Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
garden-city-by-nicky-bay12

Rooang.com | Tren bangunan hijau akan semakin menguat ke depan. Produk-produk baru properti akan dirancang seperti itu. Dari segi biaya memang mahal, tapi memiliki efisiensi yang tinggi dari sisi operasional. Biaya operasional bangunan ramah lingkungan lebih murah karena meminimalkan penggunaan pendingin ruangan, lampu, serta pemakaian air daur ulang.

Salah satu negara yang gencar menerapkan konsep bangunan hijau adalah Singapura. Bahkan, negara kecil itu tengah membangun reputasi sebagai ‘kota kebun’. Pemerintah mendorong pengembang juga masyarakat untuk memaksimalkan area hijau, baik di bangunan permukiman maupun komersial. Tak heran jika urban farming pun jadi tren.

Konsultasi urban farming mulai bermunculan pada 2012 untuk membantu mendesain kebun sayuran di rumah, sekolah, dan area tersedia lainnya, semisal: rooftop dan lahan tidur di sekitar area permukiman. Misalnya, People’s Park Complex, sebuah bangunan di kawasan chinatown-nya Singapura. Di rooftop-nya dibikin kebun dan pop-up store yang disebut “nong” yang berarti “petani” dalam bahasa Tiongkok.

 

Selain itu, Singapore Management University (SMU) juga telah memprakarsai proyek bernama “GROW”. Langkah pertama yang ditempuh adalah mengkapling taman baru di luar gedung Fakultas Akuntansi dan Hukum sepanjang Queen Street. Tujuannya untuk menyokong kehidupan ramah lingkungan dan berkelanjutan di pusat kota.

Kebun yang terdiri dari sekitar 50 varietas tanaman tersebut akan dikelola oleh mahasiswa dan staf sukarelawan. Warga kota yang berminat juga bisa ikut serta dengan mendanai 30 kotak tanam. Per kotak tanam harganya 80 dolar Singapura.

Hasil dari urban farming ini akan digunakan dalam proyek, semisal SMU Challenge. Dalam proyek ini, para mahasiswa didorong untuk mendonasikan makanan dan barang-barang rumah tangga bagi mereka yang membutuhkan, khususnya keluarga dengan pendapatan rendah dan orang-orang lanjut usia.

Rektor SMU, Prof. Arnoud de Meyer, mengatakan, “Merawat kebun dan memberi perhatian penuh padanya mampu membawa seseorang pada hal mendasar yang penting bagi kehidupan. Kita perlu memproduksi makanan untuk tubuh dan jiwa kita. Dan sudah seharusnya kita berkontribusi pada penghijauan kota karena itu bagian dari tugas kita.”

Secara umum, warga perkotaan Singapura menyambut senang program penghijauan itu. Bahkan, seorang warga berkicau di Twitter, “This is another giant jackfruit we harvested today, which is the reward of Papa’s effort. There’s no word to descrive the taste of a home-grown jackfruit!” Kicauan ini lantas menarik perhatian yang luas di Singapura. Sebab, masih banyak warga yang belum percaya kalau nangka bisa tumbuh di dekat tempat tinggal mereka.

Pada bulan Juni 2014, Singapore’s Urban Redevelopment Authority menginisiasi program penghijauan yang disebut LUSH alias Landscaping for Urban Spaces and High-Rises. Program ini didesain untuk mendorong pembangunan area-area hijau, tidak hanya di wilayah permukiman, tapi juga perkantoran, mal, hotel, juga ruang-ruang terbuka.

Hingga saat ini, ada lebih dari 40 hektar ruang hijau di lingkungan perkotaan Singapura. Di bawah program LUSH 2.0, Singapore’s Urban Redevelopment Authority mengatakan bahwa area geografis penghijauan akan diperluas sehingga menutupi hampir seluruh wilayah Singapura.

Jika tujuan program LUSH tercapai, Singapura benar-benar akan menjadi “Kota Kebun” di Asia.

 

Sumber:

Front Page