Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
DSCN2165
Dekorasi untaian bunga yang menambah kecantikan bangunan

Rooang.com | Setiap menjejak tanah asing, maka kita akan menyerap beberapa hal yang mencolok. Bukan hanya di mata, melainkan di semua panca indra yang kita miliki. Hal inilah yang akan kita rasakan jika suatu saat kita pergi ke la Région Alsace, Prancis. Di Indonesia, région (baca: rezyiong) sepadan dengan provinsi. Menurut pengamatan penulis selaku pengajar bahasa Prancis, umumnya apabila kita membahas Prancis, pasti hanya sebatas Paris dan Menara Eiffel saja yang kita tahu. Tak ada yang lain, apalagi yang membahas mengenai Alsace.

Jika kita membuka peta, maka  La Région Alsace  letaknya berbatasan langsung dengan Jerman dan Swiss. Jadi, kita sah berkata bahwa orang Alsace hanya membutuhkan satu langkah untuk masuk ke Jerman ataupun Swiss. Di sana, kita bisa berkunjung ke kota-kota, seperti Strasbourg yang dikenal sebagai ibu kota Uni Eropa dan Colmar yang kerap disebut sebagai The Little Venice.

Salah satu hal yang mencolok di sana adalah penampakan rumah-rumah tradisional Alsace. Yang khas dari rumah tersebut adalah apa yang disebut colombage (baca: kolongbayz). Colombage adalah rangka rumah yang terbuat dari balok-balok kayu superkeras berkualitas tinggi. Umumnya rangka rumah tidak akan bisa dinikmati oleh mata karena tersembunyi plesteran semen, tapi pada rumah tersebut lain ceritanya. Mata kita bisa tercuci dengan indahnya formasi balok-balok tersebut yang umumnya berbentuk menyilang. Tekstur-tekstur balok kayu tua yang masih sangat ajeg pun dapat kita nikmati. Teknik rangka bangunan itu sangat apik bersanding dengan dinding-dinding beraneka warna. Seolah-olah kita tengah melintas dengan mesin waktu. Berjalan-jalan ke masa lampau.

Teknik konstruksi colombage telah digunakan oleh orang Alsace semenjak abad pertengahan, abad di mana generasi kita saat ini masih berupa perangkat lunak, belum dirakit perangkat kerasnya.

Di Strasbourg yang merupakan ikon dari La Région Alsace, kita bisa menemukan hampir di setiap sudut kota ada rumah tua yang masih asri dengan colombage-nya. Terutama jika kita berkunjung ke wilayah La Petite France. Hampir semua rumah di sana menggunakan colombage.

Karakter rumah dengan colombage
Karakter rumah dengan colombage

Jika kita berkunjung ke Colmar, maka maison à colombage akan terlihat lebih dahsyat lagi. Terutama kalau kita menyengajakan diri untuk menyusuri sungai jernih bernama Lauch dengan menggunakan perahu motor mungil. Daerah sepanjang sungai yang kita susuri tersebut dinamai La Petite Venise, yang katanya memang kurang lebih menyerupai Venesia yang terkenal dengan kanal-kanalnya. Kita bisa mengawali aktivitas susur sungai tersebut di sebuah dermaga kecil yang indah bukan main. Dermaga bersepuh bunga-bunga aneka warna.

Di sepanjang La Petite Venise, mata kita akan dimanjakan dengan sajian khas penggugah imajinasi. Tak lain dan tak bukan, sajian tersebut adalah maison à colombage dengan sentuhan warna-warna cerah, biru, berselang-seling kuning, dan juga merah. Rumah-rumah khas Alsace itu bertabur untaian bunga warna-warni yang teramat cantik bukan main.

Maison à colombage warna-warni
Maison à colombage warna-warni
Dekorasi untaian bunga yang menambah kecantikan bangunan
Dekorasi untaian bunga yang menambah kecantikan bangunan
Dermaga mungil La Petite Venise yang indah
Dermaga mungil La Petite Venise yang indah

Memang, karakteristik setiap bangunan yang ada di Eropa, khususnya maison à colombage yang terdapat di Alsace adalah penyatuan antara kekuatan berpadu dengan keindahan. Kekuatan pada bangunan-bangunan Eropa sudah tidak terbantahkan lagi. Nenek moyang mereka berhasil membangun rumah yang dapat bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Kekuatan yang ada pada kokohnya rangka balok kayu super berpadu dengan kelembutan dan keindahan warna-warni cat dan sepuhan bunga-bunga di sekitarnya membuat mata kita benar-benar tercuci.

Selain itu, ada satu hal yang unik. Saat itu penulis mendapatkan informasi dahsyat dari pemandu yang juga bertindak sebagai nakhoda perahu motor kecil tersebut. Dia mengatakan bahwa, dahulu kala ada sebuah kebiasaan yang sekarang tidak lagi dipakai. Penggunaan jendela berlubang hati. Jendela tersebut digunakan sebagai penanda adanya seorang gadis yang masih perawan.

Jendela berlubang hati sebagai tanda adanya gadis perawan
Jendela berlubang hati sebagai tanda adanya gadis perawan

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Prancis yang berbunyi, “Quand on achète une maison, on regarde les poutres; quand on prend une femme, il faut regarder la mère. Terjemahannya kurang lebih, “Jika kita membeli rumah, maka lihatlah rangka kayunya; jika kita ingin menikahi wanita, maka lihatlah ibunya.” Mungkin, pepatah tersebut mewakili cara berpikir orang Prancis dalam memandang sebuah rumah.

Semoga bermanfaat.