliki banyak risiko. Risiko terbesarnya adalah longsor. Longsor tidak hanya bisa menimbun aset properti Anda yang berharga, tapi juga nyawa manusia. Karenanya, jika Anda ingin membangun rumah atau bangunan lain di area ini, perhatikan dulu hal-hal berikut.

1. Tingkat kemiringan

Semakin curam (mendekati vertikal) kemiringannya, maka potensi terjadinya longsor juga akan semakin besar. Kemiringan maksimal lahan yang bisa didirikan rumah di atasnya adalah 30°. Untuk kemiringan di atas 30°, Anda harus membuat retaining wall atau turap, yaitu dinding penahan tanah untuk meminimalisasi terjadinya longsor.

Cara yang belakangan paling banyak dipakai adalah cut and fill, yaitu mengeruk tanah untuk meratakan bagian yang curam. Cara ini bisa saja dilakukan. Tetapi, jika di kawasan yang sama hal ini terlalu sering diterapkan, maka berpotensi mengubah penampakan kontur dan berpotensi menimbulkan bencana alam.

2. Koefisien Dasar Bangunan

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) ditetapkan untuk menjaga jumlah area hijau dan kelestarian lingkuhan hidup di wilayah permukiman. Di wilayah yang datar, KDB-nya adalah 60% dengan area hijau 40%. Untuk daerah berkontur seperti perbukitan dan pegunungan, berlaku kebalikannya. Ini karena sifat tanah di lahan berkontur yang lebih rawan longsor, sehingga harus dipastikan bahwa luasan area hijau tetap tersedia dengan baik.

3. Daerah aliran air

Sebelum membali lahan atau bangunan di pegunungan, perhatikan apakah tempat tersebut masuk atau dekat dengan daerah aliran air. Daerah aliran air ini cukup berbahaya karena strukturnya lebih labil/mudah berubah. Tanahnya juga cenderung mengalami pergerakan terus-menerus, sehingga pembangunan di area ini tidak diperkenankan.

Daerah aliran air bisa diketahui dari bentuk lekukan. Jika Anda memandang dari kejauhan bahwa wilayah tersebut masuk dalam lekukan gunung, maka itulah termasuk daerah aliran air. Jangan pula membeli atau membangun di area di bawahnya karena lebih rawan longsor. Tetapi, jika Anda terlanjur membeli atau memiliki tanah di area ini, siasati dengan penanaman pohon berakar kuat untuk menahan agar tanah tidak mudah bergeser.

4. Fasilitas dan aksesibilitas

Tidak semua daerah di pegunungan memiliki akses yang mudah seperti di kota-kota wisata. Membangun rumah di lahan tersebut juga diperkirakan akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih tinggi. Risikonya pun lebih besar daripada membangun rumah di wilayah yang lebih datar.

Daerah pegunungan juga biasanya jauh dari berbagai fasilitas umum, seperti sarana pendidikan, sinyal telepon seluler dan internet, fasilitas kesehatan, maupun tempat pemenuhan kebutuhan pokok. Jika Anda membeli rumah dari pengembang, pastikan pengembang tersebut sudah menyiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan.

5. Harga dan biaya

Karena dalam membangunnya dibutuhkan banyak konstruksi khusus dan penambahan fasilitas, bisa dipastikan bahwa harga rumah di daerah pegunungan yang memiliki fasilitas memadai berharga sangat fantastis. Jadi, sebelumnya Anda harus membertimbangkan apakah biaya dan kebutuhan sudah sesuai.

Bagaimana? Masih berminat memiliki properti di wilayah pegunungan?