Reading Time: 2 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
maulana-murdan-434x434

Rooang.com | Para arsitek muda dan calon arsitek, siapkah Anda menghadapi persaingan global? Dari pengalaman Maulana Murdan, ternyata tantangan komunikasi dan perbedaan budaya, bukanlah suatu penghambat untuk berkarya di tingkat global, lho.

video credit

Seorang arsitek asal Indonesia bernama Maulana Murdan membuktikannya. Kini ia menjabat sebagai principal di Woods Bagot San Fransisco. Woods Bagot adalah sebuah perusahaan desain dan konsultasi global yang memiliki 15 studio di seluruh dunia. Woods Bagot sendiri memiliki spesialisasi desain bangunan super tinggi, dan memiliki beberapa proyek di Jakarta.

woodsbagot

 image credit

Sebelum pindah ke San Fransisco pada 2001, Maulana sempat bekerja di Singapura dan Hongkong, hingga akhirnya pada 2008 ia bekerja di Woods Bagot.

Alhamdullilah, pada tahun 2012, kantor kami menerima tawaran untuk membangun menara Telkom, dan sampai sekarang kami sudah dapat sekitar 6 proyek besar di Jakarta.” – Maulana Murdan

Proyek lain yang ditanganinya di Jakarta ialah Mega Kuningan, tempat tinggal dan hotel di Dharmawangsa, serta proyek reklamasi pulau di Jakarta Utara.

TheHundred_MIPIMAward_2
The Hundred, Mega Kuningan, Jakarta memenangi 2014 Bronze Award for Best Future Project di MIPIM Asia.

 image credit

TheHundred_MIPIMAward_hero
The Hundred, Mega Kuningan, Jakarta memenangi 2014 Bronze Award for Best Future Project di MIPIM Asia.

 image credit

(baca juga: Biro Arsitektur Indonesia Siap Masuki Pasar Terbuka ASEAN)

“Sebenarnya ini keinginan saya dari awal, saya ingin membangun Indonesia dengan semua expertise yang saya dapat lewat semua pengalaman, tidak penting saya ada di mana. Prinsip saya, kalau saya bisa ikut membangun Jakarta atau Indonesia umumnya, share my knowledge, itu sudah achievement sendiri buat saya.” – Maulana Murdan

maulana-murdan_20150507_074319

image credit

“Berkat pengetahuan luas Maulana tentang budaya dan orang-orang Indonesia, kami bisa membawa sesuatu yang unik dalam desain kami. Kami berharap desain kami sesuai dengan orang-orang yang menggunakan gedung tersebut atau ketika mereka melihat sebuah gedung di Jakarta, mereka merasa bahwa bangunan itu adalah bangunan dengan ciri Indonesia,” – Patrick Daly, direktur Woods Bagot San Fransisco.

(baca juga: Kiprah Arsitek Dunia Ciptakan Bangunan Penghasil Listrik)

Maulana, arsitek alumni Institut Teknologi Bandung ini memiliki prinsip keahlian yang diperoleh dari pengalaman lebih penting dari sekedar latar belakang pendidikan. Buktinya, ia berhasil menunjukkan bahwa lulusan Indonesia mampu bersaing di kancah internasional.

Sumber:
http://www.voaindonesia.com