Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
IM-Pei

Rooang.com | Bangunan megah nan modern berbentuk piramid di Paris, Prancis, ini tentu sudah tidak asing lagi buat Anda. Mereka yang berkunjung ke Paris, tidak hanya gegap gempita bisa berfoto dengan latar Menara Eiffel. Bangunan ini pun menjadi latar foto yang menandakan ‘I’ve been here: Paris’ tanpa perlu menulis keterangan Anda sedang berada di kota mode tersebut. Tapi, tahukan Anda, siapa arsitek di balik bangunan yang juga disangkutpautkan dengan secret societies, freemason, dan hal-hal berbau konspirasi ini?

Musee du Louvre 1

Dia adalah Ieoh Ming Pei. Namanya kerap diinisialkan dengan I. M. Pei. Lahir di Canton, China, pada 1917 ia kemudian hijrah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan kuliah arsitektur di MIT pada usia tujuh belas tahun. Lima tahun kemudian, tepatnya 1940, ia lulus dari MIT. Setelah lulus, dia mendapat penghargaan Alpha Rho Chi Medal, MIT Traveling Fellowship, dan AIA Gold Medal.

Pada 1942, Pei melanjutkan kuliahnya di Harvard Graduate School of Design dengan mentor Walter Gropius. Enam bulan kemudian, dia menjadi tenaga sukarela di National Defense Research Committee di Princeton. Pei kembali ke Harvard dua tahun kemudian dan menyelesaikan masternya pada 1946, sekalian dia mengajar sebagai asisten profesor di fakultasnya hingga 1948.

Dia dianugerahi Weelwright Traveling Fellowship oleh Harvard pada 1951 yang ia gunakan untuk traveling ke Inggris, Prancis, dan Yunani. Ia pun menjadi warga naturalisasi AS pada 1954.

Sejak 1948, ia bekerja di Webb & Knapp Inc. di New York. Ia menduduki posisi sebagai kepala divisi arsitektur hingga 1960. Pada tahun itulah, ia mengundurkan diri dan mendirikan perusahaan konsultan arsitekturnya, I. M. Pei & Partners di Kota Big Apple tersebut. Pada 1989, perusahaannya berubah jadi Pei, Cobb, Freed & Partners.

Pei memiliki karakter desain yang kuat dengan wujud abstrak dan material, seperti: batu, beton, kaca, dan baca. Kendati demikian, dia tidak percaya bahwa arsitektur harus menemukan bentuknya untuk mengekspresikan zamannya atau arsitektur harus lepas dari kepentingan komersial.

Setelah bertahun-tahun merancang bangunan berbahan beton, Pei lantas mendesain banyak bangunan kaca berteknologi tinggi. Dia kerap bekerja dalam skala besar dan dikenal luas dengan desain geometrisnya yang tajam. Hebatnya, bangunan-bangunan tersebut banyak yang benar-benar terwujud sesuai dengan konsep desain aslinya.

Salah satunya adalah proyek renovasi ‘Grand Louvre’ yang ia terima dari pemerintah Prancis pada 1983. Ia bahkan menjadi satu-satunya arsitek asing dalam proyek ini.

Musee du Louvre 2

“Salah satu alasan saya menerima tawaran ini adalah untuk tahu, kira-kira adakah sesuatu yang bisa saya lakukan. Louvre dibangun sejak abad ke-12. Pertama sebagai menara utama, kemudian sebagai istana. Masalahnya adalah bagaimana mengubahnya menjadi museum modern. Louvre memiliki banyak sekali ruang pameran, namun infrastrukturnya sangat kurang. Setelah melakukan tiga kali kunjungan ‘rahasia’, saya katakan ke diri saya, ‘Ya, saya akan mencobanya’.”

(Baca: Ini Dia 5 Piramida di Zaman Modern!)

Selain membuat dua courtyard yang dilingkupi kaca, desain Pei juga termasuk penggalian dua courtyards lainnya untuk menciptakan ruang penyimpanan dan infrastruktur. Desain piramida Pei sangat kontroversial dan mungkin 90 persen warga Paris menolak pada awalnya, meski demikian semua orang menyukainya. Bahkan, faktanya, Louvre menjadi salah satu tetenger (landmark) Paris selain Eiffel.

t

Musee du Louvre 7

“Piramida kaca adalah simbol yang mempertegas pintu masuk ke Louvre. Ia ditempatkan persis di pusat gravitasi dari tiga paviliun yang ada. Ia diasumsikan sebagai pintu masuk simbolis untuk kompleks bangunan yang luas, berkelok-kelok, dan tidak memiliki pusat,” ujar Pei.

Tapi, mengapa piramida? Mengapa bukan tabung atau kerucut? Pei menjelaskan.

“Secara formal, piramida adalah bentuk yang paling cocok dengan arsitektur Louvre. Piramida juga secara struktural merupakan bentuk yang paling stabil. Apalagi konstruksinya dari kaca dan baja. Ini sekaligus penanda jeda dengan tradisi lampau arsitektur. Ya, karena ini adalah zaman kita.”

Musee du Louvre 5

Musee du Louvre 6

Selain Musee du Louvre, laki-laki berusia 97 tahun ini juga arsitek di balik banyak bangunan hebat lainnya, semisal John F. Kennedy Library di Boston; National Gallery of Arts di Washington D.C.; Bank of China Tower di Hongkong, serta Museum of Islamic Art di Doha, Qatar.

Pei pada 1983 menerima Pritzker Prize yang disebut-sebut sebagai Hadiah Nobel di bidang arsitektur. Juri menyatakan, “Ieoh Ming Pei telah menyumbang ruang interior dan bentuk eksterior yang sangat indah untuk masa ini… Kecakapan dan keterampilannya dalam menggunakan material hampir mendekati level puisi.”

Uang sejumlah 100.000 dolar AS yang ia dapatkan lewat penghargaan ini, ia berikan dalam bentuk beasiswa bagi pelajar China yang kuliah arsitektur di AS. Namun, syaratnya mereka harus kembali untuk membangun China.

 

Sumber:

http://www.designboom.com

http://www.greatbuildings.com

http://www.pcf-p.com

http://en.wikipedia.org