Reading Time: 6 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
IMG_0635

Rooang.com | Matahari bersinar dengan cerah di langit Sidoarjo. Siang itu, redaksi Rooang mendapatkan kesempatan untuk berbincang santai bersama seorang arsitek asal Surabaya. Ialah Gayuh Budi Utomo, pemilik Studio Imajinasi Rumah. Bertempat di Pondok Mutiara Indah, Sidoarjo, perbincangan kami merembet seputar karya-karyanya hingga merembet ke permasalahan arsitektur di Indonesia saat ini. Mau tahu bagaimana serunya? Simak wawancara kami dengan Gayuh.

 

IMG_0682

Di depan rumah yang juga sekaligus studio mereka tersebut, Rooang disambut dengan pemandangan warna-warni stiker kaca film. Ruangan tersebut ternyata dijadikan area untuk “jagongan” atau ruangan untuk berkumpul. Yang menarik, dindingnya dipenuhi dengan pajangan sebuah merk mobil mainan dari berbagai seri.

Gayuh memang menyukai permainan warna. “Satu bangunan paling tidak ada 10 warna, lah,” ujar pria kelahiran 1976 ini pada Rooang. Hal itu juga ia terapkan pada desain mereka. Salah satunya, seperti kreasi balkon pelangi ini:

Lulusan Arsitektur Universitas Pembangunan Nasional Jawa Timur ini mendirikan studionya bersama sang istri, Dyan Agustin. Studio impian tersebut, mereka beri nama Studio Imajinasi Rumah.

Walaupun nama studio ini ialah “Studio Imajinasi Rumah”, namun ternyata tak hanya proyek rumah yang Gayuh dan rekan-rekan tangani. Jenis bangunan lain seperti sekolah, resort, rumah sakit bersalin, hingga monumen pernah dan sedang ia tangani.

R (Rooang): Selamat siang. Bisa Anda jelaskan sedikit tentang Studio ImaRu?

G (Gayuh): Selamat siang. Kami adalah sebuah studio arsitektur yang konsisten didalam mendesain dan selalu berbasis studi konsep. Hal ini bisa terlihat pada desain desain kami yang selalu segar dan personal. Saat ini kami juga fokus terhadap desain yang berwawasan lingkungan baik dari segi material pembentuknya ataupun dari segi geografi letaknya.

R: Bagaimana awal mula berdirinya Studio ImaRu ini?

G: Sejak memutuskan keluar dari biro jasa konstruksi (CV Karya Muda), tahun 2007 saya dan rekan-rekan membangun Studio ImaRu dari nol. Bahkan karir di biro konstruksi telah settle, menurut saya, waktu itu. Sebelumnya, studio ini berlokasi di kawasan Rungkut, hingga akhirnya karena beberapa pertimbangan, kami pindah ke Sidoarjo.

R: Apa proyek pertama yang ditangani?

G: Proyek pertama yang mereka jalankan ialah Bedah Rumah yang sempat ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

R: Apa saja prestasi yang pernah diraih bersama rekan-rekan?

G: Kami termasuk dalam nominasi lima terbaik Arsitektur Kontemporer yang diadakan Konsulat Jepang tahun 1999 dan nominasi Laras Awards 2012. Selain itu, kami pernah terlibat juga dalam proyek Renovasi Sekolah.

Gayuh aktif dalam acara gathering arsitek Surabaya dan Sidoarjo. Oleh karena itu, arsitek muda ini juga memiliki harapan, “Ke depannya saya ingin studio ini menjadi tempat gathering bagi para arsitek di Sidoarjo dan sekitarnya,” ujarnya, “Di lantai dua, menerus dengan ruangan ini, kami akan membuat tangga, dan di atas kami buat tempat berkumpul nantinya.”

R: Mengapa Anda lebih tertarik mengulik rumah?

G: Proyek desain rumah tinggal selalu menarik untuk diulik, didetail atau bahkan sampai diriset untuk memperoleh benang merah konsepnya. Kalau di bangunan besar, kita harus menghitung banyak hal. Kami banyak terinspirasi dari klien. Kebanyakan, ide muncul dari hasil diskusi dengan klien. Di setiap karya, kami selalu memberikan kuesioner untuk klien. Mencakup segala aktivitas klien. Karena sebuah rumah akan digunakan paling tidak dalam jangka 10–20 tahun. Nah, apalagi kalau klien adalah pasangan muda. Wah, kami ulik habis-habisan.

R: Apa saja proyek yang berkesan menurut Anda?

G: Nusantara diberi anugerah berupa paparan sinar matahari satu tahun yang full oleh Yang Maha Kuasa. Semuanya sudah diatur. Selama ini kesannya panas itu negatif. Padahal permainan bayangan dan sinar di siang hari begitu maksimal. Sebenarnya hal itu bisa dijadikan inspirasi dalam mendesain. Rumah bayangan ini adalah contohnya. Namun, Rumah Bayangan tersebut sekarang hanya tinggal ‘bayangan’.

R: Wah, menarik. Tinggal bayangan? Maksudnya? Bisa diceritakan lebih lanjut mengenai Rumah Bayangan tersebut?

