Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
green-building-malaysia1

Rooang.com | Kali ini kita akan menengok Malaysia, negara tetangga yang sesekali berkonflik dengan kita, tapi nyatanya juga lebih maju dalam banyak hal. Salah satunya adalah komitmen mereka untuk menasionalisasikan sustainable architecture. Seperti yang Anda tahu, semakin dekat dengan ASEAN Economic Community (AEC), perekonomian negara-negara ASEAN pun makin menggeliat. AEC yang rencananya mulai digelar akhir tahun ini telah berimbas pada meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di kesebelas negara yang terlibat.

Mau tidak mau, langsung ataupun tidak langsung, aktivitas perekonomian ini tentu berdampak pada eko-efisiensi lingkungan. Pendirian area bisnis seperti kompleks perkantoran, mall, dan pemukiman akan mengurangi area hijau. Penggunaan perangkat bangunan, seperti pendingin udara, akan berimbas pada kebersihan udara. Belum lagi jumlah energi yang digunakan. Singapura sudah merespon isu ini dengan menerapkan standard green building sejak tahun 2005.

Sementara itu, Malaysia pun tak mau tertinggal. Green Building Index dibuat sebagai acuan pendirian bangunan dari sektor industri, perdagangan, maupun residensial. GBI merupakan lembaga sertifikasi dengan seperangkat alat untuk mengukur tingkat sustainability suatu karya arsitektur. GBI ini adalah satu-satunya perangkat pengukuran tingkat ‘hijaunya’ bangunan di ASEAN, selain Singapore Green Mark Scheme. Kalau Singapura lebih fokus pada penggunaan lahan, Malaysia justru memfokuskan standard green building pada ketersediaan air bersih dan penggunaan energi.

Salah satu bangunan pelopor yang lolos dan mendapatkan sertifikasi GBI dengan kategori platinum adalah S11, bangunan residensial yang didesain dan dimiliki oleh Dr. Tan Loke Mun. Rumah mewah ini menggunakan turbin angin sebagai sistem ventilasi dan panel surya untuk mendapatkan pasokan energi listrik. Sementara itu, proyek green building lainnya masih dalam perencanaan dan pengerjaan. Sebut saja megaproyek eco-city Iskandar yang terletak di sebelah selatan dengan total luas 3 kali lipat dari wilayah Singapura.

Iskandar rencananya akan memanfaatkan energi ‘hijau’ dan meminimalkan polusi, demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tata kota akan mencakup produksi energi yang bisa diperbarui serta daur ulang sampah.

Selain pada proyek pembangunan, komitmen pada green building juga diterapkan oleh sektor indutri home-living berteknologi tinggi. Misalnya berupa sensor gerak pendeteksi keberadaan manusia di suatu ruangan, toilet hemat air, serta teknologi lainnya yang dikendalikan oleh sistem manajemen bangunan pintar. Proyek besar-besaran dan ambisius ini mungkin terlihat mustahil. Namun, jika diamati lebih jauh, akan lebih mudah membangun kota baru dari awal, daripada merenovasi dan memperbaiki kota yang sudah ada dengan segala kesemrawutannya.

Dengan adanya percontohan kota hijau Iskandar, pemerintah Malaysia berharap daerah-daerah lainnya bisa mengikuti dan menjadi lebih sadar lingkungan. Selain diarahkan sebagai pusat pengembangan green-building dan proyek percontohan, pemerintah juga berharap mampu meningkatkan stabilitas dan kualitas hidup warganya.

Proyek  Eco-city, Iskandar
Perkembangan pembangunan Iskandar Eco-city

Namun semua rencana hanyalah rencana yang sangat mudah diusapkan. Mewujudkan rencana itu sendiri tidak hanya membutuhkan teknologi, tapi juga kesadaran masyarakat. Sejauh ini, sosialisasi green-building di Malaysia masih sebatas pada jajaran stakeholder dan top management. Artinya, masyarakat kelas menengah ke bawah dan semua orang awam perlu diedukasi akan pentingnya gaya hidup yang selaras dengan kondisi lingkungan. Ditambah lagi dengan perlunya regulasi yang mengatur berbagai aspek kehidupan, agar masyarakat lebih awas pada alam sekitarnya. Tanpa keterlibatan semua warga negara dan kesadaran mereka akan pentingnya alam yang sehat, mustahil ambisis besar tersebut bisa dicapai.

Malaysia sudah melangkah di depan. Kita kapan? Alangkah baiknya jika tidak hanya menunggu gerak pemerintah dan orang lain. Dimulai dari diri sendiri untuk mewujudkan green living. Setuju?

Sumber:
rsu.ac.th
Tampak luar S11
Panel surya dan turbin angin dari S11
Denah S11