Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
rumah-di-pulau-bungin1

Rooang.com | Kira-kira di manakah kawasan terpadat di dunia? New York? Jakarta? Atau kota megapolitan lainnya? Kalau begitu Anda perlu datang ke Pulau Bungin, Nusa Tenggara Barat. Jumlah penduduknya memang tidak sepadat Jakarta, tapi di sini Anda akan menemukan permukiman yang sangat padat, nyaris tidak menyisakan lahan untuk tumbuh-tumbuhan. Kalau Anda pernah mendengar ada kambing yang makan kertas, kemungkinan besar kambing itu hidup di Pulau Bungin.

Pada tahun 1942, pulai kecil di sebelah utara Sumbawa ini hanya seluas 3 ha. Kini, luasnya sudah berkembang menjadi lebih dari 8,4 ha, akibat pengurukan terus-menerus. Jumlah penduduknya sekitar 3.400 jiwa. Adat masyarakat setempat mengizinkan warganya untuk ‘menambah’ ukuran pulau jadi semakin luas dari waktu ke waktu, agar mereka memiliki rumah. Di sini, karena tidak ada lahan tersisa, warganya harus menguruk laut dangkal dengan terumbu karang mata, lalu mereka akan membangun rumah panggung di atasnya. Berdasarkan kajian pengembangan kawasan Pulau Bungin pada tahun 2013, luas ini masih bisa ditambah lagi sebesar 4.8 ha, dengan catatan adanya arahan dari pemda terkait.

Permukiman dan jumlah penduduk yang sangat padat ini tentunya menjadi masalah tersendiri. Selain tidak adanya lahan kosong yang layak untuk tumbuhnya tanaman, kepadatan penduduk juga berdampak pada banyaknya sampah yang dihasilkan oleh warga. Dengan sedikitnya jumlah kontainer yang mengangkut sampah, penduduk tidak memiliki pilihan selain membuang sampah di sekitar rumahnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan banyaknya sampah di lautan sekitar, jika masalah sampah tersebut tidak segera diatasi.

image credit

image credit

Masalah lingkungan lain adalah pengerukan terumbu karang untuk memperluas Pulau Bungin. Seperti yang kita tahu, selama ini terumbu karang merupakan habitat hidup ikan-ikan di laut. Dikhawatirkan pengerukan ini akan mengurangi populasi terumbu karang yang ada di lautan sekitar dan merusak ekosistem laut di dalamnya. Sementara, masyarakat berdalih bahwa terumbu karang yang dikeruk adalah terumbu karang mati, sehingga tidak ada ikan hidup di dalamnya.

Meski sarat dengan sejumlah polemik, rumah-rumah Pulau Bungin sangatlah unik. Masyarakat tidak serta-merta mendirikan rumah di sana. Pasangan yang hendak menikah menguruk perairan sesuai ketentuan yang ada dengan ukuran bisa mencapai 6×12 meter persegi. Tidak perlu beli tanah seperti di berbagai daerah di dunia. Cukup memilih tempat di sekitar pulau, tandai dengan tiang bendera, lalu diuruk dengan karang. Setelah pengurukan selesai, barulah mereka menikah, lalu membangun rumah di atasnya. Meski diuruk, mereka masih menyisakan lahan air dangkal di samping rumah. Hal ini bertujuan agar perahu yang ‘diparkir’ di kolong rumah panggung bisa dengan mudah dibawa ke laut lepas saat mereka hendak melaut.

image credit

Yang membuat Pulau Bungin memiliki permukiman padat bukanlah barisan rumah mewah dengan tembok bata menjulang tinggi, melainkan rumah-rumah panggung sederhana. Meski sebagian rumah sudah menggunakan pondasi umpak sederhana, dinding yang digunakan bermaterial triplek, bilik bambu, dan kayu. Sementara material atap yang paling banyak dipakai adalah seng. Rumah-rumah ini dihubungkan oleh jalan kecil bukan aspal.

Dengan segala keunikannya, Pulau Bungin telah menjadi objek wisata yang menarik dan meningkatkan nilai tanahnya. Berinvestasi rumah di Pulau Bungin boleh dicoba, siapa tahu Anda bisa mengembangkannya jadi guesthouse atau homestay. Apalagi, menurut rencana, pemda setempat akan melengkapi dan menambah fasilitas PDAM, penyulingan air, penampungan sampah, drainase, pembangunan jalan, dan fasilitas vital lainnya. Berminat?

image credit

Sumber:
 travel.kompas.com
 www.pulausumbawanews.com
 www.antarantb.com
 benyaminlakitan.com
 www.tempo.co
 repository.uii.ac.id