G: Bayangan yang diambil ialah bayangan yang jatuh pada bulan Maret (ulang tahun istri), Mei (ulang tahun suami), dan Desember (ulang tahun pernikahan mereka). Kami menggunakan pipa untuk membentuk bayangan-bayangan dramatis tersebut. Tetapi saat ini desainnya ternyata telah diubah.

R: Oh, begitu. Namun, keren sekali idenya! Lalu, ada lagi kah proyek yang berkesan?

G: Rumah Bunga. Terinspirasi dari cerita klien. Awalnya kami menggunakan bunga Anggrek Bulan. Namun, aura yang tercipta sedih. Maka, kami menggantinya dengan Bunga Matahari, karena ia selalu menghadap matahari dan menghangatkan.

R: Ada lagi?

G: Kami pernah membuat karya yang diberi judul Rumah Aktif. Dulu, rumah bersifat pasif. Rumah Aktif ini memiliki public space. Sebenarnya, rumah selalu menjawab tantangan zaman. Dulu, rumah digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan. Ada juga gua, untuk berlindung dari serangan binatang buas. Selain itu, ada rumah pohon. Rumah adalah bagian dari aktivitas manusia.

R: Sejauh ini, publikasi karya-karya Anda melalui media apa saja?

G: Karya kami pernah dipublikasikan di majalah asal Thailand, B1. Karya tersebut berjudul The Officer House, atau rumah perwira. Di atas deknya terdapat ruang audiovisual yang dari luar terlihat seperti mobil rally. Kami mengangkat sisi kekhususan klien. Oh ya, karena saya mengagumi Frank O. Gehry, saya sangat senang karya saya bisa bersebelahan halaman dengan karya Gehry pada majalah tersebut.

IMG_0631

Vertical Barcode House dipublikasikan di archdaily.com.

Sedangkan The Officer House juga dipublikasikan di dezeen.com. Kemudian publikasi di website studio kami di imajinasirumah.blogspot.com dan Facebook pribadi. Lainnya, dua buku kami yang berjudul Seri Karya Arsitek 21 Rumah Imajinasi pada 2011, serta 21 Rumah Urban Studio Imajinasi Rumah pada 2014.

R: Oh ya, studio ini memiliki berapa karyawan?

G: Saat ini kami memiliki 5 karyawan. Dua arsitek, tiga di lapangan. Namun, semua karyawan di sini harus pernah ke lapangan. Harus meraba (material, red.) Di beberapa desain, kami kelola dengan beberapa pengembangan yang kami riset bersama.

Arsitek yang lebih suka mengendarai mobil ketika berkelana keliling Jawa, lebih tepatnya dari Surabaya ke Jakarta ini, sempat mengungkapkan sebuah percakapannya dengan kawan:

G: Ketika itu kami meriset tentang becak.

R: Mengapa becak? Apa hubungannya dengan arsitektur?

G: Itu sebabnya, karena seorang kawan yang saya temui berkata, “Becak di setiap kota saja bentuknya berbeda-beda, kok, arsitektur tidak?” Saya kemudian berpikir, “Oh, iya juga, ya.” Hal itu menjadi sebuah kritik untuk diri saya.

R: Menarik sekali. Boleh tahu tidak, Anda terinspirasi dari aliran apa?

G: Dekonstruksi. Bukan bentuknya, namun lebih ke merombak cara berpikir.

R: Kalau begitu, Anda menganut style dekonstruksi?

G: Arsitektur bertindak sebagai ilmu. Kami tidak berpihak pada style apapun.

R: Apa proyek yang sedang dikerjakan saat ini?

G: Saat ini kami sedang menggarap townhouse muslim modern.

R: Apakah selama ini sudah ada townhouse semacam itu?

G: Setahu saya belum ada. Sebenarnya jika kita hidup berdasarkan “buku petunjuk” (kitab suci, red.) bisa “green. Misalnya pemanfaatan air bekas wudhu pada landscape. Menarik.

R: Apa yang dapat Anda simpulkan selama berpraktek arsitektur?

G: 1) Iklim bisa menjadi bagian dari perjalanan arsitektur. Arsitektur tidak sekedar cantik dengan pencahayaan buatan di malam hari. Seharusnya, arsitektur bisa “menyala” di siang hari. 2) Jendela adalah elemen mutlak pada bangunan tropis. Seharusnya ia memiliki banyak fungsi. 3) Arsitektur di barat, berbasis geometri. Sedangkan, kita di Indonesia, seharusnya berarsitektur basis geografi. 4) Saya juga menemukan sebuah kesimpulan bahwa kenyamanan arsitektur tidak berbanding lurus dengan dimensi arsitektur.

Dari beberapa karyanya, bisa disimpulkan bahwa Gayuh suka sekali bermain dengan kata dan membolak-balikkan makna. Ia juga kadang bermain dengan kata-kata, seperti pada gambar berikut ini:

Di akhir wawancara mengenai Studio ImaRu, sosok yang ramah ini mempersilakan Rooang untuk masuk ke beberapa area pribadi di rumahnya, yang juga didesain dengan unik. Studio yang terletak di Perumahan Pondok Mutiara Indah Q-7 di bilangan Sidoarjo ini, jika diperhatikan lebih lanjut memiliki beberapa desain yang tidak biasa. Penasaran?

 

IMG_0675