Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
IMG_1205

Rooang.com | Bertempat di ROCA Restaurant Jl. Dr. Soetomo no. 79-81 Surabaya, ARTOTEL kembali mengundang para narablog pada Selasa, 17 Maret 2015. Jika format acara sebelumnya berupa Blogger Luncheon Gathering yang diikuti dengan tur kamar, maka kali ini berupa perkenalan General Manager baru mereka, Rendy Laurens.

Belum seminggu ia pindah dari Jakarta. Sebelumnya ia menjadi GM di hotel ‘tetangga’, ucapnya tanpa menyebutkan hotel yang dimaksud. Namun, Rendy sendiri sudah akrab dengan Surabaya. Sudah beberapa kali ia ke kota bisnis ini.

Rendy Laurens, GM Artotel Surabaya

Belum ada rencana-rencana ‘wah’ yang akan dia lakukan, apalagi sampai mendesain ulang Artotel, misalnya. Hanya berupa promo-promo yang dilakukan per 2 bulan sekali.

Artotel masih tetap mempertahankan desain yang lama. Sebagai boutique hotel bintang tiga, Artotel memang menawarkan pengalaman menginap yang berbeda.
“Saat ini di bisnis traveling, orang tidak lagi mencari hotel yang ada fasilitas kolam renang, spa, dan sejenisnya yang sudah lazim. Tapi, orang mencari hotel dengan suasana beda,” ungkap Rendy.

Jika dikaitkan dengan fenomena media sosial, saat ini, di mana orang senang mengunggah foto-foto, misalnya, maka suatu tempat bisa nge-hits jika instagrammable. Orang cenderung ingin berbagi dengan teman, rekan, keluarga, atau followers-nya mengenai tempat yang ia kunjungi. Tak terkecuali hotel. Jika hotel tersebut memiliki interior yang unik dan menarik, misalnya, itu menjadi nilai plus buat para penggila media sosial.

Artotel Surabaya

Artotel Surabaya

Artotel Surabaya

Artotel Surabaya

IMG_1247

Artotel melihat kecenderungan itu. Masing-masing kota di mana Artotel berada, yakni: Surabaya, Jakarta, dan Denpasar, menurut Rendy, menawarkan pengalaman yang tidak sama.

IMG_1248

IMG_1222

“Kita tidak punya template yang sama. Masing-masing memiliki ambience yang beda. Artotel Surabaya, misalnya, art-nya lebih kontemporer, sementara Jakarta lebih gahar. Art di Bali cenderung nice dan pleasure” ujarnya Angga Arya, sales manager Artotel Surabaya.

Artotel Surabaya, misalnya. Lobi hotel yang memiliki 106 kamar ini dijadikan galeri putar (rotating gallery). Suasana pun benar-benar seperti di galeri lukisan. Bahkan, para pengunjung non-tamu, misalnya mereka yang hanya sekadar ingin menikmati sajian di restorannya, pun bisa menikmati galeri tersebut tanpa canggung.

Artotel Surabaya

Lobi ini disebut galeri putar karena memang tiap tiga bulan sekali dipajang lukisan-lukisan yang berbeda. Ada tim yang mengurasi karya-karya seniman yang dipamerkan di sana. Di bawah art liaison manager, tim ini bekerja untuk menentukan tema apa yang akan disajikan lewat galeri putar tersebut.

Artotel Surabaya

Pada tiga bulan pertama tahun 2015 ini, misalnya. Tema yang diusung adalah Karya Kampoeng Kontemporer, yakni para seniman old school di Surabaya yang memiliki konsistensi dalam berkarya. Mereka, antara lain: Teddy Atom, Martin Hariyanto, Loyong Ruslam Abdulgani, Weldo, Zaenal Abidin, Widi, Guntoro, Bowo Aiwi, dan Agus “Koecink” Sukamto. Lukisan-lukisan ini akan diganti per 24 April 2015 nanti.

Artotel Surabaya

Uniknya lagi, lukisan-lukisan di lobi Artotel ini tidak sekadar dipajang. Jika ada peminat, entah itu pengunjung hotel maupun bukan, bisa membeli karya-karya tersebut.

“Banyak yang laku, kok. Banyak yang beli,” ujar Angga Arya.

Bagaimana, Sobat Rooang? Anda tertarik berkunjung ke Artotel dan merasakan atmosfer yang berbeda?